logo rilis
Banser vs Persib
kontributor kontributor
Yayat R Cipasang
23 Oktober 2018, 14:13 WIB
Penulis seorang kerani dan penyelia di RILIS.ID
Banser vs Persib
ILUSTRASI: Hafiz

SAYA asli, pituin Sunda. Dari sekolah paling dasar hingga menjadi ketua OSIS di SMA I Rancah, Ciamis, Jawa Barat, tak pernah mengenal Banser. 

Setidaknya di Rancah ada lima pesantren besar dan salah satunya adalah milik keluarga Kang Dede Rosada, guru besar yang juga rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta. Jelas, pesantren itu adalah lembaga pendidikan milik Nahdlatul Ulama (NU).

Maka ketika mendengar kabar ada Banser di Garut, saya termasuk yang sangat kaget. Ternyata sekarang di Priangan Timur ada Banser juga ya. Selama ini saya hanya mengenal Banser di Jawa Timur atau mungkin di Jawa Tengah.

Lebih kagetnya lagi, ketika sekelompok orang yang berseragam loreng mirip Banser itu membakar bendera yang disebut-sebut lambang milik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sebuah organisasi terlarang yang sudah dibubarkan Pemerintah. 

Terlepas dari benar tidaknya isu yang mewabah (viral) itu, saya sebagai warga Priangan Timur hanya bisa bersedih dan mencoba menuangkan unek-unek saya dengan cara 'mengotori' wall Instagram Gubernur Jawa Barat Pak Ridwan Kamil untuk sekadar curhat.

Saya sebagai warga Priangan Timur dan masyarakatnya yang dikenal toleran terenyak dan terusik dengan aksi tersebut. Apalagi aksi pembakaran itu disaksikan langsung oleh para santri yang tidak mengenal politik. Terlalu sombong ketika orang tua menunjukkan amarah dan kebenciannya di hadapan para santri.

Saya pun mengajak kepada siapa saja di Priangan Timur dan juga di Jawa Barat untuk tidak terpancing dengan aksi apapun. Menurut saya masih ada pintu dialog dan cara penyelesaian untuk mencari kebaikan. Tanpa harus menunjukkan amarah dan murka.

Jangan hanya menjelang Pemilu atau Pilpres kita terpecah dan diadudomba untuk saling menihilkan. Apalah arti Pilpres kalau hanya saling membinasakan. Hanya akan mempermalukan diri diri sendiri. Menunjukkan kebodohan sendiri. 

Sudah cukup warga Jawa Barat terluka, masa harus ditambah lagi. Ketika seorang netizen bernama Deny Siregar menyebut aksi brutal Bobotoh yang menyebabkan tewasnya seorang suporter Persija dituding aksi itu disusupi ISIS, hati saya, kita dan kami terluka. Kami marah. 

Dan sepengetahuan saya sampai hari ini Deny Siregar yang memang pendukung penguasa, belum juga meminta maaf kepada warga Jawa Barat khususnya Bobotoh. Padahal polisi sudah memastikan kalimat tauhid dalam rekaman video dalam 'pembantaian' suporter itu rekayasa alias bohong.

Sebenarnya kami bisa saja mencari, menangkap, mempersekusi, menyeret dan mengadilinya dengan cara kami di lapangan Gasibu atau di pintu gerbang Gedung Sate. Tapi itu bukan tipe kami.

Biarkan waktu dan juga alam yang akan menelan ide-ide dan juga perilaku seorang Deny Siregar. Biarkan cacing yang akan menggerogoti setiap inci tubuhnya suatu hari nanti.

Warga Jawa Barat adalah bagian dari negeri ini yang harus tetap waras di tengah chaos ketidakwarasan. Jawa Barat dalam sejarahnya memiliki dua kerajaan besar, Galuh dan Padjadjaran. 

Kita pernah dikhianati dan pernah dinihilkan dalam sejarah dan itu jangan terulang kembali. Kita harus tetap besar tidak hanya jumlah penduduknya tetapi juga ide-ide kita juga harus besar. Ambisi dan berahi politik hanya akan membuat bangsa terjerumus dan menjadi kelompok paria.

Persoalan Pilpres adalah bagian dari kecil hidup bernegara. Tak ada presiden pun kita masih bisa hidup dan mengatur diri sendiri dengan kearifan yang kita punya, warisan leluhur. Kita punya warisan Hindu dan juga Islam yang harmonis di Jawa Barat.

Kita sangat bangga dengan kebudayaan Hindu dan Suda Wiwitan karena itu kita senang ketika wilayah kita yang bergunung-gunung disebut Parahyangan dari kata para (atas) dan hyang, Dewat atau Tuhan. Tempatnya Tuhan, tempat para Dewa.

Warisan Hindu dan Sunda Wiwitan saja kita hormati kenapa harus alergi dengan kalimat atau tulisan tauhid dan sampai harus membakarnya? Sampai di sini saya sulit berpikir.

Hidup Persib!




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID