logo rilis
Bahaya Laten ISIS
kontributor kontributor
Rencana Muhammad
14 Juni 2017, 00:08 WIB
Pendiri Khatulistiwamuda, Direktur Eksekutif Yayasan Pendidikan Islam Terpadu al-Amin.
Bahaya Laten ISIS

Indonesia dan Filipina akhirnya jadi pilihan terbaru gerakan ISIS jika ditilik secara geografis. Kedua negara memiliki 25.000 pulau yang rawan dijadikan markas ISIS. Akses laut ke mana pun, dengan penjagaan angkatan laut TNI dan Filipina yang longgar, jelas memberi ruang gerak bebas bagi teroris.

Keberhasilan ISIS bergerilya di pulau-pulau Filipina seperti Jolo, dan belantara Indonesia dan Filipina, juga Thailand Selatan yang mirip Vietnam, menjadi nilai tambah. Maka menjadi beralasan ISIS mengalihkan arah kiblat gerakannya dari Timur Tengah, Afrika, Afghanistan, Pakistan, Bangladesh, dan kini Asia Tenggara. Maka basis Negara Islam incaran nomor satu adalah Indonesia dan Filipina.

Baca Juga

Alasan lain ISIS bergerak ke Asia Tenggara adalah Amerika Serikat, Australia, dan Eropa jelas berkepentingan dengan posisi strategis Indonesia dan Filipina—yang dianggap Barat lebih dekat dengan Rusia dan China. Indonesia dan Filipina yang berpenduduk besar dianggap penting bagi peta geopolitik dan geostrategis Amerika Serikat di kancah global.

Hal itu demi melanjutkan dominasi mereka di Timur Tengah. Persaingan kekuatan politik, ekonomi, dan energi, antara Arab Saudi-Iran-Israel yang selalu dimainkan AS dalam perlombaan senjata. Arab Saudi baru saja menandatangani perjanjian pembelian senjata senilai US$110 miliar dan dalam jangka panjang mencapai US$340 miliar. Catat, ini hanya untuk belanja senjata.

Khusus Indonesia, dari sisi politik, dukungan logistik, sel-sel tidur Islam radikal seperti NII, HTI, Jamaah Islamiyah, Jamaah Anshorut Daulah, ditambah simpatisan dan radikalisme di kalangan masyarakat, pemuda-pemudi, ibu-ibu, dan mahasiswa serta generasi emas, maka eks-ISIS akan bercokol dan berpeluang meluaskan jaringan mereka dengan nama ISIP (Islamic State in Indonesia and the Philippines).

Politik liberal transnasional Barat (Amerika) yang berkedok agama tak hanya menyusupi Islam. Tapi juga agama lain. Di Timur Tengah yang sudah mulai hancur lebur, sudah tak terhitung berapa banyak faksi Islam bermunculan setelah Wahhabi, Mujahidin, dan Al-Qaidah. Anak turunannya berjenis rupa. ISIS, Hizbut Tahrir, Boko Haram, Jamaah Islamiyyah, Darul Islam, NII, Jamaah Ansharut Daulah, FPI, dan Majelis Mujahidin. Kini ada dua yang terbaru dan sedang memapar generasi muda Indonesia: Gerakan Pemuda Hijrah dan Ukhuwah Mujahidah (khusus remaja putri).

Dari namanya saja, saudara sekalian mestinya paham ke mana mereka mau dihijrahkan, dan jihad model apa yang akan mereka lakukan. Selain membangun sekolah berbasis Islam Terpadu dan Rohis di sekolah, mereka juga masuk ke kantong-kantong pemuda perkotaan yang jauh dari bekal ilmu agama dan spiritualitas. Sebab di daerah, mereka akan berhadapan dengan para kiai dan santri-santrinya. Sasaran mereka biasanya adalah anak-anak band, komunitas punk, mahasiswa fakultas eksakta—yang memang lemah di otak kanan. Gersang intuisinya. Kenapa di kota besar? Mudah saja. Semua isu, apalagi bersifat sektarian, cepat menggelinding di perkotaan. Karena faktor melek teknologi. Sempitnya waktu belajar dan keluarga yang renggang, jadi modus utama mereka masuk mencuci otak generasi buta agama.

Jika masyarakat Muslim Indonesia tidak segera membuka pikiran dan melek mata, niscaya kedok Musim Semi Arab jilid II pecah di sini. Cukup sudah Timur Tengah dikoyak-moyak kebodohan perang. Jangan pula hal serupa terjadi di negeri kita. Sekali-kali, tidak!

Baru-baru ini beredar sebuah video pendek gerombolan ISIS yang sedang melatih anak-anak menjadi petempur di medan perang. Dari lokasi latihan, kemungkinan besar berada di Timur Tengah. Banyak masyarakat Indonesia yang mengecam aksi pencucian otak ISIS dalam video itu. Namun, tujuan disebarnya video itu bukan untuk menuai kecaman. Bukan! Melainkan simpati dari barisan Muslim sakit hati yang tersia di negara mereka masing-masing.

Anak-anak dalam video ini tidak direkrut dari jalanan. Mereka anak biologis para jihadis Indonesia yang sebagiannya telah padam disergap Densus 88, atau mati konyol dengan meledakkan diri. Para inang pengasuhnyalah yang kemudian menanam doktrin bahwa orangtua mereka mati "sya(h)ngid" oleh penguasa negeri thogut—yang lucunya bukan Amerika atau Israel.

Terlalu naif kalau masih membayangkan "armada perang" ISIS suatu saat akan menyeberang dari Marawi, Mindanao, ke Sulawesi Utara lalu menguasai kota-kota Indonesia sampai Jakarta. Naif betul kalau menganggap ISIS itu sebagai kumpulan kompi atau batalyon pasukan bersenjata saja.
Bukan begitu cara kerja ISIS!

ISIS bekerja dengan fitnah yang merusak dan meradikalisasi pikiran. Aset mereka bukan senjata, atau pasukan tempur. Melainkan sekumpulan orang yang sudah diekstremkan (dicuci) otaknya, diradikalisasi pandangannya, ditanam kebencian dalam perasaannya. Mereka yang sudah kena cuci otak itu bagaikan sel tidur, yang sewaktu-waktu bisa digerakkan atau dibangkitkan dengan pemicu tertentu.

Pemicu yang paling mengerikan adalah sentimen SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) yang dibangun (baca: dikompori) di atas ketimpangan sosial. Tugas kita bersama adalah mewaspadai benih sel-sel tidur ISIS ini.

Bagaimana cara mengenalinya? Salah satu pengujian yang paling mudah adalah pascatragedi bom Kampung Melayu. Kenali dan tandai potensi benih sel tidur ISIS, yaitu orang-orang dengan ciri:
1. Membuat opini bahwa teror bom adalah rekayasa saja.
2. Membuat opini bahwa pemberantasan teror adalah stigmatisasi umat Islam.
3. Membuat opini bahwa teror bom itu satu paket dengan kriminalisasi ulama.
4. Mereka mengubah wajah Islam (agama) yang damai, jadi keras dan sarat pertikaian.
5. Menyusup ke dalam sebuah negara yang Muslimnya mayoritas, dalam tubuh organisasi "keagamaan" berkecenderungan politik. HTI yang sudah dibubarkan itu, salah sebuah contohnya. Termasuk Jamaah Ansharut Daulah, yang jadi dalang Bom Kampung Melayu.

Selain menggunakan organ sel, mereka berkoloni dalam satu areal berkedok perumahan Islami atawa berbasis syar'i. Entah dari sudut tilikan apa mereka sebegitu yakinnya bahwa perumahan itu berlandaskan Islam. Mungkin rumahnya menghadap kiblat kali ya. Tapi lucunya, masih memakai jaringan internet. Produk buatan "bangsa" kafir yang secara pengecut mereka perangi.

Pola pikir yang keliru dan mulai kena racun khilafah harus segera diluruskan. Bermula dari perang pikiran. Lalu mereka ubah segala isu sehingga menjadi robot kebencian dan berujung pembunuhan berhadiah “surga”. Dalam dada mereka yang membara, hanya ada the lethal coctail (ramuan kematian).

Ingat, sel tidur ISIS itu puluhan kali lebih berbahaya dari pasukan nyata yang ditampilkannya. Kota Marawi di Mindanao direbut hanya dengan 500 orang pasukan ISIS yang terlihat. Tapi ada 10 kali lipat pasukan yang tidak kasat mata.

5.000-an sel tidur di Marawi yang selama ini diam dan kemudian diaktifkan, yang membuat ISIS menang mudah di sana adalah, karena pembodohan masyarakat yang tertipu untuk menerimanya sebagai perwakilan agama. Mereka tidak memahami bahwa kelakuan yang seperti itulah penghancur keutuhan agama, negara, dan bangsa dari dalam “selimut”.

Jadi, Anda masih mau diam saja dan percaya bahwa pemerintahan Jokowi sedang berhadapan dengan PKI? Sampai tiba suatu saat pintu rumah Anda yang mereka ketuk, lalu Anda baru tersadar bahwa ternyata kepercayaan mereka adalah pembantaian? 


#Bahaya ISIS
#ISIS
#Saujana
#Kolom
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID