Belajar Membela Islam dari Kiai Hasyim Muzadi - RILIS.ID
Belajar Membela Islam dari Kiai Hasyim Muzadi
RILIS.ID
Kamis | 16/03/2017 12.43 WIB
Belajar Membela Islam dari Kiai Hasyim Muzadi
KH Hasyim Muzadi.

Duka menyelimuti bangsa Indonesia setelah tersiar kabar berpulangnya KH Hasyim Muzadi, Kamis (16/3/2017) pagi di Malang, Jawa Timur. Anggota Dewan pertimbangan Presiden sekaligus mantan Ketua PBNU ini meninggal di usia 72 tahun.

Bukan saja kaum Nahdliyyin, bangsa Indonesia juga ikut kehilangan atas wafatnya ulama besar dan tokoh ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.

“Tiga hal yang tak terpisahkan dari almarhum Kiai Hasyim Muzadi: leluconnya, ke-NU-annya, dan ke-Indonesia-annya,” ujar Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, melalui akun twitter @lukmansaifuddin.

Tiga hal yang disebut oleh Menteri Lukman itu meringkas cita-cita dan perjalanan hidup Kiai Hasyim. NU, Islam, dan Indonesia. Sebagaimana Gus Dur dan kiai-kiai NU lainnya, dakwah Kiai Hasyim adalah dakwah yang menenteramkan, sekaligus mengajak berpikir lebih kritis dan mendalam, yaitu melalui humor.

Kesaksian lainnya diungkapkan oleh Prof. Mahfud MD, mantan menteri kabinet zaman Gus Dur dan Ketua Mahkamah Konstitusi kedua.

“KH Hasyim Muzadi adalah tokoh yang bisa mencontohkan kepada kita bagaimana hidup dalam keindonesiaan dan keislaman yang damai dan berprinsip,” cuit Mahfud MD melalui akun twitter-nya.

Mahfud juga mengenang Kiai Hasyim sebagai sosok yang humoris. Kiai Hasyim selalu menanggapi berbagai fenomena sosial terkini, yang selalu dimulai dengan humor ringan. Khas gaya kiai-kiai NU.

“KH Hasyim Muzadi kalau berceramah kocak tapi tak sembarang melucu. Melucunya penuh makna substantif. Agama dihayatinya dengan damai dan toleran,” lanjut Mahfud.

Perjalanan hidup Kiai Hasyim Muzadi memang seperti dibentuk oleh dan ditujukan untuk NU. Namun gema pemikiran dan kiprahnya tidak hanya terasa di dalam NU. Kiprah Kiai Hasyim sepanjang era pasca-Reformasi juga ikut membentuk pola hubungan Islam dan negara, baik di elite maupun di level akar rumput.

Perjalanan hidup Kiai Hasyim memang tak lepas dari lingkungan pesantren. Ia menempuh pendidikan dasarnya di madrasah ibtidaiyah di Tuban, dan menuntaskan kuliahnya di IAIN Malang pada 1969. Setelah dewasa, dia mendirikan pesantren khusus mahasiswa Al-Hikam di Malang, dan belakangan juga dibuka di belakang Kampus UI, Depok.

Sederet aktivitas organisasi sudah dilakoni sejak muda. Dia menempa kemampuan manajemen dan kepemimpinan melalui organ-organ pemuda NU, hingga menjadi pengurus elite PMII dan GP Ansor. Kiai Hasyim memang dikenal memiliki kemampuan manajerial yang kuat.

Tahun 1992, Kiai Hasyim terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur, yang menjadi batu loncatan kiprahnya untuk menjadi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU pada 1999, menggantikan Gus Dur yang saat itu terpilih menjadi Presiden RI.

Memimpin NU di masa pasca-Gus Dur bukan hal yang sederhana. Apalagi saat itu menjadi masa pasang optimisme kaum santri untuk ikut berkontribusi dalam arena politik. Saat itu, para kiai dan santri NU berbondong-bondong ikut mendirikan partai-partai, selain sebagian menjadi pejabat negara. Hal yang di masa Orde Baru agak sulit terjadi.

NU memiliki trauma sejarah saat menjadi partai di era Demokrasi Terpimpin hingga masa-masa awal Orde Baru. Saat itu, kesibukan pengurus NU berpolitik menyebabkan menurunnya kualitas pesantren dan basis massa NU di kalangan santri.

Kiai Hasyim saat itu memimpin transisi NU dengan prinsip bahwa NU tidak akan berpolitik praktis dengan mengubah diri menjadi partai politik (parpol). Menurut Kiai Hasyim, partai politik erat kaitannya dengan kekuasaan dan kepentingan, sementara sifat kekuasaan itu sesaat. Dengan begitu, NU tetap bisa mengatur napasnya dalam memelihara harmoni sosial di masyarakat.

Namun, bila ada warga NU yang ingin aktif di politik, sama sekali tidak ada dihalangi oleh Kiai Hasyim. Selama tidak membawa bendera NU secara kelembagaan dalam kiprah politiknya. NU juga selalu menerima dengan tangan terbuka, siapa pun warga negara yang berkiprah di politik. Sepanjang mereka membawa visi keindonesiaan secara utuh, akan disambut baik.

Integritas Kiai Hasyim dalam memandang Islam dan Indonesia tidak hanya ditunjukkan lewat pemikiran, ia sendiri mencontohkannya dengan terjun berpolitik. Di tahun 2004, ia menerima lamaran PDI Perjuangan untuk menjadi cawapres bagi Megawati Soekarnoputri.

"Saya ingin menyatukan antara kaum nasionalis dan agama",” ujarnya ketika menyampaikan orasi dalam deklarasi pasangan capres dan cawapres Megawati-Hasyim.

Politik Kiai Hasyim bukanlah sekadar mengejar kuasa. Walaupun sebagai Ketua PBNU saat itu, ia berpeluang untuk memengaruhi puluhan juta warga Nahdliyyin. Dalam Pilpres 2004 sendiri, terdapat pasangan Capres-Cawapres Wiranto-Shalahuddin Wahid yang juga dianggap mewakili jamaah NU.

Kiprah Kiai Hasyim tak hanya di dalam negeri, ia aktif melakukan kampanye global tentang Islam di Indonesia. Bersama Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, saat itu, Kiai Hasyim membentuk International Conference of Islamic Scholar (ICIS), sebuah lembaga riset dan pemikiran yang fokus menjembatani dunia Barat dan Islam.

Setelah tragedi WTC 11 September 2001, pemerintahan Bush langsung menuduh gerakan Al-Qaeda sebagai pelakunya dan menangkapi orang-orang dan kelompok Islam yang diduga terkait dengan jaring Al-Qaeda. Namun, posisi Islam moderat Indonesia luput dari tuduhan itu.

Kiai Hasyim saat itu berpandangan, dunia internasional perlu mengetahui kondisi Islam di Indonesia dan perilaku mereka yang tidak menyetujui tindak kekerasan. Untuk itu, perlu upaya komunikasi dengan dunia luar secara intensif. Tak terkecuali dengan AS. Makin banyak dan intens komunikasi maupun kontak ormas-ormas moderat Indonesia dengan internasional, berarti makin positif.

Kerja sama internasional jauh lebih berfaedah daripada keterasingan internasional. Saat Kiai Hasyim diundang Pemerintah AS, dengan gamblang ia menjelaskan peta dan struktur Islam Indonesia. Amerika Serikat beruntung mendapat gambaran itu langsung dari pemimpin ormas Muslim terbesar Indonesia. Indonesia juga bersyukur karena seorang tokoh ormas Islam menjelaskan soal-soal Islam Indonesia kepada pihak luar.

Soal kelompok-kelompok garis keras di Indonesia, betapapun jumlah dan kekuatannya cuma segelintir, Kiai Hasyim mengingatkan Amerika Serikat bahwa mengatasinya tidak bisa sembarangan. Dan tidak menggunakan tindakan yang represif.

Bukan hanya kontraproduktif, menurut Kiai Hasyim, tindakan represif malah bisa memunculkan radikalisme betulan. Kebijakan Amerika Serikat di Afghanistan atau negara-negara Timur Tengah, dengan intervensi langsung, menghasilkan kondisi yang runyam. Indonesia tidak bisa disamakan dengan Timur Tengah atau negara-negara lain.

“Saya minta supaya pendekatannya pendekatan pendidikan, kultural, dan social problem solving. Dijamin, gerakan-gerakan kekerasan akan hilang,” ujar Kiai Hasyim pada saat itu.

Ke dalam umat Islam, Kiai Hasyim juga tak kenal ampun dalam memberikan pandangan kritis. Dia merumuskan satu istilah yang populer yaitu, Gerakan Islam Transnasional, untuk menyebut gerakan pemikiran dan organisasi Islam yang lahir dan tumbuh di kawasan Timur Tengah.

Di masa pasca-Reformasi, organisasi-organisasi seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, dll., memang semakin tumbuh subur di kalangan umat Islam di Indonesia. Mereka juga terus berkampanye soal perlunya umat Islam untuk kembali kepada tafsir keislaman yang formal.

Kiai Hasyim khawatir, gerakan Islam Transnasional ini membawa aspirasi dan cita-cita politik yang bertabrakan dengan kebutuhan umat Islam di Indonesia, yang ijtihad politiknya sudah final dalam pembentukan negara republik di tahun 1945. Aspirasi umat Islam yang tidak diletakkan pada konteks sejarah dan budaya masyarakat Indonesia, bisa berbahaya bagi kelanjutan cita-cita kebangsaan.

Setelah selesai memimpin NU pada 2010, Kiai Hasyim kembali ke lingkungan pesantren, dengan mengajar dan mendirikan pesantren mahasiswa di Malang dan di Depok. Ia kerap memberi panduan nasihat kepada Presiden Joko Widodo, dalam posisinya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

Pada saat ini, ketika politik identitas semakin mengeras, sosok moderat dengan prinsip hidup yang teguh seperti Kiai Hasyim semakin terasa dibutuhkan. Sosok yang berani melontarkan kritik tegas kepada siapa pun yang ia anggap keliru. Kritik dari hati yang bersih dan tak ingin menyakiti orang lain.

Kiai Hasyim memberi teladan politik dengan memegang prinsip dan kebenaran, demi bangsa Indonesia yang ia cintai sedalam-dalamnya. Selamat Jalan, Yai...

Sumber Diolah dari berbagai sumber


Tags
#Obituari Sosok
#KH Hasyim Muzadi
#Nahdhatul Ulama
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID