logo rilis
Akademisi: Guru Minta Uang agar Nilai Rapor Siswa Bagus Sama Saja Pungli
Kontributor
Dwi Des Saputra
10 Juni 2021, 21:43 WIB
Akademisi: Guru Minta Uang agar Nilai Rapor Siswa Bagus Sama Saja Pungli
Iustrasi siswa sedang mengikuti ujian.

RILIS.ID, Bandarlampung— Ulah oknum guru SD Negeri 4 Kotakarang, Bandarlampung, yang meminta sejumlah uang untuk memperbaiki nilai rapor siswanya menuai sorotan.

Akademisi Universitas Lampung (Unila) Undang Rosidin mengatakan apa yang dilakukan oknum guru dengan dalih untuk melancarkan proses kenaikan kelas tahun ajaran 2020-2021 tidak dapat dibenarkan.

"Minta uang agar nilai rapor siswa bagus sama saja pungli (pungutan liar). Ini perbuatan tidak dibenarkan," kata Undang, Kamis (10/6/2021).

Menurutnya, pungutan di luar ketentuan adalah tindakan ilegal. “Ini jelas penyimpangan,” lanjutnya.

Undang menegaskan bahwa kepala sekolah memiliki kuasa untuk melakukan pengawasan ketat terhadap tindakan guru-guru yang menyalahi aturan.

“Kepala sekolah harus mengambil tindakan tegas, diperingatakan, kalau masih melakukan, ya dipanggil,” imbuhnya.

Sekolah, masih kata Undang, diperbolehkan menarik sumbangan dengan ketentuan bahwa dana bantuan operasional sekolah (BOS) tidak mencukupi. Namun, prosedurnya harus dirapatkan terlebih dahulu dengan komite sekolah.

“Dana BOS seharusnya dioptimalkan untuk sekolah. Pikirkan juga kebutuhan guru agar tidak terulang kejadian serupa,” ujar dia.

Undang pun menyarankan agar oknum guru segera mengembalikan sejumlah uang yang ia minta ke siswanya.

“Solusinya kepala sekolah memanggil oknum guru tersebut, jika terlanjur memungut maka kembalikan lah. Pandemi ini semua serba sulit, seharusnya guru-guru bijaksana menyikapi ini,” tegasnya.

Ketua Komisi IV DPRD Bandarlampung Darma Setiawan berjanji akan mendorong Disdikbud Bandarlampung untuk mengklarifikasi kebenaran terkait dugaan pungutan tersebut.

“Jangan mendengar dari pihak sekolah saja, tetapi wali murid juga dimintai keterangan. Kita tunggu terlebih dahulu apa hasil dari pengawasan Disdikbud,” katanya.

Sebelumnya, kerabat wali murid Indah Fatmawati menceritakan awalnya kakak kandungnya dipanggil oknum guru tersebut. Sang guru menanyakan kendala siswa selama mengikuti kelas daring.

Indah mengakui anak kakaknya beberapa kali tidak mengumpulkan tugas karena tidak ada kuota internet. Begitu juga untuk absensi. Si guru kemudian memberikan jalan pintas dengan membayar sejumlah uang.

"Kalau anak Ibu mau ada nilainya, silakan sediakan uang Rp200 ribu. Kalau menghadap kepala sekolah justru lebih mahal, biasaya Rp500 ribu,” kata Indah menirukan ucapan guru itu kepada kakaknya.

Indah menyayangkan dugaan pungli tersebut. Apalagi dilakukan di tengah beratnya beban ekonomi masyarakat lantaran pandemi. Dia juga mendapat kabar sama untuk siswa kelas enam.

”Ini ada tetangga saya juga menceritakan pungli serupa dilakukan oknum guru dimaksud," ujarnya, Selasa (8/6/2021).

Sementara itu, Kepala SDN 4 Kotakarang Azimah, mengaku tidak menetapkan tarif. Sebab, itu bukan pungli, tapi sumbangan atas dasar kesukarelaan tidak dipaksakan.

"Kita niat bantu saja, tidak ada yang lain-lain. Sekadar uang capek menulis nilai-nilai yang kurang baik," kata dia.

Ia menerangkan, memang banyak wali murid yang tidak mengumpulkan tugas anaknya selama daring.

”Namun ketika ulangan mereka cepat-cepat datang ke sekolah,” ujarnya.

Dia menyatakan, alasan tidak memiliki kuota tidak dibenarkan. Karena sekolah telah menyiapkan dua alternatif pembelajaran yakni melalui daring dan luring.

"Kalau tidak punya kuota bisa datang ke sekolah setiap Senin untuk minta tugas, kita sudah carikan solusinya," tandasnya. (*)

Editor: Segan Simanjuntak


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID