logo rilis
BPTP Kepri Kenalkan Inovasi Paket Teknologi Budidaya Padi Sawah Di Kabupaten Bintan
Kontributor
Elvi R
29 Mei 2020, 13:31 WIB
BPTP Kepri Kenalkan Inovasi Paket Teknologi Budidaya Padi Sawah Di Kabupaten Bintan
BPTP Kepri Kenalkan Inovasi Paket Teknologi Budidaya Padi Sawah Di Kabupaten Bintan. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Kepulauan Riau (Kepri) telah mengenalkan inovasi teknologi budidaya padi sawah di Kabupaten Bintan melalui pendampingan dan demplot. Pendampingan usaha tani kepada petani di Kampung Poyotomo dan Parit Bugis, Kabupaten Bintan dengan mempertimbangkan kemampuan sumberdaya yang dikuasainya (resources endowment), meliputi lahan, tenaga kerja, modal dan waktu.

Pekerjaan utama sebagian besar masyarakat di Kampung Poyotomo adalah petani dan nelayan. Petani memiliki potensi lahan sawah, namun belum melaksanakan budidaya padi sawah, lahan dibiarkan saja. BPTP Balitbangtan Kepri hadir mengenalkan inovasi teknologi budidaya padi sawah yaitu perlakuan benih (seed treatment), pencucian lahan, persemaian, penanaman, pemupukan, pengendalian HPT (hama dan penyakit tanaman), serta panen.

Serangkaian uji paket teknologi budidaya padi sawah sudah dimulai sejak 2015 hingga 2020, dengan selalu melakukan perbaikan teknologi setiap periode tahun. Diawali dengan pengenalan varietas unggul padi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) pada tahun pertama. Selanjutnya pendampingan inovasi teknologi  pada tahun kedua sampai tahun ketiga.

Pada tahun keempat dilakukan beberapa perbaikan komponen teknologi budidaya padi, sehingga  mendapatkan hasil lebih optimal. Pada 2020 tetap dilakukan uji paket teknologi budidaya padi sawah sistem Minakodal (mina padi kolam dalam) dan Minapadi.

Kepala BPTP Balitbangtan Kepri Dr. Ir. Sugeng Widodo, MP mengatakan permasalahan utama budidaya padi di lahan sawah Kepri adalah ketersediaan benih bermutu. Kebanyakan masih menggunakan varietas lokal, kalaupun menggunakan varietas Balitbangtan namun tidak terjamin sertifikasinya. Hal ini yang menyebabkan produktivitas padi sawah belum optimal/masih rendah.

Ketergantungan benih bermutu ini harus segera diatasi secara mandiri oleh Provinsi Kepri. Jika mengandalkan dari luar wilayah Kepri, sangat mahal biaya transportasinya. Permasalahan lainnya terkait komponen teknologi adalah pengendalian lahan dari keracunan Fe. Karena itu pencucian lahan terutama pengelolaan manajemen air menjadi prioritas teknologi yang harus dikuasai.

Pengembangan budidaya padi sawah di Kabupaten Bintan secara perlahan menunjukan harapan dengan pertambahan luas pertanaman. Keberhasilan pengembangan budidaya padi dengan pertambahan luas tanam berkat kerja bersama BPTP Kepulauan Riau, Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Bintan, Petani, Penyuluh, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Kesehatan Hewan.

Penerapan Teknologi

Inovasi teknologi budidaya padi sawah yang telah diterapkan dan akan terus dilaksanakan perbaikan teknologi sesuai perkembangan di lahan petani. Inovasi teknologi budidaya padi sawah Kabupaten Bintan meliputi pengolahan dan pencucian lahan, persiapan lahan persemaian hingga penyiangan serta panen.

Pengolahan tanah pada musim pertama dilaksanakan dengan tanpa olah tanah (TOT) dan olah tanah dangkal pada musim kedua. Pengolahan lahan dengan TOT pada lahan bukaan baru meliputi tebas, pembersihan, pengairan, pengeringan, pemupukan dasar dan penaburan dolomite/kapur, penyemprotan herbisida. Pengairan dilaksanakan selama 7 hari  dan dikeringkan 2-3 hari dikeringkan diulang selama 3 kali; lalu dikeringkan 3 hari dan dibiarkan beberapa hari agar terjadi proses fermentasi untuk membusukkan sisa tanaman.

Pemberian pupuk organik dilaksanakan setelah satu bulan pencucian lahan (kering basah) kondisi tanah sudah macak-macak. Setelah musim kedua pengolahan tanah dilakukan dengan menggunakan olah tanah dangkal hand traktor “kura-kura bahasa petani”.  Perlakuan lainnya sama dengan TOT.

Persiapan lahan persemaian dimulai dengan membuat bedengan dengan lebar 1,0 – 1,2 meter dan panjang sekitar 20 meter. Luas persemaian untuk 1 hektare (ha) lahan adalah 400 m2 atau empat persen dari luas tanam, dan drainase harus baik serta ditambah pupuk kandang/kompos serta sedikit kapur. Persemaian dilakukan ±15 hari sebelum tanam. Persemaian dilakukan pada lahan yang sama atau berdekatan dengan petakan sawah.

Penyemaian benih dilakukan dengan perendaman benih terlebih dahulu. Perendaman tergantung tebal tipisnya kulit gabah. Kulit gabah tipis direndam selama 24 jam, sedangkan kulit gabah tebal selama 48 jam. Perendaman benih ini bertujuan untuk mensortir benih padi yang hampa serta untuk memacu pertumbuhan kecambah.

Setelah direndam selama 24 jam benih ditiriskan dan dicampur dengan fungisida (seed treatment), selanjutnya dibungkus rapat (peram) selama satu malam (12 jam). Benih padi yang berkecambah kemudian disebar di persemaian secara hati-hati dan merata. Hal ini bertujuan agar benih yang tumbuh tidak saling bertumpukan.

Pemupukan dan pengendalian hama penyakit persemaian dilakukan setelah ± bibit berumur 1 minggu dengan jumlah pupuk 6 kilo gram NPK dan 2 kg karbufuran. Lebih sempurna lagi bila dilakukan penyemprotan dengan pestisida virtako.

Penanaman bibit berumur 19 hari setelah semai dengan dua varietas padi Balitbangtan. Pola tanam yang diterapkan yaitu jajar legowo 2 : 1, legowo 4 : 1 dengan jarak tanam 25 cm per tanaman. Penanaman bibit padi 1 – 3 batang per lubang tanam, tergantung kondisi lahan dan organism penganggu tanaman (OPT) yang dominan.

Pemupukan dasar dengan pupuk kandang sebanyak 2.000 sampai 3.000  kg/ha diberikan pada dua minggu sebelum tanam. Pemupukan pertama saat padi berumur 7 hari setelah tanam (HST) dengan dosis pupuk SP36 (150 kilogram per hektare), urea 100 (kilogram per hektare), KCl (50 kg/ha) ditambah Karbufuran (8 kilogram per hektare). Pemupukan kedua empat minggu setelah tanam (28 HST) dengan dosis pupuk, Urea (100 kilogram per hektare) dan KCL (50 kilogram per hektare). Pemupukan ketiga pada umur padi 7 minggu setelah tanam (49 HST) dengan dosis pupuk sebesar Urea (100 kilogram per hektare) dan KCL (50 kilogram per hektare).

Pengairan sawah menggunakan sistem intermitten drainase. Pertama, pada 1-5 HST dibiarkan kering selama 5 hari agar perakaran kuat. Kedua, lahan sawah diairi dengan waktu 5-10 HST (selama 5 hari), setelah itu dikeringkan selama 4 hari untuk pemupukan pertama setelah tanam; masukan air selama 7 hari keringkan 2-4 hari lakukan sampai pemupukan ketiga. 

Saat bunting dan pengisian bulir air dibiarkan tergenang untuk mendukung pengisian bulir. Namun jika hujan berturut-turut (3-4 hari) agar dikeringkan. Ulangi proses ini sampai bulir terisi merata. Setelah bulir terisi merata dengan buntut malai padi sudah mulai kuning, air dikeringkan (khusus dari Kampung Poyotomo, Desa Sri Bintan curah hujan tinggi dan jenis tanah rawa kering). Menjelang 15 hari sebelum panen agar air dikeringkan untuk membantu percepatan pematangan padi sawah.

Penyiangan dilaksanakan menggunakan tiga cara yaitu penyiangan manual, penyiangan cara Mekanis, dan penyiangan menggunakan Herbisida. Pada umumnya petani di Bintan melakukan penyiangan gulma dengan tangan kosong atau tanpa alat bantu dan menggunakan herbisida selektif. Penyiangan dengan tangan hanya efektif untuk gulma-gulma semusim atau dua musim. Pengendalian gulma menggunakan herbisida harus memperhatikan ketepatan seperti jenis herbisida, dosis, waktu aplikasi, dan sasaran.

Beberapa jenis hama yang menyerang padi yaitu penggerek batang, orong-orong, hama putih palsu, sundep, tikus dan beluk. Sedangkan penyakit berupa jamur yang menyerang pelepah dan daun.  Pencegahan pertama menggunakan seed treatmen pada benih, penggunakan pestisida sistemik berbentuk karbufuran pada saat persemaian, dan pemupukan pertama dan kedua setelah tanam. Pengendalian menggunakan pestisida dan fungisida dilakukan setelah terdeteksi dipertanaman ada serangan hama dan penyakit.

Panen dilakukan apabila kondisi pertanaman sudah matang optimal, agar mencegah kerusakan dan kehilangan hasil seminimal mungkin. Panen harus dilakukan bila bulir padi sudah cukup dianggap masak. Panen dilaksanakan dengan menggunakan alat mesin perontok padi milik kelompok tani. Cara panen yang tidak baik akan menurunkan kehilangan hasil secara kuantitatif, sedang saat panen yang tepat akan menentukan kualitas gabah dan beras.

Produksi padi sawah di Kabupaten Bintan berdasarkan Data Panen 2018 untuk varietas Inpara 2 sebesar 6 ton per hektare dan Inpara 3 sebesar 4 ton per hektare. Sedangkan untuk komponen hasil 2020, tanaman masih dalam pertumbuhan generatif, diperkirakan panen pada Juli 2020.

Faktor pendukung keberhasilan budidaya padi sawah apabila petani menerapkann pengelolaaln tanaman terpadu mulai dari pengolahan tanah, pencucian lahan, intermitten drainase, pemupukan berimbang, penerapan model tanam jajar legowo sampai dengan panen dan pasca panen.

Sumber: Robinson Putra/Sugeng Widodo/BPTP Kepri/Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID