Fahri Hamzah Urai Kekecewaanya Terhadap Presiden PKS - RILIS.ID
Fahri Hamzah Urai Kekecewaanya Terhadap Presiden PKS
Nailin In Saroh
Minggu | 24/06/2018 19.00 WIB
Fahri Hamzah Urai Kekecewaanya Terhadap Presiden PKS
Fahri Hamzah, FOTO: RILIS.ID

RILIS.ID, Jakarta – Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah, mengungkapkan kekecewaannya terhadap sepak terjang Presiden PKS Sohibul Iman dalam memimpin organisasi.

Sebagai kader Partai Dakwah, menurut Fadli, Sohibul bukannya menggalang persatuan dalam menghadapi Pilkada serentak dan Pemilu 2019 mendatang, justru malah menciptakan perpecahan di internal partai.

“Pimpinan seharusnya menggalang persatuan, bukan perpecahan, melakukan persekusi dan intimidasi. Aneh sekali. Mau ke mana kita?” ujar Fahri dalam pesan singkatnya yang diterima wartawan, Minggu (24/6/2018).

Wakil Ketua DPR RI itu juga mempertanyakan alasan Sohibul terkait rencana pemecatan beberapa kader senior di PKS. Sebab, kabar pemecatan tidak didasari sebab yang jelas. Padahal, kata Fahri, seharusnya semua diselesaikan dengan dialog, bukan perintah diam dan taat.

”Entah apa sebabnya. Tapi dugaan saya sama, ini soal perbedaan pendapat tentang situasi,” tegasnya.

Fahri menduga, Ramadhan 1439 H akan menjadi akhir konflik dalam tubuh PKS, termasuk setelah dirinya mencabut laporan Sohibul dari kepolisian. Namun kenyataannya, semua menjadi nampak rumit, karena selaku pimpinan Sohibul dinilainya makin ugal-ugalan, sehingga tidak nampak ada gejala islah dan rekonsiliasi.

"Aneh memang, maksud baik tak selalu dianggap baik. Niat baik tak selalu ditangkap dengan baik. Maka, mungkin ini isyarat dalam perjuangan bahwa kadang keinginan baik kita mesti dinomorduakan oleh kebenaran. Kita harus selalu bersikap benar,” papar Legislator asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu.

Fahri mengatakan, nampaknya pimpinan partai akan melakukan eksekusi besar-besaran kepada yang berseberangan dan berbeda pandangan. Padahal semestinya, lanjut Fahri, dimusim perang, situasi ini memerlukan konsolidasi dan menggalang mobilisasi.

“Padahal ini waktunya mengerahkan pasukan dan siapapun yang mau berperang. Tapi, malah di dalam ada yang memisahkan barisan dan mereka memproduksi istilah OSIN untuk orang sini dan OSAN untuk yang mereka yang dianggap melawan pimpinan partai. Orang sana,” pungkasnya.


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID