logo rilis
Hawking dan Tuhan
kontributor kontributor
Wawan Mattaliu
15 Maret 2018, 15:28 WIB
Pegiat seni dan budaya, bekerja sebagai Anggota DPRD Sulawesi Selatan.
Hawking dan Tuhan

HAWKING mati. Otaknya  tak lagi bekerja mengutuhkan kematian sejati tubuhnya yang telah sampai 53 tahun. Amyotropic Lateral Sclerosis telah membunuh tubuhnya sejak usia 21 tahun. Di luar otaknya, tak ada bahagian tubuh yang bisa di anggap hidup. Dan sepanjang itu pulalah dia menjadi manekin layu di atas kursi roda.

Tapi jujur saja -mungkin ini kejam-, saya ingin berterimakasih pada ALS yang telah membuat Hawking menjadi manusia yang terpisah dari siapa saja. Itu karena saya tak cukup yakin, kita akan bertemu dengan terma black hole dan light cones kalau saja dia bertubuh sempurna. Waktunya juga akan turut tersita oleh keremehan sebagaimana Einstein seharian membenci sweeter rajutannya yang berwarna coklat kotor. Atau energinya yang terkuras karena perdebatan panjang dengan Mileva ketika kabar tentang Elsa Lowenthal menyelinap di antara tangis Albert dan Eduard kecil.

Bagi saya, ALS akhirnya membawa Hawking pada puncak kontemplasi kosmologik. Otaknya hidup karena perdebatan-perdebatan teoritik yang belum terjawab. 

Dia meninggalkan agama di Big Bang. Semesta datang dari sesuatu yang tak berawal. Menafikan ruang dan waktu. Bahwa ledakan besarlah yang kemudian mengantar waktu dan ruang tiba di kita.
“Karena adanya  hukum alam, seperti gravitasi, semesta dapat mencipta dirinya sendiri dari ketiadaan… Tak perlu untuk menyeru pada Tuhan untuk menyalakan kertas biru dan mengatur alam semesta.” (Hawking: God did not create Universe, The Times)

Pernyataan serupa di berbagai tempat akhirnya melahirkan stempel atheis. Dan tentu itu adalah gegar yang tak saja menumbuhkan empati, tapi juga serapah.

Tapi sepertinya Hawking tak pernah punya waktu meriung di tengah polemik. Persis seperti dia tak punya waktu memikirkan nomor dan warna sepatu.

Dia tak punya masa mencemaskan dirinya. Di sepuluh tahun terakhir, kemanusiaan menjadi wilayah gugatannya. Kecerdasan artifisial yang disematkan ke robot mungkin bisa memudahkan hidup. Tapi bagi  Hawking, itu adalah bibit bencana pula. 

Tak itu saja, Hawking bahkan meninggalkan Shimon Peres di tahun 2013 di sebuah simposium untuk menegaskan keberpihakannya pada yang terbantai.

Dan di ujung hidupnya, dia mengeritik tajam Trump atas sikapnya yang menganggap pemanasan global itu sekedar hoax. Juga sikap trump yang refresif terhadap imigran.

Di ITV, Hawking menyampaikan gugatannya terhadap Trump secara terbuka, "Perubahan iklim adalah salah satu bahaya yang kita hadapi dan dapat kita cegah. Semuanya memberi dampak negatif bagi Amerika, dan berupaya mencegah itu dapat membuatnya memenangkan periode kedua [kepemimpinan]. Semoga Tuhan mencegahnya."

Hawking yang layu melawan Trump. Dia menyebut Tuhan di ujungnya. Mungkin itu semacam pernyataan atas kesadaran baru bahwa di luar fisika teoritik, masih ada zat yang bisa di tempati bersandar.

Dan atas itu, untuk Hawking, saya haturkan, innalillahi wa inna ilaihi radjiun.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID