logo rilis
Altruisme 1928, Bertengkar dalam Kesamaan
kontributor kontributor
Dadang Rhs
25 Oktober 2017, 13:25 WIB
Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID
Altruisme 1928, Bertengkar dalam Kesamaan

28 OKTOBER 1928. Para pemuda dari pelbagai puak di Nusantara berkumpul. Mereka membicarakan konsep Indonesia. Sebuah ikatan "baru". Suatu tatanan imajiner bagi bangsa-bangsa Nusantara. 

Ikatan modern yang dicari dari akar yang tumbuh dalam riwayat dan imajinasi akan sebuah komunitas yang ada dan mengada. Sebuah bangsa yang terikat oleh kesamaan nasib. Sebentuk hasrat hidup yang menggelorakan kebersamaan. Sebuah altruisme. Sebentuk totalitas untuk menjadikan kebajikan yang utama. Iktikad untuk menggenapkan kemanusiaan puak-puak Nusantara.

Baca Juga

Permufakatan kaum muda Nusantara pada Oktober 1928 ini adalah manifesto altruisme Indonesia. Sebuah tekad untuk menjadi Indonesia. 

Ikatan ini menjadi sumpah. Sebuah ikrar kaum muda akan tekad menjadi satu dalam keberagaman. Menjadi Indonesia tanpa lupa Nusantara. Menjadi satu tanpa mengkhianati masa lalu. 

Oktober 2017. Zaman bergerak cepat. Digitalisme mengubah relasi antarwarga. Jarak menjadi dekat. Karenanya, reaksi kadang menjadi tak terkendali. Meme dan hoaks kerap menjadi peranti komunikasi "zaman now". Seolah dunia dalam genggaman egoisme telepon pintar. 

"Kini hampir seluruh manusia memiliki sistem geopolitik yang sama (seantero planet ini terbagi menjadi negara yang diakui secara internasional); sistem ekonomi yang sama (kekuatan pasar kapitalis bahkan membentuk sudut-sudut paling terpencil di muka bumi); sistem hukum yang sama (hak-hak asasi manusia dan hukum internasional valid di mana pun, paling tidak secara teoretis); dan sistem ilmu pengetahuan yang sama (para ahli di Iran, Israel, Australia, dan Argentina memiliki pandangan yang persis sama tentang struktur atom atau perawatan terhadap tuberkulosis). 

Penjelasan Yuval Harari, dalam Sapiens, ini mungkin dapat menjadi alat bantu dalam membaca peta relasi yang terjadi pada milenium ini.

Lalu, dalam sistem yang sama ini, mengapa seolah pertengkaran seperti tak bisa ditengahi? Seakan selalu ada kita di satu sisi, dan mereka di sudut sana. Pun demikian dengan Indonesia, mengapa seolah ia semakin terbelah? Seakan altruisme kaum muda 1928 begitu asing. Hanya seolah kisah fiksi dari orang-orang muda berpantalon yang dengan takzim mendengar gesekan biola W.R. Supratman. Bahwa, gelora lagu “Indonesia Raya” itu hanya romantisme anak negeri dalam sebuah novel picisan. 

Yuval Harari, dalam buku Sapiens, juga melukiskan relasi milenium ini sebagai sebuah perkelahian dengan memakai belati yang sama. "Mereka bertengkar dan berkelahi, tetapi mereka bertengkar menggunakan konsep-konsep yang sama." Sebuah "benturan peradaban" yang mirip dengan dialog orang tuli. "Tak seorang pun yang bisa menangkap apa yang dikatakan pihak lain." 

Metafora "dialog orang tuli" adalah refleksi atas paradoks zaman ini. Bahwa, dunia kini kian menjadi sempit sekaligus tak terbilang. Sebuah dunia tunggal sekaligus jamak. Sebuah era di mana fakta dibaluri fiksi yang penuh miskalkulasi. Sebuah zaman yang didesak oleh, yang disebut oleh Yuval Harari, konsumerisme romantik. Perkawinan antara romantisme dan konsumerisme, yang disebutnya sebagai "pasar pengalaman tak terbatas".

Setelah altruisme 1928, kaum muda milenial kini yang menjadi penghulu "zaman now". Generasi milenial tentu memiliki romantika sendiri. Semangat zaman dan jarak antara pemuda "rikiplik" dan generasi milenial kini berumur 89 tahun. 

Mungkin baik juga untuk menilik lagi semangat altruisme yang memenuhi pikiran dan hati para pemuka pemuda 1928. Semangat yang membuat orang-orang muda seperti Mr. Sunario Sastrowardoyo, Amir Syarifuddin Harahap, Kartosoewirjo, Mangoensarkoro, Mohammad Roem, A.K. Gani, Kasman Singodimedjo, Sie Kong Liong, Djoko Marsaid, Muhammad Yamin, dan W.R. Supratman merasa perlu bersatu dan menanggalkan egoisme. 

Para pemuda 1928 berkelahi dan bertengkar untuk merumuskan cara hidup bersama. Mereka bersilang gagasan lalu menyalakan kebangsaan Indonesia. Mereka beradu argumentasi mencari cara menyalakan api, bukan bermusuhan dan meributkan abu yang mengaburkan pandangan. 

Indonesia di tahun 1928 adalah konsepsi yang genuine. Pemuda 1928 sadar bahwa mereka berbeda, tapi bukan lantas menyembunyikannya. Bahwa, perbedaan adalah fakta. Dan, karena berbeda lalu menjadi Indonesia. Bukan sebaliknya, berpura-pura sama, lantas memaksakan ke-Indonesia-an. Atau, saling bertikai dan ingin memiliki Indonesia.

Setelah 89 tahun, akankah ikatan dalam semangat altruisme kaum muda di Oktober 1928 itu masih kontekstual di era milenial ini? Atau, kini ia telah bertukar tempat dengan mata uang egoisme?

Jawaban atas pertanyaan ini bergantung pada kejujuran tiap-tiap kita. Akan berkelindan dalam retorika tanpa makna lalu menjadi viral. Atau, bersungguh-sungguh mencari formula bersama dan terus berikhtiar untuk tak memenuhi buku sejarah dengan ketikan typo yang idiotik. Semoga.


#Sumpah Pemuda
#1928
#28 Oktober 1928
#Dadang Rhs
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID