Inferioritas Ganda - RILIS.ID
Inferioritas Ganda
Mohammad Nasih
Rabu | 02/05/2018 23.15 WIB
Inferioritas Ganda
ILUSTRASI: Hafiz

RILIS.ID, – DI antara problema cukup mendasar yang dialami oleh bangsa Indonesia adalah mayoritas masyarakatnya mengidap penyakit rendah diri (baca: inferioritas) ganda. Dua inferioritas itu menyebabkan sebagian besar masyarakat menempatkan diri pada posisi rendah dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. 

Sebagian kalangan bahkan mengidapnya secara sangat akut, sampai pada taraf percaya bahwa ada bangsa-bangsa lain yang memang ditakdirkan sebagai ras unggul. Padahal sesungguhnya konstruksi paradigma tersebut memang sengaja diciptakan oleh bangsa-bangsa yang dianggap unggul itu, di samping untuk memperkuat kepercayaan diri generasi baru mereka sendiri, juga agar mereka bisa melakukan dominasi bahkan hegemoni terhadap bangsa-bangsa lain yang hendak dijajah untuk dieksploitasi.  

Khususnya bagi bangsa Indonesia, dua inferioritas tersebut terjadi dalam bidang yang berkait erat dengan ilmu pengetahuan sekuler dan teknologi, juga ilmu pengetahuan bidang agama. Dua bidang ini berpengaruh sangat penting dalam pembangunan paradigma masyarakat, karena ilmu pengetahuan merupakan kebutuhan mutlak untuk menopang kehidupan praktis, karena membuat urusan-urusan yang berkait dengan pemenuhan kebutuhan praktis dalam hidup menjadi lebih mudah. Kebutuhan kepada ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghadapi dunia yang sangat besar dan complicated ini, sangat mutlak diperlukan. 

Mereka yang bergelut di bidang ilmu pengetahuan dan tekonologi mengalami “kompleks rendah diri” disebabkan oleh pandangan bahwa Barat merupakan kiblatnya. Orang-orang kulit putih dipandang sebagai pemilik keunggulan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Faktor penjajahan yang terjadi atas Indonesia selama lebih dari tiga abad, berpengaruh sangat besar kepada kuatnya pandangan tersebut pada sebagian besar kalangan. 

Penjajahan yang terjadi dalam rentang waktu yang panjang dan menempatkan masyarakat pribumi pada posisi rendahan, menyebabkan konstruksi paradigma bahwa kaum penjajah adalah yang superior. Dan sesungguhnya itulah yang memang sengaja dibangun oleh kaum penjajah dengan menempatkan bangsa kulit putih pada posisi paling atas, disusul oleh Arab dan Cina, dan yang paling bawah adalah pribumi (inlander). 

Sayangnya, lebih banyak ilmuan yang sukses dalam pendidikan di negara-negara yang dianggap maju tersebut, tidak memperkuat nalar kritis. Berbeda dengan ilmuwan-ilmuwan Iran misalnya yang sama-sama belajar di negara-negara tersebut, kemudian menjadi sangat kritis dan bahkan kemudian melakukan perlawanan, dimulai dari perlawanan wacana sampai kepada aksi politik. 

Sedangkan dalam bidang agama, berkait erat dengan konstruksi Indonesia sebagai negara-bangsa yang religius. Dalam konteks tersebut, agama menjadi elemen yang sangat penting untuk membangun negara. Mayoritas penduduk Indonesia memeluk Islam yang bukan merupakan agama asli yang lahir di Indonesia, melainkan di Arab Saudi dengan kemutlakan kitab suci yang berbahasa Arab. 

Jika pun terdapat terjemahannya, tetapi teks aslinya yang berbahasa Arab harus tetap disertakan. Dan memang harus diakui bahwa tanpa memahami bahasa Arab dengan baik, maka tidak mungkin bisa memahami kitab suci agama Islam tersebut. Sebab, di antara mu’jizat Alquran terdapat dalam bahasanya yang jika dialihbahasakan menjadi jauh dari kesempurnaan. Ditambah lagi dengan sumber lain ajaran Islam, yakni sunah/hadis Nabi Muhammad yang juga dengan bahasa Arab.  

Di dalam bidang agama, karena itu, di samping ditambah dengan adanya stratifikasi sosial politik oleh kaum penjajah yang menempatkan bangsa Arab lebih tinggi, Timur Tengah menjadi kiblat keilmuan Islam. Sebagian besar masyarakat masih menganggap bahwa orang-orang yang mampu dengan baik berbahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang-orang yang memiliki keunggulan lebih dibandingkan ulama nusantara, karena mereka secara umum dianggap tidak memiliki kemahiran dalam praktek berbahasa sehari-hari, karena bukan bahasa ibu mereka. 

Kedua paradigma tersebut sesungguhnya merupakan “imajinasi negatif” yang melekat kuat di alam bawah sadar saja. Kemampuan bahasa sehari-hari sesungguhnya bisa dikatakan bukanlah penentu keunggulan. Sebab, kemampuan berbahasa untuk keperluan komunikasi sehari-hari hanyalah kebiasaan (habit) belaka. Bayi di Inggris dan negara-negara Eropa lainnya, juga Amerika, mahir berbahasa Inggris bahkan orang gilanya sekalipun. 

Demikian pula bayi dan orang gila di Arab Saudi, memiliki kemahiran berkomunikasi dengan bahasa Arab. Tidak sedikit ulama nusantara yang memiliki kapasitas keilmuan Islam yang diakui dunia, tetapi tidak mahir dalam berbahasa Arab sehari-hari. Namun, jangan pernah meragukan kapasitas mereka dalam memahami khazanah intelektual Islam, terutama yang klasik.

Karena itu, kepercayaan diri untuk membangun paradigma sebagai bangsa yang juga sama-sama unggul, baik dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga agama Islam, harus terus dipupuk. Dengan demikian, cepat atau lambat, penyakit rendah diri yang menyebabkan bangsa Indonesia dianggap sebagai bangsa yang berada pada posisi di belakang bisa dihilangkan.

Dan dengan segala potensi besar yang ada di dalamnya, bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang diperhitungkan, bahkan dijadikan sebagai teladan oleh bangsa-bangsa lain. Wallahu a’lam bi al-shawab.  


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID