Budidaya Kedelai Monokultur Tingkatkan Produktivitas di Lahan Kering - RILIS.ID
Budidaya Kedelai Monokultur Tingkatkan Produktivitas di Lahan Kering
Elvi R
Selasa | 07/08/2018 12.20 WIB
Budidaya Kedelai Monokultur Tingkatkan Produktivitas di Lahan Kering
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta – Kedelai merupakan tanaman yang banyak diusahakan di lahan sawah dan tidak sedikit yang mengembangkan di lahan kering. Kedelai disinyalir mengalami kelesuan produksi karena adanya persaingan  dengan jagung. Jagung dan kedelai memang berproduksi di lahan kering. Jagung bahkan dianggap mempunyai nilai pendapatan yang lebih baik, dibanding kedelai. 

Kepala BPTP Balitbangtan Jawa Timur Dr. Chendy Tafakresnanto mengungkapkan, kunci utama dalam menggairahkan minat petani untuk bertanam kedelai adalah dengan meningkatkan harga jual. Meskipun harga acuan berdasarkan Permendag Noor 27/M-DAG/PER/5/2017 tentang penetapan harga acuan pembelian di petani untuk kedelai Rp8.500 per kilogram, namun harga jual kedelai di lapangan baru sekitar Rp6.000 hingga Rp.7.000 per kilogram. Harga ini salah satunya dipengaruhi oleh mutu yang kurang baik, ukuran biji kedelai yang beragam dan tercampur varietas lain, disamping produktivitas kedelai di lahan kering sangat rendah baru berkisar antara 1-1,5 ton per hektare. 

Petani memperoleh benih kedelai melalui Jabalsim (Jaringan benih antar lapang dan musim) dan sebagian beli di pasar atau hasil panen sebelumnya sehingga mutunya masih mutu asalan. 

Masalah penyediaan benih yang baik dari varietas unggul baru disertai teknik budidaya kedelai yang baik sangat mempengaruhi produksi, termasuk mutu biji lebih seragam sehingga harga jual menjadi lebih baik, jelas Chendy. 

Guna menjawab masalah tersebut telah dilakukan pengkajian dan penelitian penanaman kedelai di lahan kering di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo dan Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur pada musim kemarau (MK 1) 2018. 

Kedelai yang digunakan varietas Dering 1 yang ditanam secara monokultur maupun tumpangsari dengan jagung varietas HJ 21. Awalnya petani sangat pesimis karena di wilayahnya belum pernah menanam kedelai. Sebelum tanam, benih kedelai di rendam larutan Agrisoy (produk Balitkabi) untuk inokulasi rhizobium pada lahan yang belum pernah tanam kedelai atau kacang-kacangan lainnya. Namun melihat keragaan pertumbuhan kedelai yang baik, hal ini membangkitkan optimisme petani untuk mencobanya. 

Hasil kedelai monokultur di Situbondo dan Sumenep masing-masing 2,17 ton per hektare biji ose dan 2,50 ton per hektare biji ose, sedangkan bila ditumpangsarikan dengan jagung diperoleh hasil kedelai yaitu 1,96 ton per hektare biji ose (Situbondo) dan 2,38 biji ose (Sumenep) dengan hasil jagung 2,17 ton per hektare pipilan kering dan  2,77 ton per hektare pipilan kering. 

Bila hasil tumpangsari kedelai dan jagung disetarakan dengan hasil kedelai diperoleh sebesar 3,23 ton per hektare biji ose (Situbondo) dan 4,00 ton per hektare biji ose (Sumenep) atau terdapat kenaikan 0,73 ton per hektare biji ose  dan 1,5 ton per hektare biji ose dibanding monokultur kedelai.

Sumber Zainal Arifin/Balitbangtan


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID