Esok yang Terakhir - RILIS.ID
Esok yang Terakhir
RILIS.ID
Selasa | 18/04/2017 17.37 WIB
Esok yang Terakhir

 

Senjaku kini menunggu sinarmu di ujung ufuk. Menatap indah lukisan semesta tanpa bisa meraihmu. Senjaku kini menunggumu tenggelam untuk terbit lagi hingga aku terlelap di ruang hampa dan lupa bahwa kau pernah ada di sudut hati. Entahlah. Mungkin tuhan menakdirkan kita untuk bertemu dalam sajak-sajak rindu hingga tak bisa mendekap hari bersama. Kutahu engkau selalu menerangiku tanpa bisa menggapaimu. Tetaplah tersenyum. Engkau cahaya lukisan semesta. Kusadari semakin kupalingkan wajahku dari ufuk itu, semakin lukisan senyummu terlihat begitu indah. Engkau memesona. Maka maafkan aku.

Sesunguhnya aku malu mengeluh padamu. Aku malu berkesah untukmu. Tapi jiwaku lemah. Karena itu, mohon maafmu jika membuatmu lelah. Terlebih kini yang ada di negaraku hanya janji dan pengkhianatan. Yang tersaji kini hanya pengusiran dan kemiskinan. Yang terberitakan kini hanya korporasi dan kebohongan. Yang diomongkan kini hanya kesombongan dan kepalsuan.

Inikah janji luhur demokrasi paling mahal se-Asia Tenggara? Inikah kreasi para begundal liberal yang ditopang tentara dan konglomerat serta dibenarkan terus-terusan oleh media dan mafia?

Sungguh inilah zaman edan. Ketidaktahuan dan limbo tak berkesudahan. Bagaimana mengakhirinya? Buka sejarah dan pahami maknanya. Karena itu, jika ingin tahu "gagasan Indonesia" yang subtantif, bacalah teks lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman. Kita tahu, ia adalah pejuang tangguh pengusir penjajahan Belanda. Kritik dan revolusinya dituangkan dalam buku "Perawan Desa." Sayangnya, buku itu disita, dilarang dan dibakar oleh pemerintah Belanda.

Saking seringnya bergerilya, W.R. Soepratman tidak beristri, serta tidak pernah mengangkat anak. Sewaktu tinggal di Makassar, ia memperoleh pelajaran musik dari kakak iparnya yaitu Willem van Eldik. Akhirnya pandai bermain biola dan kemudian bisa menggubah lagu. Ketika tinggal di Jakarta, ia membaca karangan dalam majalah Timbul yang menantang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan. Lalu, ia tertantang dan mulai menggubah lagu. Pada tahun 1924 lahirlah lagu Indonesia Raya, saat berada di Bandung, pada usia 21 tahun. Dan, pada malam penutupan Kongres Pemuda, tanggal 28 Oktober 1928, ia memperdengarkan lagu ciptaannya secara instrumental di depan peserta umum.

Pada saat itulah untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dikumandangkan di depan umum. Semua yang hadir terpukau mendengarnya. Dengan cepat lagu itu terkenal di kalangan pergerakan nasional. Apabila partai-partai politik mengadakan kongres, maka lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan. Lagu itu merupakan perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka, mandiri, modern dan martabatif.

Sesudah merdeka, lagu Indonesia Raya dijadikan lagu kebangsaan, lambang persatuan bangsa. Tetapi, pencipta lagu itu, Wage Roedolf Soepratman, tidak sempat menikmati hidup dalam suasana kemerdekaan. Hal ini karena ia meninggal umur 35 thn pada 17 Agustus 1938 karena sakit akibat penjara oleh Belanda. Pesannya sangat jelas: Bangunlah Jiwanya (mental, karakter, kepribadian) baru Bangunlah Badannya (infrastruktur, struktur, fisik).

Sayang, elite kita tak paham gagasannya. Tak mengerti idenya. Tak hirau pesannya. Mereka hanya tahu indonesia tapi tak mengerti "raya." Indonesia tanpa raya.

Elite ekopol hari ini taunya uang dan uang. Keuangan maha kuasa. Padahal kekuatan uang akan memangsa bangsa-bangsa di masa damai dan akan menentang adanya kedamaian di saat sulit. Uang lebih lalim dari monarki, lebih kurang ajar dari kleptokrasi, lebih egois dari birokrasi. Tapi mau bagaimana lagi? Habis sudah semua yang harusnya tak habis-habis.


Tags
#Nusantara
#Yudhie Haryono
#Indonesia Raya
#WR. Soepratman
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID