logo rilis
DPR: Jangan Ada Dikotomi Antara Mal Dibuka dan Masjid Ditutup
Kontributor
Nailin In Saroh
23 Mei 2020, 20:30 WIB
DPR: Jangan Ada Dikotomi Antara Mal Dibuka dan Masjid Ditutup
Anggota Komisi XI DPR Fraksi NasDem, Fauzi H Amro. FOTO: RILIS.ID

RILIS.ID, Jakarta— Satgas Lawan COVID-19 DPR RI mengapresiasi otoritas bandara terkait pelayanan penumpang yang sudah sesuai dengan protap saat melakukan sidak ke Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, di H-1 Lebaran Idul Fitri 2020, Sabtu (23/5/2020). 

Seperti diketahui, aktivitas penerbangan kembali dibuka setelah adanya pelonggaran transportasi saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak 9 Mei lalu. Selain bandara, pemerintah juga bakal melonggarkan aturan yang sama di pusat perbelanjaan mulai 5 Juni mendatang. 

Namun, sebagian kalangan merasa resah lantaran tempat ibadah urung jua dibuka. Masyarakat yang merasa wilayahnya masuk zona hijau pun memaksa ingin menggelar shalat Idul Fitri 2020 di masjid. Padahal, pemerintah melalui Kementerian Agama telah mengimbau untuk melangsungkan Shalat Ied di rumah bersama keluarga. 

Menanggapi hal tersebut, Deputi Koordinasi Satgas Daerah dari Satgas Lawan COVID-19 DPR RI, Fauzi H. Amro mengimbau agar jangan ada dikotomi antara dibukanya mal dan belum dibuka tempat ibadah seperti masjid. Sebab, keputusan dibuka mal demi menghidupkan lagi ekonomi yang kian meredup, dan tentu telah mempertimbangkan aspek keselamatan sesuai protokol COVID-19. 

"Enggak ada persoalan dikotomi antara  islam dan non islam. Kita melihat PSBB ini kan ingin masyarakat hidupnya lebih teratur, lebih tertib, lebih bersih dengan new normal. Walaupun masih ada pelonggaran di sana sini, ya ini dalam rangka perekonomian kita bisa hidup, perekonomian tidak stagnan dan tidak mati," ujar Fauzi usai sidak di Bandara Soetta, Sabtu (23/5).

Anggota Komisi XI DPR yang membidangi keuangan itu pun mengungkapkan, beberapa kali dirinya mengatakan bahwa lockdown atau karantina wilayah atau PSBB adalah intinya bagaimana bisa memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Karenanya, persoalan beribadah di masjid atau di rumah harus mengikuti anjuran pemerintah. 

"Kalau pemerintah melarang ya jangan. Kalau ada zona merah, zona hijau ya tinggal ditertibkan. Persoalannya masyarakat kita nih susah disiplin. Pasang masker aja malas, nah saya lihat aspek itu," ungkap Fauzi. 

Sementara persoalan mal dibuka, menurutnya, sudah dipertimbangkan pengaturannya sesuai dengan protokol COVID-19, yakni tetap berjarak minimal satu meter dan wajib menggunakan masker. Sedangkan, untuk shalat di masjid tentu masih perlu ada kajian kembali. 

"Mal dibuka dalam konteks protokol, kalau pun mau shalat kan harus jarak 1 meter. Tapi kan shalat harus rapat (shafnya). Kalau mal bisa diberlakukan seperti di bandara, melakukan protokol COVID-19, jarak satu meter kan nggak apa-apa.  Karena masuk hari ini, delapan bulan semenjak COVID-19 di Wuhan itu enggak ada vaksin, obatnya g ada. Jadi ilmuwan katakan seperti influenza seperti batuk," terang Fauzi. 

"Jadi tidak ada dikotomi antara mal dibuka dan masjid ditutup," kata politisi NasDem itu menambahkan.

 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID