logo rilis
Bicara di World Economic Forum, Grace Natalie Ungkit Kasus Ahok
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
13 September 2018, 12:58 WIB
Bicara di World Economic Forum, Grace Natalie Ungkit Kasus Ahok
FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Hanoi— Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, berbicara soal munculnya fenomena intoleransi di Indonesia saat menjadi pembicara dalam diskusi di World Economic Forum on ASEAN di Hanoi, Vietnam, Rabu (12/9/2018). 

Dalam diskusi itu, Grace kemudian mengungkit kembali kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang telah dipenjara karena delik penistaan agama. 

"Apa yang terjadi? Apakah toleransi hilang di masyarakat Indonesia? Apakah ada pergeseran di masyarakat?" tanya Grace. 

Dia kemudian mengutip satu survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terkait kelompok yang tidak disukai. Tiga jawaban terbanyak adalah LGBT, ISIS, dan komunis.

"Ketidaksukaan pada kaum Tionghoa dan Kristen sangat rendah. Survei dilakukan ada akhir 2016.  Data ini konsisten selama 15 tahun terakhir," ujar Grace. 

"Berdasarkan survei tersebut, mereka yang tidak suka pada etnis Tionghoa hanya 0,8 persen," lanjutnya. 

Mantan presenter televisi itu menilai, hal yang terjadi pada Ahok tidak terkait dengan kebencian etnis. Melainkan, menurut dia, yang terjadi adalah rekayasa untuk kepentingan politik. 

"Setelah Ahok divonis dua tahun, pihak Polri membongkar sindikat yang memproduksi dan menyebarluaskan hoaks. Sindikat ini aktif bekerja selama Pilkada DKI Jakarta 2017," ungkapnya. 

Dia menjelaskan, eksploitasi isu keagamaan dan etnisitas untuk kepentingan politik tertentu telah mengancam toleransi dan keberagaman di ASEAN. Cara untuk menangkalnya adalah membangun kekuatan politik atau menyokong kaum moderat.

Grace juga mencontohkan dengan kasus Meilana di Tanjung Balai, Sumatera Utara. Meilana, jelas Grace, hanya mengeluhkan pengeras suara dari adzan di masjid yang kemudian dijerat dengan pasal penistaan agama. 

"Dalam kasus ini, kita melihat, tak ada partai politik, termasuk partai berhaluan nasionalis, berbicara dan membela Meilana," tegasnya. 

PSI, kata dia, satu-satunya partai yang bergerak untuk membela Meliana. Bahkan, pihaknya berkomitmen untuk mendampingi Meilana di tingkat banding dengan menjadi amicus curiae atau sahabat pengadilan.

"Inilah cara kami melawan intoleransi. Dan, kami harus melakukannnya dengan sistematis. Jika tidak, pluralisme akan terus terancam dan merosot," tandasnya.

Editor: Sukma Alam


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)