logo rilis
Dua Komisi DPR Minta Kejagung dan Polri Serius Tangani Kasus Impor Tekstil Ilegal
Kontributor
Nailin In Saroh
04 Juni 2020, 18:30 WIB
Dua Komisi DPR Minta Kejagung dan Polri Serius Tangani Kasus Impor Tekstil Ilegal
Anggota Komisi III DPR Eva Yuliana. FOTO: DPR RI

RILIS.ID, Jakarta— Komisi III DPR RI akan meminta penjelasan Jaksa Agung RI dan Kepolisian terkait pengusutan dugaan kasus korupsi penyalahgunaan kewenangan dalam importasi tekstil pada Dirjen Bea dan Cukai tahun 2018-2020. 

Tujuan komisi hukum DPR itu, ingin kedua institusi tersebut bekerja serius. Yakni kerja pengawasannya yang terukur, berdasar, akuntabel, transparan dan bebas kepentingan.

"Usai reses kita akan panggil mereka," ujar anggota Komisi III DPR RI, Eva Yuliana kepada wartawan di Jakarta, Kamis (4/6/2020) 

Eva menegaskan, tidak ada ruang bagi siapa pun untuk "bermain" atau mengambil keuntungan dari giat-giat penegakan hukum yang dilakukan oleh institusi Kejaksaan Agung maupun Polri. 

Politisi NasDem ini juga mendesak Kejaksaan Agung dan Mabes Polri serius menangani kasus impor tekstil premium ilegal. "Kejagung dan Bareskrim bisa kita hadirkan di DPR sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik dan transparansi penegakan hukum di Indonesia," tegas Eva. 

Legislator asal Solo, Jawa Tengah ini menambahkan, kasus impor ilegal melalui pelabuhan tikus di Batam sudah sering terjadi. Bahkan, Kemendag periode lalu sebenarnya sudah melakukan pengetatan, namun saat pandemi COVID-19 justru dijadikan celah oleh perusahaan yang tidak bertanggung jawab.

Menurut Eva, import ilegal tekstil ini jelas telah merugikan Indonesia. Pertama, negara tidak mendapatkan bea masuk dari produk tekstil ini. Kedua, ini merugikan industri tekstil dalam negeri, baik itu perusahaan maupun UMKM. 

"Apalagi di tengah pandemi COVID-19 industri tekstil tidak bergeliat seperti biasanya," ucapnya.

Eva pun berharap Kejaksaan Agung dan Bareskrim Polri dapat memberikan masukan bagi Bea Cukai dan Kementrian Perdagangan agar kasus serupa tidak terulang di kemudian hari. 

Seperti diketahui, dua rumah pejabat Bea Cukai di Batam digeledah tim penyidik Jampidsus Kejagung RI. Penggeledahan terhadap dua rumah milik petinggi Bea Cukai Batam ini merupakan tindak lanjut dari penyidikan kasus dugaan penyelundupan 27 kontainer berisi tekstil impor premium yang diamankan di Pelabuhan Tanjung Priok, Maret 2020 lalu. 

Seluruh kontainer bertolak dari Pelabuhan Batuampar, Batam. Dari 27 kontainer, faktur pengiriman menyebutkan 10 kontainer diimpor oleh satu perusahaan. Sementara itu, 17 kontainer lainnya diimpor oleh perusahaan lain asal Batam. 

Temuan 27 kontainer itu milik PT FIB (Flemings Indo Batam) dan PT PGP (Peter Garmindo Prima) oleh Bidang Penindakan dan Penyidikan (P2) KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok. Saat pemeriksaan didapati ketidaksesuaian mengenai jumlah dan jenis barang antara dokumen PPFTZ-01 Keluar dengan isi muatan hasil pemeriksaan fisik barang oleh Bidang P2 KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok. 

Kemudian setelah dihitung terdapat kelebihan fisik barang, masing-masing untuk PT PGP sebanyak 5.075 roll dan PT FIB sebanyak 3.075 roll. Dalam dokumen pengiriman disebutkan kain tersebut berasal dari Shanti Park, Myra Road, India dan kapal pengangkut berangkat dari Pelabuhan Nhava Sheva di Timur Mumbai, India.

"Namun faktanya kapal pengangkut tersebut tidak pernah singgah di India dan kain-kain tersebut ternyata berasal dari Cina," pungkasnya. 

Sebelum Eva dari Komisi III DPR, anggota Komisi XI DPR RI Fauzi H Amro juga menyesalkan adanya dugaan penyelundupan 27 kontainer tekstil premium ilegal yang diduga melibatkan sejumlah pejabat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Dia pun mendesak Kejaksaan Agung dan Bareskrim Mabes Polri segera membongkar kasus mafia impor barang tersebut. 

"Kami sangat mendukung upaya aparat penegak hukum untuk membongkar dan menindak siapa pun yang terlibat dalam mafia tekstil di Indonesia, termasuk yang menyeret sejumlah pejabat bea cukai Batam," kata Fauzi dalam keterangan kepada wartawan di Jakarta, Selasa (2/6/2020).

 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID