Fraksi Demokrat DPR Minta Serapan Anggaran Kesehatan Dipercepat - RILIS.ID
Fraksi Demokrat DPR Minta Serapan Anggaran Kesehatan Dipercepat
Nailin In Saroh
Minggu | 12/07/2020 11.45 WIB
Fraksi Demokrat DPR Minta Serapan Anggaran Kesehatan Dipercepat
Fraksi Demokrat saat audiensi dengan Ikatan Dokter Indonesia. FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta – Ketua Fraksi Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono meminta pemerintah memalui kementerian terkait, mempercepat serapan anggapan kesehatan. Selain itu, distribusi peralatan kesehatan juga harus dimaksimalkan.

‘’Distribusi peralatan kesehatan, juga belum maksimal. Kami merasakan keprihatinan tenaga medis, bagaikan tentara di garis perbatasan yang hendak berperang tetapi tidak dibekali dengan senjata,’’ ujar Ibas dalam keterangan yang dimuat Minggu (12/7/2020).

Sebelumnya Fraksi Demokrat melakukan audiensi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan FPD di ruang rapat FPD Gedung Nusantara Lt 9, Senayan, Jakarta, Jumat (10/7/2020).

Legislator dari dapil Jatim VII itu menegaskan bahwa Fraksi Demokrat akan terus mengawal kebijakan penanganan COVID-19 yang belum sepenuhnya sesuai harapan. Penyerapan dana COVID-19 yang belum maksimal, juga disebutkan Ibas sebagai concern yang terus disampaikan kepada pemerintah.

Dalam kesempatan audiensi, Ketua IDI Dr Daeng M Faqih juga menjelaskan bahwa realisasi pencairan insentif untuk tenaga medis baru sebesar Rp437,3 miliar kepada 99.309 tenaga medis yang menangani COVID-19 per 2 Juli 2020. Rincian 99.309 orang yang menerima insentif ini terdiri dari 43.952 tenaga medis pusat dan 55.357 tenaga medis daerah.

‘’Angkanya baru mencapai 7,80 persen dari dana insentif yang dianggarkan pemerintah sebesar Rp5,6 triliun. Pemerintah mengalokasikan dana Rp3,7 triliun secara bertahap melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk insentif tenaga kesehatan di daerah dan Rp1,9 triliun untuk tenaga kesehatan di wilayah pusat serta santunan kematian sebesar Rp60 miliar. Untuk itu, perlu ada upaya akselerasi proses verifikasi pencairan insentif tenaga kesehatan,’’ kata Daeng.

IDI juga mengungkapkan bahwa kasus positif per 8 Juli bertambah 1.853 kasus baru yang merupakan angka tertinggi dengan total akumulatif mencapai 68.079 orang. Ada beberapa faktor yang mendorong kenaikan jumlah positif COVID-19 yang terkonfirmasi yaitu pemeriksaan orang yang datang ke rumah sakit dan orang yang terlacak dalam pelacakan dari kasus positif meningkat, ada peningkatan di lokasi tertentu, kemampuan laboratorium untuk memeriksa jumlah sampel meningkat.

IDI juga menilai proses diagnostik pada kasus COVID-19, sangat lamban. Hal inilah yang menjadi kelemahan penanganan COVID-19 di Indonesia. ‘’Kemampuan laboratorium masih sangat terbatas, sehingga antrean sampel yang sangat banyak membutuhkan waktu kisaran 1-2 minggu hingga sampel atau diagnosanya bisa diketahui. Persoalan ini mesti segera ada solusinya dalam menghadapi kondisi yang penuh keterbatasan,’’ kata Daeng. 

IDI juga menyampaikan, ketika pemerintah mulai melonggarkan pembatasan di berbagai wilayah, jumlah tenaga medis yang meninggal juga meningkat. IDI mencatat, 48 dokter tutup usia di tengah wabah hingga 8 Juli 2020.

Dalam kesempatan ini juga disampaikan keprihatinan terhadap munculnya kasus terbaru, yakni 200 orang Calon Perwira TNI AD di Jawa Barat yang positif Covid-19. Kasus lain, sebanyak 84 tenaga medis yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayapura, Kota Jayapura diketahui positif terinfeksi selama melayani pasien di RSUD Jayapura Maret hingga Juni 2020.


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID