logo rilis
Amerika Serikat Alami Pekan Tersulit selama Alami Pendemi COVID-19
Kontributor
Elvi R
06 April 2020, 09:30 WIB
Amerika Serikat Alami Pekan Tersulit selama Alami Pendemi COVID-19
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supartman

RILIS.ID, Jakarta— Amerika Serikat memasuki salah satu pekan paling genting selama krisis virus corona dengan jumlah korban tewas melonjak di New York, Michigan, dan Louisiana. Sejumlah gubernur menyerukan perintah agar warga tinggal di rumah.

New York, negara bagian yang paling terpukul, melaporkan pada Minggu bahwa ada hampir 600 kematian baru dengan total 4.159 kematian dari 122 ribu total kasus.

Menurut foto yang diberikan kepada Reuters, mayat-mayat korban COVID-19, ditumpuk dalam kantong oranye terang di dalam kamar mayat sementara, di luar Pusat Medis Wyckoff Heights di Brooklyn. 

Kepala operasional Korps Layanan Kesehatan Masyarakat AS Jerome Adams memperingatkan di Fox News Sunday bahwa masa sulit ada di depan.

"Tapi ada cahaya di ujung terowongan jika setiap orang melakukan bagian mereka selama 30 hari ke depan," ungkap Adams. 

"Ini akan menjadi minggu paling sulit dan paling menyedihkan dalam kehidupan kebanyakan orang Amerika, terus terang. Ini akan menjadi momen Pearl Harbor kita, momen 9/11 kita, hanya saja itu tidak bersifat lokal," katanya.

"Itu akan terjadi di seluruh negeri. Dan aku ingin Amerika mengerti itu."

Tempat-tempat seperti Pennsylvania, Colorado, dan Washington DC mulai menyaksikan peningkatan kematian. Gugus tugas penanganan virus corona Gedung Putih memperingatkan ini bukan waktunya untuk pergi ke toko kelontong atau tempat-tempat umum lainnya.

Sebagian besar negara bagian telah memerintahkan penduduk untuk tinggal di rumah kecuali untuk keperluan penting. Dia mengatakan, hal ini guna memperlambat penyebaran virus di AS. Saat ini AS memiliki lebih dari 321 ribu orang positif COVID-19 dan lebih dari 9.100 orang telah meninggal, menurut penghitungan Reuters.

Namun, beberapa gereja mengadakan pertemuan besar pada Minggu Palma, awal Pekan Suci di gereja-gereja Kristen.

"Kami menentang aturan karena perintah Tuhan adalah menyebarkan Injil," kata Tony Spell, pendeta Gereja Life Tabernacle di pinggiran kota Baton Rouge, Louisiana.

Dia telah menentang perintah negara untuk tidak berkumpul dalam kelompok besar dan telah dikenai enam pelanggaran ringan.

Louisiana telah menjadi tempat paling berbahaya dalam penularan virus. Pada Sabtu (4/4), negara bagian itu melaporkan lonjakan kematian menjadi 409 dan lebih dari 12 ribu kasus.

Gubernur John Bel Edwards mengatakan kepada CNN pada Minggu (5/4/2020) negara bagian itu kemungkinan kehabisan ventilator pada Kamis mendatang.

Pakar medis Gedung Putih memperkirakan antara 100-240 ribu orang Amerika dapat terbunuh dalam pandemi, bahkan jika perintah untuk tinggal di rumah diikuti.

Presiden Donald Trump memperingatkan pada Sabtu bahwa hari-hari ke depan bisa "sangat mengerikan".

Gubernur negara bagian Washington Jay Inslee mengatakan jika negara-negara lain tidak juga memberlakukan tindakan tegas, virus hanya akan bersirkulasi. Inslee merupakan seorang Demokrat, yang negaranya mencatat infeksi COVID-19 pertama di AS. Dia telah melakukan tindakan awal karantina, setelah terlihat kasus COVID-19.

"Akan lebih baik jika memiliki perintah nasional untuk tinggal di rumah," katanya kepada NBC News dalam program "Meet the Press".

"Bahkan jika Washington memberlakukan sepenuhnya aturan ini, jika negara bagian lain tidak, virus itu bisa kembali dan melintasi perbatasan kita dua bulan dari sekarang."

Gubernur Arkansas dari Republik, Asa Hutchinson, bagaimanapun, tetap menolak untuk memerintahkan pembatasan di seluruh negara bagian, dengan mengatakan bahwa situasinya diawasi dengan ketat. Dan menurutnya, bahwa "pendekatan yang ditargetkan" masih memperlambat penyebaran virus.

"Kami akan melakukan lebih banyak sesuai kebutuhan," katanya kepada NBC.

Sumber: Reuters/Antara




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID