logo rilis
Hilangkan Barang Bukti Penting, Dua Penyidik KPK Dinilai Bisa Dijerat Pidana
Kontributor

08 Oktober 2018, 23:15 WIB
Hilangkan Barang Bukti Penting, Dua Penyidik KPK Dinilai Bisa Dijerat Pidana
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman.

RILIS.ID, Jakarta— Mantan komisioner KPK, Bambang Widjajanto, mengatakan dua mantan penyidik KPK yang diduga merusak dan menghilangkan barang bukti catatan aliran dana suap milik salah satu tersangka kasus suap uji materi daging impor, Basuki Hariman, bisa dijerat pidana.

Menurutnya, jika memang benar keduanya telah merobek 19 catatan transaksi yang salah satunya dikabarkan mengalir ke Jenderal Tito Karnavian, maka itu adalah tindakan penyalahgunaan kewenangan atau setidaknya menggunakan kewenangan untuk kepentingan di luar KPK.

"Dapat dikualifikasi sebagai Pelanggaran Disiplin Berat sesuai Pasal 8 hurug g, l, dan n dari Peraturan KPK No. 10 Tahun 2016 tentang Disiplin Pegawai dan Penasihat KPK," kata Bambang dalam siaran pers diterima rilis.id pada Senin (10/8/2018).

"Jika merujuk pada Pasal 8 huruf s jo Pasal 11 peraturan di atas, tindakan itu dapat dikualifikasikan perbuatan yang dikatagorikan sebagai tindak pidana (setidaknya merintangi proses pemeeriksaan atau obstruction of justice)," tambahnya.

Menurut Bambang, sanksi pemulangan dua penyidik ke instansi asalnya itu bukan lah menjadi sanksi yang tepat. Ia menegaskan perlu ada langkah tindak lanjut dari KPK baik itu terhadap sanksi kedua penyidiknya itu maupun tindaklanjut kasusnya.

"Saya mendesak, Ketua KPK Agus Raharjo, tidak lagi bersilat lidah dengan menyatakan pemulangan itu merupakan bentuk sanksi berat," ujar dia.

Ia pun menegaskan saatnya dewan etik dibuat dan ditegakkan. Pasalnya Bambang mencium indikasi sebagian pimpinan KPK telah mengetahui kejahatan tersebut.

"Tapi justru menyembunyikannya dan berpura-pura tidak tahu atau setidaknya melakukan tindakan yang tidak patut yang seharusnya menegakkan nilai-nilai dasar KPK tapi justru mengingkarinya," ungkap dia.

Untuk diketahui, adapun dua orang penyidik yang ditarik itu yakni Roland Ronaldy dan Harun. Sementara barang bukti yang diduga ‎dirusak tersebut yaitu buku catatan keuangan CV Sumber Laut Perkasa, yang sebelumnya dibeberkan oleh staff keuangan CV SLP, Kumala Dewi saat pemeriksaan di KPK. 

Berdasar hasil investigasi sejumlah media yang tergabung dalam IndonesiaLeaks, dalam buku catatan itu terdapat sejumlah aliran uang ke mantan Kapolda Metro Jaya Tito Karnavian, yang saat ini menjabat sebagai Kapolri.

Kasus ini pun diketahui semakin rumit pasca penyidik KPK lain, Surya yang kehilangan laptop berisi copy buku catatan keuangan tersebut. Laptop itu dikabarkan dicuri oleh orang tak dikenal saat Surya pulang dari Yogyakarta pada April 2017 silam.

Editor:




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID