Gagasan dan Histeria Kekuasaan - RILIS.ID
Gagasan dan Histeria Kekuasaan
RILIS.ID
Minggu | 17/09/2017 15.22 WIB
Gagasan dan Histeria Kekuasaan

IDE atau gagasan merupakan sesuatu yang mahal. Bahkan, dalam situasi tertentu, sangat prestisius. Meski terkadang ide muncul secara spontan dan tiba-tiba, pada dasarnya ide merupakan produk dari daya nalar, pengalaman, dan kreativitas. Seseorang yang memiliki bakat intelektual kuat lebih potensial melahirkan ide atau gagasan besar dan efektif dibanding mereka yang kapasitas intelektualnya biasa-biasa saja. Nama-nama seperti Bill Gates, Mark Zuckerberg, dan Steve Jobs adalah beberapa di antaranya.

Demikian halnya dengan pengalaman. Selain membuat orang menjadi lebih bijaksana, pengalaman juga menyediakan banyak stok bahan baku yang dibutuhkan untuk melahirkan sebuah gagasan. Pengalaman merupakan referensi terbaik guna mendukung upaya untuk mengadopsi, memodifikasi, atau bahkan menciptakan gagasan yang sama sekali baru.

Begitu pun dengan daya kreativitas. Banyak gagasan yang muncul dari proses berpikir yang di luar kebiasaan (out of the box). Sering kali, cara berpikir yang monoton dan hanya mengikuti kebiasaan tidak melahirkan apa-apa kecuali repetisi dan stagnasi. Berbeda halnya dengan cara berpikir alternatif, melawan arus, dan kreatif. Hal-hal segar dan menarik kerap muncul dari situ. Cerita sukses perusahaan jasa transportasi daring yang berani membuat terobosan adalah salah satu contoh yang bisa kita saksikan bersama.

Singkatnya, ide atau gagasan merepresentasikan sedikitnya tiga hal, yakni kualitas intelektual, kematangan pengalaman, dan daya kreativitas. Artinya, seseorang yang mampu melahirkan ide brilian adalah orang yang cerdas, matang, dan kreatif. Dalam konteks inilah seseorang atau sekelompok orang berkepentingan untuk diakui sebagai pemilik ide atau gagasan tertentu, yaitu demi mendapatkan atribut positif yang melekat bersamanya.

Dalam politik citra, karya-karya monumental dalam bentuk kebijakan ataupun infrastruktur ikonik merupakan bukti paling nyata dari superioritas gagasan. Siapa yang mampu menghadirkan keduanya dalam skala yang megah dengan tingkat orisinalitas tinggi, maka dialah yang akan menjadi penanda sejarah.

Penghapusan kebijakan politik apartheid di Afrika Selatan, sekulerisasi di Turki, nasionalisasi perusahaan multinasional di Bolivia dan Venezuela adalah beberapa yang paling sering dibicarakan para politisi dan ahli kebijakan di berbagai benua. Di tempat yang lain, ketinggian Shanghai Tower di China, Abroj Al-Bait di Arab Saudi, dan Burj Al-Khalifa di Uni Emirat Arab banyak mendapat decak kagum masyarakat dunia. Begitu pun dengan kecanggihan pesawat tempur B2-Spirit buatan Amerika Serikat dan Tupolev TU-160 karya Rusia. Tak dapat lagi disangsikan bahwa orisinalitas kebijakan dan kecanggihan infrastruktur merupakan sarana utama untuk menaikkan citra.

Arti penting orisinalitas kebijakan dan kemegahan infrastruktur itulah yang menyebabkan histeria, khususnya pada elite politik kita. Perasaan tertekan, gelisah, dan cemas akan kegagalan dalam melahirkan kebijakan kreatif dan membangun infrastruktur ikonik terus menghantui para pemegang kuasa di seluruh cabang kekuasaan yang ada. Celakanya, kebijakan kreatif dan infrastruktur ikonik sebagai pusaka tak banyak tersedia, sementara kebutuhan akan suplemen citra tak bisa lagi ditunda. Pemilihan umum sudah di depan mata. Akibatnya, kegelisahan terasa di mana-mana dan kegilaan menjadi sangat kentara. Semoga Tuhan melindungi dan menyelamatkan bangsa dan negara kita dari kegelisahan yang merugikan dan kegilaan yang menyengsarakan.


Tags
#Gagasan
#Histeria Kekuasaan
#Arif Budiman
#Kolom
#Semburat
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID