logo rilis
Grafting Tingkatkan Tiga Kali Lipat Prodiktivitas Jambu Mete
Kontributor
Elvi R
27 Maret 2020, 14:57 WIB
Grafting Tingkatkan Tiga Kali Lipat Prodiktivitas Jambu Mete
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Jambu mete merupakan komoditas penting terutama di Kawasan Timur Indonesia. Luas areal perkebunan jambu mete di Indonesia 99,79 persen  adalah perkebunan rakyat dengan sentra produksi di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Timur. Pengembangan tanaman jambu mete mengalami peningkatan yang sangat pesat, yaitu pada 1975 dari 58.381 hektare dengan produksi 9.123 ton meningkat tajam menjadi 514.491 hektare dengan tingkat produksi 137.026 ton pada 2016. 

Begitu pula dengan volume ekspor dari 23 ton dengan nilai US$ 90 ribu pada 1977 menjadi 70.326 ton dengan nilai US$ 166.066.000 pada 2016  (Ditjenbun, 2017). Pesatnya pengembangan jambu mete tidak diiringi dengan peningkatan produktivitas yang signifikan. Tingkat produktivitas masih rendah yaitu 430 kilogram gelondong per hektare per tahun (Ditjenbun, 2017). Jauh dibawah produktivitas mete India yang telah mencapai 900 kilogram gelondong per hektare per tahun (Bhat et al., 2010), dan Nigeria 2.286 kilogram gelondong per hektare per tahun (Adeigbe et al., 2015). 

Rendahnya produktivitas tanaman jambu mete salah satunya disebabkan oleh bahan tanaman yang digunakan untuk pengembangan berasal dari biji dengan kualitas genetik rendah. Tanaman jambu mete mempunyai sifat menyerbuk silang (cross pollination) sehingga perbanyakan dengan biji akan menghasilkan keturunan dengan karakter fenotipik bervariasi yang tidak sama dengan induknya (Valencia et al., 2008), selain itu banyaknya tanaman yang sudah tua dan rusak. Pertanaman jambu mete yang sudah tua dan rusak pada tahun 2016 mencapai 82,054 hektare atau 15,98 persen dari total luas pertanaman jambu mete (Ditjenbun, 2017).

Upaya untuk meningkatkan produktivitas jambu mete adalah melalui kegiatan pengembangan, peremajaan dan rehabilitasi pertanaman jambu mete yang sudah tua (>30 tahun) dan rusak dengan penerapan teknologi penyambungan menggunakan varietas unggul yang disertai dengan penerapan teknologi budidaya yang baik dan benar sesuai Good Agriculture Practices (GAP). Penelitian penyambungan sudah banyak dihasilkan, baik penyambungan di pembibitan maupun langsung di lapang (top working). Tingkat keberhasilan penyambungan di pembibitan antara 80 – 90 persen, dan penyambungan langsung di lapang berkisar 70 – 86 persen.

Di India upaya untuk meningkatkan produktivitas jambu mete adalah dengan mengganti tanaman yang produktivitasnya rendah dengan benih dari varietas unggul hasil grafting, sehingga dapat meningkatkan produktivitas sebesar 100-140 persen (Yadav, 2010). Saat ini sudah dilepas 9 varietas unggul jambu mete dengan potensi produksi antara 5,97 sampai 37,44 kilogram gelondong per pohon per tahun atau rata-rata 16,70 kilogram gelondong per pohon per tahun. Apabila kegiatan pengembangan, peremajaan dan rehabilitasi menerapkan teknologi penyambungan menggunakan entres dari varietas unggul dengan populasi 100 tanaman per hektare, maka produktivitas jambu mete dapat ditingkatkan menjadi 1.670 kilogram gelondong per hektare per tahun atau meningkat 300 persen dari produktivitas saat ini yang baru mencapai 430 kilogram gelondong per hektare per tahun.

Sumber: Rudi Suryadi/BPT Rempah dan Obat/Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID