logo rilis
Balitbangtan Distribusikan Ribuan Benih Jeruk untuk Agrowisata Wonogiri
Kontributor
Elvi R
10 April 2020, 18:00 WIB
Balitbangtan Distribusikan Ribuan Benih Jeruk untuk Agrowisata Wonogiri
Balitbangtan, Distribusikan Ribuan Benih Jeruk untuk Agrowisata Wonogiri. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Perbenihan merupakan salah satu faktor kunci untuk menentukan keberhasilan agribisnis jeruk. Benih yang berkualitas akan menghasilkan tanaman yang sehat dan mampu berproduksi dengan baik dan berumur panjang dengan didukung teknologi budidaya yang tepat. Menanggapi permintaan dari beberapa pemerintah daerah akan benih unggul,  Kamis (09/4)  Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Sub Tropika (Balitjestro) mengirimkan 4.000 benih jeruk keprok Batu 55 ke Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Sebelumnya, 4.000 benih jeruk yang sama juga telah didistribusikan ke Kabupaten Boyolali.

Benih ini nantinya akan dikembangkan di Desa Setren, Kecamatan Slogohimo.  Wilayah ini memiliki agroklimat yang sesuai dengan keprok Batu 55 yaitu di dataran tinggi. “Pengembangan jeruk ini nantinya akan diarahkan untuk wisata petik. Harapannya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan desa sekaligus peningkatan ekonomi dengan di dukung pengelolaan yang benar dengan mengaplikasikan PTKJS”, ujar Dr. Harwanto, Kepala Balitjestro.

Terpisah, Kepala Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Dr.  Fadjry, Djufry dalam keterangan tertulisnya menyampaika, benih adalah salah satu sarana budidaya tanaman yang mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam upaya peningkatan produksi dan mutu hasil budidaya tanaman. Dan pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani dan kesejahteraan masyarakat.

Oleh karena itu sistem perbenihan tanaman harus mampu menjamin tersedianya benih bermutu secara memadai dan berkesinambungan. “Terkait budidaya jeruk, Balitbangtan memiliki Teknologi Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS), selain itu Balitbangtan juga memiliki  benih sumber Blok Fondasi (BF) dan Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) bebas penyakit yang telah tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia”, terangnya.  

“Yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa inovasi teknologi seperti varietas unggul yang telah dihasilkan oleh Balitbangtan harus dibumikan, didiseminasikan. Tentu saja varietas-varietas yang siap guna dan bukan uji coba”, terang Fadjry lebih lanjut.

PTKJS merupakan paket teknologi yang dirakit dari beberapa komponen yang harus diaplikasikan pada budidaya jeruk. Komponen tersebut yaitu penggunaan benih jeruk berlabel dan bebas penyakit, pengendalian hama penular penyakit CVPD/Huanglongbing. Penerapan sanitasi kebun, pemeliharaan tanaman secara optimal dan konsolidasi pengelolaan kebun pada suatu kawasan.

Varietas jeruk Keprok Batu 55 sendiri memiliki keunggulan akan warnanya yang oranye dengan rasa manis sedikit asam segar.  Produktivitas jeruk antara  50 - 70 kilogram per pohon per tahun dan bisa lebih. Dengan penampilannya buah ini tidak kalah dengan buah impor, yang banyak beredar di pasaran.
 
Perkembangan terakhir, FAO menempatkan Indonesia urutan ke-3 dunia produsen jeruk  di kelompok mandarin dan tangerine dengan produksi 2 juta ton per tahun. Sementara itu data BPS menunjukkan bahwa produksi jeruk keprok/siam nasional 2018 sebesar 2.408.043 ton yang berasal dari hampir semua provinsi. Kondisi ini meningkat dibandingkan dengan 2017 yang berada di 2.165.189 ton. 

Daerah penghasil jeruk terbesar 2018 adalah Jawa Timur dengan 918.680 ton kemudian Sumatera Utara 409.683 ton, Bali 224.672 ton, Kalimantan Selatan 144.764 ton dan Kalimantan Barat 142.917 ton.

Sumber: Aminuddin Fajar/Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID