Fakta Ini Buka Tabir Rekayasa Kecelakaan Setya Novanto - RILIS.ID
Fakta Ini Buka Tabir Rekayasa Kecelakaan Setya Novanto

Selasa | 03/04/2018 12.48 WIB
Fakta Ini Buka Tabir Rekayasa Kecelakaan Setya Novanto
Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Setya Novanto. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta – Meski sudah berselang beberapa bulan, namun tragedi kecelakaan Setya Novanto masih menarik perhatian. Pasalnya, di Persidangan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat terungkap bagaimana modus dan rekayasa dilakukan pihak Setya Novanto.

Berikut fakta-fakta membuka tabir rekayasa sakitnya Setya Novanto selama persidangan berlangsung:

1. Setya Novanto Bisa Bangun Sendiri saat Datang ke RS

Security Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Abdul Aziz memergoki Setya Novanto bisa bangun sendiri dari mobil, sesaat dipindahkan ke brankar atau tempat tidur RS.  

"Awalnya saya dari arah masjid mau ke lobi. Lalu saya dipanggil seseorang yang ternyata pengacara (Fredrich), awalnya saya kira sopir. Dia bilang 'Tolong pak, ini ada korban kecelakaan tolong dibantu'," ucap Abdul Aziz saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (2/4/2018).

2. Setya Novanto Tidak Pingsan Pascakecelakaan

Security di Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Abdul Aziz memastikan mantan Ketua DPR RI itu tidak pingsan pascakecelakaan sebelum menyerahkan diri ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada pertengahan November tahun lalu 

"‎Pasiennya tidak pingsan, saya yakin. Hal itu diketahui ketiak modem dia (Setnov) yang bulat itu jatuh. Dia berkata "Itu tolong wifi saya terjatuh'. Lalu Pak Purwadi (security) yang mengambil, diserahkan ke ajudannya," ungkap Abdul Aziz di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (2/4/2018).

3. Setya Novanto Tutup Sendiri Mukanya dengan Selimut

Security di Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Abdul Aziz melihat bahwa Novanto menutupi mukanya dengan selimut sendiri.

"Pasien sendiri yang tutup mukanya. Awalnya itu ajudannya hanya tutup selimut di badan saja. ‎Setelah saya antar ke ruang VIP lantai 3, saya bersama driver Roni turun bersama brankar untuk dikembalikan di depan IGD," ujar Abdul Aziz.

4. Bukan IGD Langsung ke Ruang VIP

Tak hanya itu saja, Abdul Aziz juga sempat heran. Sebab, biasanya pasien kecelakaan dibawa ke IGD. Namun untuk Novanto, ia langsung diminta ke lantai 3 ruang VIP, kamar 323.

"‎Karena korban kecelakaan saya mau arahkan ke IGD, tapi disuruh bawa ke VIP lantai 3. Lalu Saya, Roni dan ajudannya naik ke lantai 3," tutur Abdul Aziz.

5. Anak Buah Fredrich Yunadi Periksa Ruang Rawat sebelum Setya Novanto Kecelakaan

Dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau bernama dr. Alia, mengatakan, asisten Fredrich yang belakangan diketahuinya bernama Ahmad Rudiansyah, juga sempat mengambil foto ruangan yang akan ditempati Novanto nantinya.

"Pak Fredrich telepon saya tanya di mana, kemudian dia datang pas tahu saya di ruangan Pak Novanto di kamar VIP 323," ujar Alia.

Di saat itu Fredrich berpesan agar Novanto perlu dirawat dengan diagnosis kecelakaan. Alia pun mengaku heran sebab awalnya ia diberitahu bahwa Novanto diagnosis penyakitnya yakni hipertensi dan gangguan jantung.

"Saya bingung, belum tahu kondisi pasien, belum diperiksa (sudah diberitahu kalau kecelakaan). Tapi saya cuma (batin) dalam hati saja," katanya.

6. Fredrich Yunadi Minta Perawat RS Ubah Diagnosis Penyakit Setya Novanto menjadi Kecelakaan.

Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Medika Permata Hijau, dr. Michael Chia Cahaya mengaku pernah diminta oleh kuasa hukum Setya Novanto, Fredrich Yunadi yang saat itu masih menjadi kuasa hukum Setya Novanto untuk mengubah diagnosa penyakit kliennya ke diagnosa kecelakaan mobil. 

Kejadian ini dikatakannya terjadi pada pertengahan November dimana saat itu Setya Novanto berstatus DPO KPK.

"Waktu sesudah saya menghubungi dari Bimanesh saya cari-cari buku telepon yang ada di IGD saya cari-cari bapak ini memberikan nomornya pakai telepon genggam beliau. Saya hubungi dr. Bimanesh sebelum tersambung belum ada yang angkat lalu bapak ini (Fredrich) bilang ke saya ‘dok tolong dibuat keterangannya dengan kecelakaan mobil’. Saya kaget dibuat dengan kecelakaan mobil. Saya enggak mau," katanya di Sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (22/3/2018).

7. Kepala IGD RS Medika Permata Hijau Rasakan Kejanggalan

Dokter Michael sendiri merasa ada yang janggal dengan masuknya pasien Setya Novanto ke RS Medika Permata Hijau. 

Menurutnya ada beberapa hal yang aneh di matanya sejak awal. Pertama, pasien kecelakaan namun wujud pasiennya itu sendiri tidak ada. Kedua, memesan kamar VIP untuk pasien kecelakaan.

"Sudah biasa bagi pasien yang datang itu untuk keluarganya datang dulu untuk minta kamar misalnya suntik diare. Tapi pasien yang minta kamar dengan celakaan terus pasiennya sendiri nggak ada bagi saya aneh. Minta keterangan kecelakaan aneh terus nggak ada, logikanya itu aneh. Bagaimana mem-booking untuk sesuatu yang sifatnya musibah kecelakaan," paparnya.

Bahkan security RS bernama Abdul Aziz juga memastikan Setya Novanto dalam keadaan sadar dan tidak ada luka serius. Bahkan saat hakim menanyakan apakah Setya Novanto merintih kesakitan? Abdul Aziz menjawab tidak. Ia hanya melihat ada luka lecet kecil di keningnya.


8. Setya Novanto Minta Diperban Padahal Tidak Ada Luka Parah.

Dokter RS Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo rupanya juga membuat sedemikian rupa agar seolah-olah Setya Novanto mengalami kecelakaan hingga akhirnya perlu dirawat inap di RS Medika Permata Hijau. 

Bahkan, Bimanesh minta perawat agar luka di kepala Setya Novanto untuk diperban sebagaimana permintaan dari Setya Novanto. 

9. Infusan Setya Novanto Hanya Ditempel di Tangan

Supervisor keperawatan Rumah Sakit (RS) Medika Permata Hijau, Indri Astuti mengungkap bahwa dokter Bimanesh Sutarjo pernah menyuruhnya agar mantan Ketua DPR Setya Novanto tidak dimasukkan jarum infus melainkan hanya ditempel saja.

"Dokter Bima (Bimanesh) keluar, saya ikutin. Kami keluar dari kamar 323. Dokter Bima katakan pada saya, pasang infusnya ditempel aja," kata Indri saat bersaksi untuk Bimanesh selaku terdakwa merintangi penyidikan korupsi e-KTP, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (2/4/2018).

10. Luka Benjol Setya Novanto Hanya Sebesar Kuku Jari

Indri juga menyampaikan sepengetahuannya tak ada luka serius yang diderita Novanto layaknya korban kecelakaan. Namun memang setelah pemeriksaan yang kedua, timbul benjolan di dahinya tapi tidak sebesar bakpao.

"Setelah periksa baru timbul benjolan dua, ada dua benjolan, tapi benjolan sebesar kuku saya," kata dia

Editor


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID