logo rilis
Catatan Harian Sang Menko Perekonomian
Kontributor
RILIS.ID
29 April 2020, 09:44 WIB
Catatan Harian Sang Menko Perekonomian

Oleh: Arip Musthopa 

WNI Biasa

Hari, ini seperti biasa, sebagai Menko Perekonomian Negara Leluhur aku harus mengambil sebuah kebijakan penting. Dalam seminggu ini, begitu banyak rapat digelar akibat pandemi global virus Topid-18. “Dampak ekonominya demikian dalam dan luas, banyak rapat membuat badanku lelah”, tulisku.

Rapat terbatas sore sangat berkesan. Staf khusus, staf ahli, dan hampir semua deputi setuju bahwa dana pelatihan pre-work program dialokasikan via Unicorn marketplace dan penyedia pembelajaran online seperti Lapakku, Tokoku, Guruku, dll.

Melalui sistem dan jaringan yg mereka miliki, program pelatihan online jadi lebih mudah dilaksanakan. Peserta pre-work program tinggal membeli video pelatihan dari unicorn tersebut senilai 1 juta rupee dengan dana yang Pemerintah anggarkan.

Untuk 5,6 juta jumlah peserta, anggaran yang dibutuhkan 5,6 T rupee. Aku yakin anggaran tersebut akan terserap sesuai jadwal dan tepat sasaran. Argumen mereka tentang keunggulan mekanisme ini yg praktis, modern, canggih, dan efisien, sangat masuk akal. 

Tapi apa yang disampaikan Deputi A di ujung rapat benar-benar mengejutkan. Awalnya aku heran tadi kenapa dari awal hingga menjelang akhir rapat dia diam saja. Padahal yang lainnya begitu bersemangat dan seperti sudah bulat mengarah pada mekanisme itu. 

Baiklah, aku coba kenang momen tadi. “Pak Deputi A, kenapa saya perhatikan dari awal Bapak diam saja, namun terlihat serius memperhatikan rapat, apa Bapak sedang sakit?”, tanyaku. “Atau ada hal penting yang ingin Bapak sampaikan?”

“Mohon maaf Pak Menteri, saya agak berbeda pendapat dengan yg lain. Tapi karena sepertinya saya sendirian, jadi saya ikut mayoritas saja”, dia nampak ingin mengalah. Tapi aku merasa ada hal penting yang ingin dia sampaikan. “Tak apa Pak Deputi, sampaikan saja, meski pendapat Bapak salah saya akan hargai. Sampaikan saja”.

“Baik Pak. Sebelumnya saya ingin minta maaf kalau pendapat saya berbeda dengan teman-teman semua. Terus terang saya tidak sependapat dengan mekanisme penyaluran biaya pelatihan via _Unicorn_ itu Pak.” “Apanya yang jelek dari sistem itu Pak?”, celetuk staf khususku yang kelihatan emosi.

“Maaf Pak. Menurut saya itu pemborosan”. “Pemborosan apanya?!”, gertak Sesmenku. Ku lihat Deputi A sedikit kaget, namun dia dapat kembali menguasai dirinya.
“Maaf Pak, kalau tidak salah dulu kita menyusun anggaran pelatihan 1 juta rupee per orang peserta dengan asumsi itu pelatihan offline.  Dengan adanya perubahan cara, yakni pelatihan online, saya kira anggarannya bisa dihemat tidak segitu. “Caranya?”, aku jadi penasaran. 

“Katakanlah kita perlu 2000 macam video pelatihan untuk sekian ratus skills. Kita biayai pembuatan video tersebut 200 juta rupee per video. Ini bisa pakai mekanisme penunjukan langsung untuk pengadaannya. Cukupkan satu video tutorial biayanya segitu kan? Hadirin diam, aku mengangguk pelan. Dia melanjutkan,”Jadi untuk pembuatan 2000 video kita habis 400 milyar rupee. Setelah video jadi, kita simpan di website khusus, katakan namanya www.preworkprogram.com.

Untuk membuat web ini katakanlah habis 200 juta rupee. Selanjutnya seluruh peserta kita arahkan untuk mengunduh gratis video-video tersebut. Jadi total kita habiskan 400 milyar 200 juta rupee untuk pelatihan 5,6 juta peserta. Kita bisa hemat hampir 5,2 triliun dari total anggaran 5,6 triliun rupee Pak”. 

“Gila. Ini gila!”. Kenapa aku nggak kepikiran cara ini ya? Pikirku. Namun aku coba tenang dan ku lihat muka seluruh peserta rapat. Ada yg kaget. Ada sedikit yg tersenyum. Namun di tingkat eselon I, umumnya menampakkan muka masam. Mereka seperti dipermalukan oleh penjelasan Deputi A. 

“Nilai anggaran yang berhasil dihemat dapat dialokasikan untuk program lain atau untuk menambah jumlah peserta pre-work program”, Deputi A melanjutkan dengan semangat.

Tak lama kemudian terjadi keriuhan dan penolakan dari peserta lain. Mulai terjadi pro dan kontra. Aku diam dan coba mencermati argumen mereka. Nampaknya rapat semakin tidak kondusif untuk ambil keputusan. Akhirnya aku putuskan rapat ditunda dan akan dilanjutkan besok untuk langsung ambil keputusan.

Aku ingin biarkan mereka berpikir bahwa aku dilematis dan mencoba cari jalan tengah dari dua arus pendapat yang berbeda tersebut.

Namun, di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku sudah tahu apa yang akan aku putuskan besok. Aku menundanya, agar tidak ada yang merasa dipermalukan dan mereka menyiapkan mental menghadapi keputusanku yang akan terasa pahit untuk salah satu pihak dari mereka.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID