Dian Paramita, Anak Muda Harus Lebih Peduli Politik - RILIS.ID
Dian Paramita, Anak Muda Harus Lebih Peduli Politik

Jumat | 26/05/2017 15.01 WIB
Dian Paramita, Anak Muda Harus Lebih Peduli Politik
Dian Paramita.

Hasil riset WeAreSocial yang dirilis Januari 2017, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta, dengan 106 juta di antaranya aktif mengakses media sosial. Karena jumlahnya yang masif dengan intensitas yang aktif, media sosial terutama Facebook dan Twitter menjadi media yang efektif untuk menentukan arah opini publik dan menghimpun gerakan sosial.
 
Dian Paramita, pemilik akun twitter @dianparamita dengan jumlah pengikut mencapai lebih dari 35.000, menyadari betul kondisi ini. Akun Twitter, Facebook, dan Blog-nya menjadi ruang menyampaikan gagasan dan sikap politik pribadi. Sikapnya itu kemudian dibaca, direspons, dan disebarkan oleh banyak orang. Bahkan, beberapa postingannya yang viral menjadi bahan liputan media.
 
Salah satu misalnya adalah surat terbuka yang ditulis Dian terhadap Pandji Pragiwaksono, juru bicara pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Pilkada DKI Jakarta lalu. Menurutnya, pasangan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta terpilih itu tidak pantas didukung karena dibekingi kelompok intoleran dan pelaku kejahatan HAM.
 
Di sela-sela kesibukannya sebagai Sustainable Development Manager di Peduli Anak Foundation, Dian menyempatkan diri berbicang bersama rilis.id tentang anak muda, media sosial dan politik. 
 
Menurut Dian, seberapa penting peran media sosial dalam politik?
 
Penting sekali. Sosial media adalah alat bagi warga negara untuk menyatakan pendapat. Dan, pendapat kita di sosial media bisa menjadi pengawas bagi pejabat negara. Kita tidak bisa mengawasi pejabat pakai CCTV dan melihat mereka ngapain aja. Tapi apa yang kita tahu dari media (mengenai pejabat negara) dan kita tidak setuju, kita bisa berpendapat.
 
Saya ingin semua orang tahu, Indonesia tidak memboikot sosial media itu privilege (hal yang istimewa). Ada negara yang melarang penggunaan Twitter atau Facebook (Saudi Arabia, Korea Utara, Bangladesh, dan beberapa negara lain melarang penggunaan media sosial, red). Apalagi negara ini juga menjamin kebebasan berpendapat. Itu juga privilege. Jadi, harus kita manfaatkan.
 
Tetapi bukannya makin banyak orang jadi saling menghujat karena beda sikap politik?
 
Kita selama 32 tahun tidak boleh bicara, tiba-tiba boleh, dan tiba-tiba ada alatnya (sosial media). Banyak yang bilang demokrasi malah jadi rusak karena perbincangan hiruk pikuk di sosial media.  Tetapi, menurut saya kita itu baru belajar (bebas berbicara), belum bikin undang-undangnya, dan lain-lain. Jadi butuh waktu.
 
Yang terkait politik, apa saja yang sudah Dian lakukan melalui media sosial?
 
Pertama kali ketika Bambang Susatyo, mantan anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ngetweet jelek terus tentang Sri Mulyani dan Boediono soal bail out Bank Century. Saya latar belakangnya S1 Ekonomi, dan saya tahu bail out itu tidak salah. Itu yang memang harus dilakukan. Sederhana saja, saya balas tweet dia dan bertanya, kalau memang menurutmu bail out salah, kenapa? Dan jawabannya enggak bener terus. Dia jawab, ya karena anggota DPR sebanyak ini setuju sama saya. Itu kan anggota DPR yang lain, saya tanya menurutmu.
 
Ternyata perdebatan saya sama dia viral. Hari itu, dalam sehari saya dapat 3000 followers. Termasuk dari akunnya Wimar Witular dan Joko anwar. Nah, sejak saat itu saya mulai dikenal. 

Terus, akun saya mulai lebih dikenal lagi karena kegiatan sosial. Saya pernah fundraising untuk korban merapi lewat Twitter. Sebulan dapat Rp100 juta. Setelah itu followers saya semakin banyak. Pernah juga bikin fundraising untuk acara Munir. Semalam dapat Rp30 juta. Terus fundraising untuk panti asuhan, 1 minggu dapat Rp13 juta.
 
Saya juga sering menulis di Blog tentang pendapat saya perihal politik. Setiap tahun ada saja yang saya lakukan (melalui media sosial). Tahun 2013 lalu saya pernah bikin petisi selamatkan satwa di Kebun Binatang Surabaya dan didukung lebih dari 13.000 orang. Tahun 2014 waktu pemilihan presiden, saya menulis untuk Taslim. Tahun 2016 saya menulis pengalaman saya bertemu Ahok. Tahun 2017 saya menulis surat balasan terbuka untuk Pandji. Semua itu tidak direncanakan. Saya merespons peristiwa saja.
 
Menurut Dian, mengapa postinganny sering menjadi viral?
 
Kalau saya dengar dari orang yang memuji tulisan saya, itu karena saya menggunakan kata-kata yang mudah. Saya selalu berusaha agar orang lain benar-benar mengerti apa yang saya maksud. Buat apa saya menulis kalau orang yang membaca tidak paham. Niat saya menulis itu selalu agar orang tau apa yang saya tau. Karena niatnya seperti itu, makanya saya selalu membuatnya se-simple mungkin, tidak pake kata-kata yang susah dan sophisticated. Kalau ada kata yang kurang jelas dan mungkin nggak semua orang tahu, saya akan tulis penjelasannya.
 
Hal lain, orang Indonesia itu senengnya sama orang yang humble, bukan orang yang sombong. Orang Indonesia kalau ada orang bilang nggak bisa padahal ternyata sebenarnya bisa, itu cenderung disukai. Nah, tulisan saya, karena saya tau orang Indonesia sukanya begitu, selalu berusaha humble. Memanggil orang yang saya kurang setuju seperti Bambang Susatyo misalnya, dengan kata beliau, Taslim saya panggil Mba, Panji saya panggil Mas Panji. Walau pun sebenernya dalam hati saya marah betul sama orang orang itu. Dalam tulisan, saya juga tidak memakai kata-kata kotor. Saya juga berusaha mengutarakan pendapat dalam konteks, bukan personal.
 
Anda pernah ngetweet agar anak muda lebih peduli dengan politik. Apa anda melihat anak muda kurang peduli dengan politik?
 
Anak muda lebih memilih untuk follow akun cinta-cinta-an, lucu-lucu-an. Akun-akun tentang politik lebih banyak diikuti oleh orang usia 30 ke atas ketimbang anak muda. Menurut saya seperti itu. 

Akun-akun yang merespon dan membalas posting saya juga kebanyakan akun milik orang usia 25 ke atas. Anak muda senang-senang itu tidak masalah, karena masa muda memang masanya senang-senang. 
 
Tetapi bagusnya, anak muda itu peduli sama masalah sosial dan politik. Aku benci kalau ada yang ngomong tidak suka politik. Karena kamu tidak suka politik makanya negara ini jadi kayak gini. Jika orang seperti kamu yang pintar, punya akses untuk mengutarakan pendapat, dan punya kesempatan berkontribusi untuk perubahan, tidak suka dengan politik, maka negara ini akan dikuasa oleh orang-orang yang salah.
 
Ada keinginan untuk masuk partai politik?
 
Kalau saya mau mungkin saya bisa masuk. Tetapi saya tidak mau. Karena kalau saya masuk partai politik saya tidak bisa independen lagi. Kalau saya masuk partai, ketika saya berpendapat, orang akan bilanG pantesan aja ngomong gitu, kan dari partai, kan politikus. Saya takut kalau pendapat saya dianggap orang tidak netral. 

Orang yang membaca pendapat saya yang tidak mendukung Anies, misalnya, akan bertanya-tanya, Dian Paramita kerja di mana, sih? Oh kerja untuk foundation anak di Lombok. Jadi untuk siapa, ya dia bicara begitu? Jawaban saya untuk Indonesia. Bukan untuk diriku, bukan untuk tempat kerjaku.

 


Tags
#wawancara
#media sosial
#politik anak muda
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID