logo rilis
Ini Alasan Kemenag Tunda Pelaksanaan Haji Tahun Ini
Kontributor
Nailin In Saroh
02 Juni 2020, 13:30 WIB
Ini Alasan Kemenag Tunda Pelaksanaan Haji Tahun Ini
Ilustrasi haji. ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi S.

RILIS.ID, Jakarta— Pemerintah melalui kementerian agama telah memutuskan untuk membatalkan ataupun menunda pelaksanaan keberangkatan ibadah haji di tahun 2020. Menteri Agama, Fachrul Razi menegaskan kebijakan ini diambil dengan alasan pemerintah ingin mengutamakan keselamatan jemaah di tengah pandemi Corona Virus Disease-19 (COVID-19) yang belum berakhir. 

Menag pun telah menerbitkan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 494 tahun 2020 tentang Pembatalan Keberangkatan Jemaah Haji pada Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1441H/2020M. 

“Sesuai amanat Undang-undang, selain mampu secara ekonomi dan fisik, kesehatan, keselamatan, dan keamanaan jemaah haji harus dijamin dan diutamakan. Sejak dari embarkasi atau debarkasi, dalam perjalanan, dan juga saat di Arab Saudi,” ujar Menag Fachrul kepada wartawan lewat teleconference di Jakarta, Selasa (2/6/2020).

Fachrul mengungkapkan, keputusan ini sudah melalui kajian mendalam terlebih dulu. Mengingat pandemi COVID-19 yang melanda hampir seluruh negara di dunia dapat mengancam keselamatan jemaah. 

"Agama sendiri mengajarkan, menjaga jiwa adalah kewajiban yang harus diutamakan. Ini semua menjadi dasar pertimbangan dalam menetapkan kebijakan," ungkapnya. 

Selain itu, kata Fachrul, Kemenag juga telah melakukan kajian literatur serta menghimpun sejumlah data dan informasi tentang haji di saat pandemi di masa-masa lalu. Didapatkan fakta bahwa penyelenggaraan ibadah haji pada masa terjadinya wabah menular, telah mengakibatkan tragedi kemanusiaan di mana puluhan ribu jemaah haji menjadi korban. 

"Tahun 1814 misalnya, saat terjadi wabah Thaun, tahun 1837 dan 1858 terjadi wabah epidemi, 1892 wabah kolera, 1987 wabah meningitis. Pada 1947, Menag Fathurrahman Kafrawi mengeluarkan Maklumat Kemenag No 4/1947 tentang Penghentian Ibadah Haji di Masa Perang," jelas Fachrul. 

Selain soal keselamatan, kata dia, kebijakan pembatalan ini juga diambil lantaran hingga saat ini Arab Saudi belum membuka akses layanan Penyelenggaraan Ibadah Haji 1441H/2020M. 

Akibatnya, pemerintah tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan persiapan dalam pelaksanaan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan kepada jemaah. Padahal menurut Fachrul, persiapan itu penting agar jemaah dapat menyelenggarakan ibadah secara aman dan nyaman.

“Waktu terus berjalan dan semakin mepet. Rencana awal kita, keberangkatan kloter pertama pada 26 Juni. Artinya, untuk persiapan terkait visa, penerbangan, dan layanan di Saudi tinggal beberapa hari lagi. Belum ditambah keharusan karantina 14 hari sebelum keberangkatan dan saat kedatangan. Padahal, akses layanan dari Saudi hingga saat ini belum ada kejelasan kapan mulai dibuka,” terangnya.

Jika jemaah haji dipaksakan berangkat, menurut Fachrul, ada risiko amat besar yaitu menyangkut keselamatan jiwa dan kesulitan ibadah. "Meski dipaksakan pun tidak mungkin karena Arab Saudi tak kunjung membuka akses,” kata Fachrul menambahkan. 

Fachrul menegaskan, pembatalan keberangkatan jemaah haji ini berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia (WNI). Artinya, pembatalan itu tidak hanya untuk jemaah yang menggunakan kuota haji pemerintah, baik reguler maupun khusus, tapi termasuk juga jemaah yang akan menggunakan visa haji mujamalah atau furada.

“Jadi tahun ini tidak ada pemberangkatan haji dari Indonesia bagi seluruh WNI,” pungkasnya. 

 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID