Restorasi Lahan Jalan Keluar Krisis Pangan - RILIS.ID
Restorasi Lahan Jalan Keluar Krisis Pangan
Elvi R
Jumat | 12/06/2020 10.10 WIB
Restorasi Lahan Jalan Keluar Krisis Pangan
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta – Sawah irigasi di Pulau Jawa yang menjadi andalan utama pemasok beras Indonesia luasannya semakin terbatas. Indonesia terpaksa harus memanfaatkan sawah di lahan kering dan di lahan rawa yang tergolong lahan suboptimal untuk menopang tambahan produksi dari sawah irigasi.

"Tidak ada jalan lain kecuali melakukan intensifikasi dengan merestorasi sawah di lahan suboptimal yang selama ini menghasilkan padi gogo dan padi rawa," kata Ketua Umum Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi), Prof. Dr. Ir. Andi Muhammad Syakir, MS.

Menurut Syakir, problem utama lahan suboptimal adalah produktivitas yang sulit didongkrak karena adanya faktor pembatas. "Berapapun pupuk anorganik dan organik dibenamkan, hasil panen tetap sama seperti garis mendatar. Indonesia harus merestorasi lahan suboptimal itu dengan mengatasi faktor pembatasnya," kata Syakir pada persiapan Webinar Peragi dengan tema Restorasi Lahan untuk Peningkatan Produktivitas Padi dalam Memenuhi Kebutuhan Pangan Saat dan Pasca Pandemi COVID-19.

Faktor pembatas itu salah satunya adalah pH tanah yang rendah alias tanah masam. Pada kondisi masam banyak hara dalam tanah pada bentuk tidak dapat diserap tanaman. Kunci untuk mengatasi pembatas itu berupa pengapuran. "Itu teknologi lama, tetapi jangan dilupakan dengan sedikit modifikasi," kata Syakir. 

Mantan Kepala Badan Litbang Pertanian itu mengatakan pengapuran lahan kering yang di masa lalu menggunakan kalsit dapat diganti dengan dolomit yang mengandung Mg. "Unsur magnesium itu inti klorofil sehingga dapat meningkatkan proses fotosintesis," kata Syakir. Sementara di lahan rawa pengapuran dapat dikombinasikan dengan varietas toleran lahan masam. 

Menurut Syakir, bila produktivitas padi gogo di lahan kering dan padi rawa mampu ditingkatkan 1-2 ton per ha maka problem stok pangan dapat diatasi. "Selama ini rata-rata produktivitas padi gogo di tingkat petani hanya 2,9 ton per hektare. Sementara padi rawa 2-3 ton per hektare. Bila meningkat menjadi 4-5 ton per hektare saja, tambahannya sudah berdampak besar," kata Syakir. Sementara pada sawah irigasi rata-rata 5,2 ton per hektare.

Di tanah air, menurut Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, luas lahan kering eksisting mencapai 17-juta hektare. Masih terdapat lahan kering potensial seluas 24.7-juta hektare yang terdiri dari 5.7-juta hektaredi Kawasan budidaya pertanian (APL), hutan produksi (HP) (14.6-juta hektare) dan 4.4 -juta hektare di Kawasan hutan produksi (HPK) sebagai lahan cadangan. Di luar itu terdapat lahan bekas tambang terlantar dan lahan perkebunan 23-juta hektare, sekitar 6,9-juta hektare yang 30 persen di antaranya dapat dimanfaatkan untuk tanaman sela. 

Sementara luas total lahan rawa mencapai 32,6-juta hektare. Dari luasan itu 20-juta ha potensi untuk pertanian. "Saat ini baru 18 persen setara 3.68-juta hektare yang telah dimanfaatkan untuk pertanian," kata Husnain yang akan memaparkan strategi restorasi lahan pada Webinar itu. Dengan demikian masih ada 16.32-juta hektare (82 persen) yang belum dimanfaatkan. 

Pada Webinar itu Husnain juga akan memaparkan kombinasi pengapuran dengan beragam amelioran lain agar restorasi lahan suboptimal berjalan dengan basis ilmiah. "Banyak kombinasi yang dapat dipilih tergantung lahannya yang spesifik. Contohnya kombinasi dengan batuan fosfat yang mudah larut di lahan masam," kata Husnain.

Sumber Destika Cahyana/Balitbangtan


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID