logo rilis
Cegah Stunting, Kaltim Panen Raya Inpari Nutri Zinc
Kontributor
Elvi R
10 April 2020, 17:30 WIB
Cegah Stunting, Kaltim Panen Raya Inpari Nutri Zinc
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya. Umumnya hal ini disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Salah satu penyebab stunting adalah kurangnya asupan zinc (Zn) ke dalam tubuh, terutama bagi ibu hamil dan anak dalam masa pertumbuhan (balita).

Balitbangtan menyadari permasalahan ini dengan menghadirkan varietas padi kaya nutrisi Zinc, yaitu padi Inpari IR Nutri Zinc yang telah diluncurkan 2019 yang lalu. Hadirnya inovasi varietas  pangan fungsional ini menurut Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Fadjry Djufry dalam keterangannya adalah dalam rangka percepatan hilirisasi teknologi pertanian, “riset-riset  Balitbangtan mulai 2020 dibumikan atas kebutuhan masyarakat, petani dan pelaku usaha," tegasnya.

Rabu (08/04) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Timur melakukan panen varietas nutri zinc di Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. Penampakan fisik bulir padi varietas terlihat cukup bernas, dengan deretan bulir padi yang padat pada setiap tangkainya. Hasil ini dinilai cukup menggembirakan mengingat kondisi di lahan tanam yang sering terendam air.

Kepala BPTP Kaltim Dr.Muh.Amin menyatakan uji adaptasi pertama Inpari Nutri Zinc di lakukan di wilayah Kab. Kukar, mengingat kabupaten ini memiliki kasus jumlah balita stunting terbesar di Kalimantan Timur. "Untuk itu uji adaptasi dilakukan di wilayah ini (Kukar), agar kita bisa cepat menyebarluaskann pemanfaatan varietas ini dengan rekomendasi budidaya yang tepat dan spesifik lokasi," ujar Amin.

Kesuksesan tim BPTP dalam membudidayakan varietas padi Inpari Nutri Zinc selanjutnya akan di disebarluaskan pemanfaatannya kepada masyarakat. "Kita berharap varietas ini bisa adaptif dan berkembang di Kalimantan Timur. Ini merupakan salah satu upaya kita untuk mendukung pemerintah dalam mengatasi masalah stunting, khususnya untuk wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara," Ujar Dr. Muh. Amin.

Data terakhir di laman publikasi Dinas Kesehatan Prov. Kaltim menyebutkan bahwa dari 83.145 balita di Kalimantan Timur, terdapat ada 17.432 balita stunting. Pendataan, yang lakukan melalui pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat  (e-PPGBM) secara online ini telah mencakup semua wilayah di Kalimantan Timur. Dan kasus stunting terbanyak berada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Secara nasional, dari hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 menunjukkan prevalensi Balita stunting di Indonesia cukup tinggi, yakni 29,6 persen di atas batasan yang ditetapkan WHO (20 persen). Pada 2018, di Asia Tenggara, Indonesia menempati posisi ke-3 untuk jumlah stunting terbanyak, walaupun jumlahnya turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, masih ada 3 dari 10 balita Indonesia yang mengalami stunting.

Sumber: Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID