logo rilis
Bawang Putih dan Suhu Tinggi 'Mujarab' Usir COVID-19, Benarkah?
Kontributor
Nailin In Saroh
27 Maret 2020, 18:30 WIB
Bawang Putih dan Suhu Tinggi 'Mujarab' Usir COVID-19, Benarkah?
Bawang Putih. ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi S

RILIS.ID, Jakarta— Sejumlah upaya menangkal virus corona jenis baru atau COVID-19 telah banyak dilakukan masyarakat Indonesia dengan meminum ramuan. Mulai yang tradisional seperti empon-empon hingga vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. 

Jika beberapa saran pengobatan virus SARS-CoV-2 berasal dari ilmuwan luar negeri, pengobatan satu ini dinyatakan oleh dokter dari dalam negeri.

Dokter Zaidul Akbar yang kerap membagikan resep sehat menggunakan rempah-rempah ini menyebutkan bahwa bawang putih dapat menangkal virus. Caranya, bumbu dapur ini direbus dan diminum. 

“Ini bawang putih yang besar ambil 8 biji, dikupas kulitnya ditaruh mangkok di tuang 7 gelas air mendidih selama 3 menit setelah itu di minum langsung 2 gelas,” tulis dr Zaidul Akbar di akun Instagram pribadinya.

Meski belum terbukti dapat menangkal virus COVID-19, namun bawang putih memang memiliki segudang manfaat.

Seperti sebuah penelitian yang dipublikasikan di Journal of Antimicrobial Chemotherapy yang menyebutkan, bawang putih dapat mengurangi risiko keracunan bakteri Campylobacter.

Serangkaian tes yang telah dilakukan menemukan, senyawa dialil sulfida yang terdapat pada bawang putih mampu melindungi makanan dari zat berbahaya yang dihantarkan serangga. Bahkan para peneliti menilai bawang putih memiliki zat aktif yang mutunya 100 kali lebih baik dibandingan dua golongan obat antibiotik ternama, eritromisin dan ciprofloxacin, dalam memerangi racun makanan.

Sementara bukan dari ramuan, virus COVID-19 yang menyebar melalui udara itu bisa musnah jika mendapat suhu panas. 

Direktur Laboratorium Kunci Negara untuk Diagnosis dan Perawatan Penyakit Menular Cina, Li Lanjuan menyebutkan bahwa suhu tinggi dapat membunuh virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

Pakar penanganan virus corona itu mengklaim telah mempelajari virus Wuhan dengan Zhong Nanshan, ilmuwan pertama yang menemukan sindrom pernapasan akut yang parah (SARS) yang menguasai dunia pada tahun 2002.

Berdasarkan studi tim, terungkap bahwa virus corona tidak dapat bertahan hidup pada suhu di atas 57 °C dan akan mati di lingkungan seperti itu dalam 30 menit.

Sebuah penelitian dai tahun 2010 yang diterbitkan dalam Applied and Environmental Microbiology menunjukkan bahwa inkubasi virus corona memang lebih cepat pada suhu 4-20 °C. Dalam suhu tersebut, virus corona dapat bertahan selama 5 hingga 28 hari.

Penelitian ini pun mecoba menonaktifkan virus di suhu 40 °C, dan hasilnya virus berhasil tidak aktif lagi. Sayangnya, jika suhu dan kelembapan kembali dalam suhu normal, virus bisa kembali berkembang biak di udara.

Namun, baik bawang putih dan suhu tinggu belum dapat dipastikan dapat membasmi COVID-19.

Bahkan, upaya sering mencuci tangan menggunakan sabun, menggunakan masker, serta menghindari memegang hidung, mulut, dan mata dengan tangan yang masih kotor pun belum  cukup mencegah penularan virus tersebut. 

Meski demikian, untuk mencegah penularan masyarakat harus membatasi pertemuan di ruang publik, membatasi kontak langsung dengan orang-orang, menjaga imunitas dan bisa dalam masa pengobatan maka wajib untuk mengikuti anjuran dokter.  

Serta istirahat lah yang cukup, makan makanan bergizi serta hindari stres. Ayo lawan COVID-19!

 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID