AS Kejar Sembilan Warga Iran Peretas Institusi Pemerintah - RILIS.ID
AS Kejar Sembilan Warga Iran Peretas Institusi Pemerintah

Sabtu | 24/03/2018 21.07 WIB
AS Kejar Sembilan Warga Iran Peretas Institusi Pemerintah
Wakil Jaksa Agung Rod Rosenstein menggelar konferensi pers terkait pengejaran sembilan warga Iran yang diduga melakukan peretasan ke sejumlah institusi pemerintah, kemarin (23/3/2018), di Washington. FOTO: Reuters/Yuri Gripas

RILIS.ID, Washington – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menuntut sembilan warga Iran dengan tuduhan serangan siber terhadap ratusan universitas, perusahaan, dan badan pemerintahan.

"Departemen Kehakiman akan menyelidiki dan menghukum orang yang terbukti berupaya menyusupi sistem-sistem komputer kami dan mencuri properti intelektual," kata Wakil Jaksa Agung Rod Rosenstein, kemarin (23/3/2018).

"Kasus ini penting karena menghentikan aktivitas peretasan mereka dan mencegah kasus-kasus berikutnya," lanjutnya.

Rosenstein mengatakan, para peretas itu, yang telah memulai aksinya secara global sejak 2013, diduga mencuri lebih dari 31 terabit dokumen-dokumen dari sekitar 140 perguruan tinggi, 30 perusahaan, dan lima lembaga pemerintahan AS. 

Mereka juga diperkirakan berada dibalik penyusupan digital lebih dari 176 universitas di 21 negara lainnya.

Selain pemerintah Iran, Rosenstein juga menuduh Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) sebagai aktor dibalik serangan siber itu sebagai aktivitas intel.

Tuntutan yang dilayangkan AS antara lain adalah konspirasi untuk menyusupi komputer, penipuan, mengakses sistem komputer tanpa izin, dan pencurian identitas. Semua tuduhan itu bisa menjebloskan mereka ke penjara selama lebih dari 40 tahun.

Departemen Keuangan AS juga mengatakan akan menjatuhkan sanksi terhadap warga-warga Iran itu serta perusahaan yang memperkerjakan mereka, Mabna Institute.

Jaksa penuntut AS Geoffrey Berman dari New York mengatakan, serangan siber itu adalah "kampanye peretasan terbesar yang disponsori sebuah negara". 

Para peretas itu tidak bisa lagi keluar dari Iran tanpa terancam ditangkap setelah dijatuhkan tuntutan dan sanksi, menurut Berman.

"Mereka hanya bisa melihat dunia luar melalui layar komputer, tapi tidak lagi secara anonim," tambahnya.

Sumber Anadolu Agency


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID