Hari Pajak 2020: Tiga Dampak Besar COVID-19 yang Menyeret Indonesia ke Pusara Krisis - RILIS.ID
Hari Pajak 2020: Tiga Dampak Besar COVID-19 yang Menyeret Indonesia ke Pusara Krisis
Elvi R
Selasa | 14/07/2020 13.00 WIB
Hari Pajak 2020: Tiga Dampak Besar COVID-19 yang Menyeret Indonesia ke Pusara Krisis
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supartman

RILIS.ID, Jakarta – Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Suryo Utomo mengungkapkan tiga dampak besar pandemi COVID-19 yang berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia. Sehingga masuk dalam masa krisis.

“Gejolak ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19 ini menghantam Indonesia bagaikan sebuah perfect storm yang setidaknya memberi tiga dampak besar bagi perekonomian,” kata Suryo Utomo saat memperingati Hari Pajak 2020 yang bertema “Bangkit Bersama Pajak dengan Semangat Gotong Royong”, di Jakarta, Selasa (14/7/2020).

1. Konsumsi rumah tangga dan daya beli melorot

Suryo menyebut,dampak pertama adalah membuat konsumsi rumah tangga atau daya beli melorot. Padahal keduanya merupakan penopang 60 persen terhadap ekonomi, namun jatuh cukup dalam.

Hal ini dibuktikan dengan data dari BPS yang mencatatkan bahwa konsumsi rumah tangga turun dari 5,02 persen pada kuartal I 2019 ke 2,84 persen pada kuartal I tahun ini.

2. Ketidakpastian Berkepanjangan, berujung terhentinya usaha

Dampak kedua yaitu pandemi menimbulkan adanya ketidakpastian yang berkepanjangan sehingga investasi ikut melemah dan berimplikasi pada terhentinya usaha.

3. Dunia global ikut terdampak, ekspor loyo

Dampak ketiga adalah seluruh dunia mengalami pelemahan ekonomi sehingga menyebabkan harga komoditas turun dan ekspor Indonesia ke beberapa negara juga terhenti.

Suryo menyebut, gejolak ekonomi akibat COVID-19 menjadi momen yang bersejarah, karena berdampak pada pengelolaan keuangan negara. Hingga dilakukan perubahan APBN sebanyak dua kali dan upaya pemulihan ekonomi nasional.

Tak hanya itu, tekanan juga berimplikasi pada penerimaan pajak yang hingga semester I 2020 hanya mencapai Rp513,65 triliun atau 44,02 persen dari target berdasarkan Perpres 72 Tahun 2020 Rp1.198,8 triliun. Angka tersebut terkontraksi sampai 12,01 persen (yoy) dibanding periode sama tahun lalu yaitu Rp604,3 triliun.

“Pelemahan usaha dan perlambatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2020 ini terjadi cukup dalam sehingga berdampak juga pada penerimaan pajak kita,” ujarnya.

Di sisi lain Suryo optimis pemulihan ekonomi akan mulai terjadi pada triwulan III dan IV yakni salah satunya melalui peningkatan sinergi antara pemerintah dan para Wajib Pajak (WP) yang patuh membayar pajak.

“Kita tentunya berharap bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia dapat kembali tumbuh positif pada triwulan III dan selanjutnya,” katanya.


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID