logo rilis
Elite, Kok Merakyat? Rakyat, Kok Elitis?
kontributor kontributor
M. Alfan Alfian
26 April 2018, 12:19 WIB
Doktor Ilmu Politik, Direktur Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional, Kepala Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa Akbar Tandjung Institute, dan Pengurus Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS).
Elite, Kok Merakyat? Rakyat, Kok Elitis?
ILUSTRASI: Hafiz

TUGAS saya sebagai penulis melanjutkan menulis. Tugas pembaca melacak lagi kolom sebelumnya, kalau mau menangkap konteksnya, duduk soalnya. Ini tulisan bukan ujug-ujug, kecuali lanjutan dari kolom yang lalu, “Satu Rakyat, Multimakna” (diunggah 16 Februari 2018).

Kita masih bicara populisme. Rujukannya Mudde dan Kaltwasser (2017) yang menyembulkan tiga kata kunci: rakyat, elite, dan kehendak umum. Soal rakyat sudah kita bahas. Dua kata lain menunggu giliran.

Masalah menunggu giliran, ingat saya mau disunat. Saya giliran yang ketiga, yang terakhir. Dua terdahulu sama-sama teriak, “Aduh sakit!” Sebagai penunggu giliran, teriakan itu seperti teror. Tapi kolom ini bukan ulasan tentang sunat. Kalaupun dikaitkan juga dengan sunat, rakyat sudah disunat duluan.

Giliran dua lainnya. Tapi sunat yang dimaksud ialah ulas, disunat ialah diulas. Kita bisa bikin definisi semacam itu, walaupun tak lazim. Bak polemik fiksi dan fiktif Rocky Gerung. Ketika Rocky mengatakan kitab suci adalah fiksi, maka definisi fiksi menurut dia memang lain ketimbang yang dianggap lazim.

Definisi ialah pembatasan. Semua orang bisa bikin pembatasan. Satu kata dibatasi maksud-maksud. Kendati demikian, suatu definisi tertentu belum tentu bisa disepakati yang lain. Apalagi, dalam hal kesepakatan para ilmuwan alias paradigma.

Pada tahun 1980, Emha Ainun Nadjib menulis kolom di Majalah Panji Masyarakat, “Garam, Kok Asin”. Jawabnya, karena memang ada kesepakatan umum bahwa kalau garam itu rasanya asin. Gula rasanya manis. 

Kendati konteks kolom Emha itu membeberkan kebesaran Tuhan, dari pertanyaan mengapa garam kok bisa asin, kita bisa berimajinasi bahwa kita bisa saja membalik dan berkampanye untuk menggantinya.

Kita bikin peraturan di rumah kita, “Sejak saat ini, siapapun yang masuk ke rumah saya harus mematuhi peraturan baru, bahwa garam rasanya manis, gula rasanya asin”. Maka terheran-heranlah para tetamu, dan mungkin untuk menghormati tuan rumah, terpaksalah ia mengatakan, “Wah masakannya hambar, kurang manis, tolong tambahkan garam sedikit!”

Kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran. Kata-kata yang diambil dari Adolf Hitler ini memang tengah populer sekarang. “If you tell a big enough lie and tell it frequently enough, it will be believed.” Ikhtiar memberi definisi baru, mungkin tidak dalam konteks ini. Tetapi tetap saja hadirnya suatu definisi lain dari yang dianggap lazim, kontroversial. Kecuali, manakala kita bersikap seperti tamu di atas.
 
***
Karena ruangan terbatas, kolom kali ini baru sampai pada pengantar menuju pembahasan soal elite. Pengantar menuju pembahasan ialah hal-hal yang perlu untuk diperbincangkan sekadarnya. Beberapa hal itu berdesakan “ikut nimbrung”, kalau dalam tinju bak partai tambahan, sebelum ke partai yang sebenarnya. Kadang juga seperti “trailer” suatu film yang sebelum filmnya diputar, dikomentari dulu, dibikin resensi dulu.

Sidang pembaca, kata elite sering kita dengar. Biasanya sebagai tandingan dari rakyat atau massa. Misalnya, ketika kita bilang, “Dia itu elitis”, maksudnya, “Dia itu kurang merakyat”. Golongan elite jumlahnya lebih sedikit ketimbang rakyat. Tetapi “elitis” sebagai kata sifat, bisa melekat ke siapa saja yang bergaya demikian. Misalnya, ketika kita bilang, “Jangan sok elitis”, kalimat itu bisa kita tambah, “Kalau hanya rakyat biasa”.

Pokoknya, elite beda dengan rakyat. Begitulah rumus bakunya. Maka, dalam pengertian paradokslah manakala kita mengatakan, “Elite kok merakyat?” Atau, “Rakyat, kok elitis?”

Dalam buku saya Wawasan Kepemimpinan Politik, terkutiplah masalah elite ini dari Tom Bottomore, Elite and Society (1964) bahwa kata elite telah digunakan sejak abad ke-17 untuk menggambarkan “barang-barang yang berkualitas sempurna”. Lantas, diperluas maknanya sebagai “kelompok-kelompok sosial yang unggul” seperti unit-unit militer kelas satu atau tingkatan bangsawan. Kata elite muncul di Oxford English Dictionary pada 1823, merujuk pada pengertian terakhir itu. 

Ilmuwan sosial yang memopulerkannya kembali, Vilfredo Pareto pada akhir Abad ke-19 di Eropa dan Gaetano Mosca pada 1930-an. Pengertian elite juga sering dilekatkan dalam teori oligarki. Pengertian mulanya oligarki ialah kekuasan atau organisasi politik yang dikuasai segelintir orang, setidaknya demikianlah merujuk Aristoteles dan kemudian Robert Michels. 

Dalam pengertian baru yang lebih menantang, Jeffrey Winters mengaitkannya dengan oligarki, sebagai individu-individu yang berkonflik atau bekerjasama dalam rangka mempertahankan pertahanan kekayaan (wealth defense) masing-masing.

Dalam wacana populisme, elite menjadi penting karena sejatinya mereka yang berkontestasi, karenanya satu sama lain berebut klaim, atas nama rakyat atau atas nama kehendak umum.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID