logo rilis
Indonesia Perlu Miliki Undang-Undang Siber yang Lengkap
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
28 November 2020, 18:00 WIB
Indonesia Perlu Miliki Undang-Undang Siber yang Lengkap
Anggota Komisi I DPR RI Bachrodin Nasori. FOTO: Tangkapan layar Zoom

RILIS.ID, Jakarta— Indonesia harus segera memiliki undang-undang terkait siber yang komprehensif. Pasalnya, saat ini Indonesia masih ketinggalan dibandingkan dengan negara lain, terutama Amerika Serikat. 

Demikian disampaikan pakar telematika Roy Suryo dalam Seminar Merajut Nusantara dengan tema "Pemanfaatan TIK Sebagai Media Edukasi dan Bisnis" yang digelar secara daring melalui aplikasi Zoom, Sabtu (28/11/2020). 

Selain Roy Suryo, seminar ini juga dihadiri narasumber lainnya, yakni anggota Komisi I DPR RI Bachrudin Nasori dan Taufiq Hidayat dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). 

"Kita harus cepat (menyiapkan undang-undang siber). Kita tahu bahwa Indonesia ketinggalan jauh, dari Amerika misalnya. Di sana sudah jauh mengatur soal siber ini," kata Roy Suryo. 

Saat ini, kata dia, Indonesia baru memiliki Undang-Undang ITE. Namun, menurutnya, undang-undang tersebut masih banyak kekurangan. 

"Kenapa ini harus ada hukum lain, karena lingkupnya berbeda. Tapi imbasnya ada di dunia nyata," ujarnya. 

Roy menjelaskan, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) diibaratkan seperti pisau bermata dua, ada yang positif dan negatif. Hal itu terlihat dari maraknya kejahatan yang terjadi di dunia siber. 

"Jadi kita harus hati-hati. Kejahatan semakin berkembang seiring berkembangnya teknologi. Bahkan ada kasus kejahatan pencurian data. Ini sisi negatif dari teknologi. Ada juga hoaks. Kominfo juga terus melakukan take down terhadap informasi-informasi hoaks melalui online ini," ucap Roy. 

Meski begitu, mantan politisi Partai Demokrat itu juga mengungkapkan banyaknya dampak positif dari kemajuan TIK, untuk pendidikan dan juga bisnis. 

Ia berharap, berbagai pemerintah dan DPR bahu-membahu dalam merespons kebutuhan masyarakat terkait akses internet. 

"Tugas Komisi I nanti menyalurkan aspirasi kebutuhan terkait akses internet dari masyarakat. Yang bertanggung jawab memenuhi itu Kominfo," katanya.

Adapun narasumber lainnya, Kasubag Pemberitaan Kominfo, Taufiq Hidayat mengatakan, salah satu tahapan untuk merajut Nusantara adalah dengan membangun infrastruktur jaringan TIK secara merata. Menurutnya, hal itu yang selama ini terus dilakukan oleh Kominfo. 

"Pemerintahan Joko Widodo di masa pandemi ini mempercepat infrastruktur jaringan TIK, menyiapkan talenta digital, dan regulasi yang sedang dikejar Komisi I yaitu terkait Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi," jelas Taufiq. 

Dia mengatakan, berbagai upaya Kominfo dilakukan dalam merespons kemajuan teknologi. Di antaranya memberikan dukungan untuk bisnis sepertinya UMKM Go Online, startup digital dan yang lainnya. 

"Ini yang mulai 2020 kita kejar didukung teman-teman BAKTI Kominfo. Ada juga nanti pesantren digital, jagoan coding dan lainnya. Ini untuk menjaring inisiatif-inisiatif. Ada juga literasi digital, e-Tourism dan lainnya," ujar dia. 

Dia menuturkan, data menyebutkan bahwa transaksi bisnis digital mengalami peningkatan di masa pandemi COVID-19. Menurutnya, pemerintah juga bekerja keras untuk memenuhi akses internet ke seluruh pelosok negeri. 

"Selain memfasilitasi belanja juga memfasilitasi teman-teman yang punya kreativitas. Selain Zoom, kita juga menyediakan ciber kreasi. Ini adalah upaya untuk mendorong teman-teman semua yang ingin memanfaatkan teknologi informasi. Ada juga program stimulasi pelatihan digital. Kebetulan ada banyak ragam pelatihannya. Ada juga pelatihan pemasaran digital," paparnya.

Sementara itu, anggota Komisi I DPR RI, Bachrodin Nasori, mengatakan, BAKTI Kominfo memiliki tugas berat di masa pandemi COVID-19 ini. Pasalnya, banyak kegiatan yang dilakukan secara online, terutama siswa dan mahasiswa dalam belajar. 

"Dulu sebelum ada pandemi biasa-biasa saja. Sekarang harus ekstra kerja keras karena semua siswa dan mahasiswa belajar menggunakan TIK. Ini kerja berat BAKTI Kominfo. Saya berharap pandemi ini bisa memberikan hikmah bagi kita semua. Yang tadinya masyarakat tidak sadar dengan TIK, sekarang sudah dianggap kebutuhan," kata Bachrodin. 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID