Soal Dukungan Napoleon, Ade Armando: Bolehkah Habib Rizieq Dipukuli dan Wajahnya Dilumuri Kotoran?
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Soal Dukungan Napoleon, Ade Armando: Bolehkah Habib Rizieq Dipukuli dan Wajahnya Dilumuri Kotoran?

...
RILIS.ID
Jakarta
26 September 2021 - 13:37 WIB
Potret | RILISID
...
Ade Armando. Foto: Tangkapan layar YouTube CokroTV

RILISID, Jakarta — Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI) Ade Armando ramai diperbincangkan di media sosial Twitter pada Minggu (26/9/2021).

Perbincangan itu terjadi setelah Ade Armando menyinggung nama Habib Rizieq Shihab dalam videonya berjudul "KELOMPOK-KELOMPOK ITU MENGIDOLAKAN NAPOLEON BONAPARTE" yang diunggah di kanal YouTube Cokro TV.

Awalnya, Ade membahas dukungan sejumlah tokoh terhadap aksi mantan Kadiv Hubinter Polri Irjen Napoleon Bonaparte yang menganiaya tersangka kasus penistaan agama Muhammad Kece.

Di dalam videonya, Ade menyebut beberapa nama tokoh yang ikut mendukung perbuatan Napoleon Bonaparte.

Ade menilai dukungan berbagai pihak dengan sebuah narasi sangat memprihatinkan. Menurutnya, tidak ada pembenaran terhadap apa yang dilakukan Napoleon.

"Sekarang saya balik, kalau Kece (Muhammad Kece) dipukuli oleh Napoleon, bolehkah Rizieq dipukuli dan wajahnya dilumuri kotoran karena ia sangat menghina agama lain, sementara penodaan agama adalah kejahatan luar biasa," kata Ade sebagaimana dikutip Rilisid di kanal YouTube CokroTV, Minggu (26/9/2021).

Ade pun menjawab bahwa perbuatan memukuli dan melumuri wajah Rizieq dengan kotoran tidak boleh dilakukan.

"Jawabannya tentu saja tidak boleh. Dan itulah yang seharusnya diterapkan dalam kasus Kece," ujarnya.

"Bagaimana mungkin para tokoh masyarakat itu sedemikian sempit cara berpikirnya sehingga mengelu-elukan Napoleon?," lanjut Ade.

Menurutnya, kasus Napoleon ini telah membuka mata publik terhadap sisi hitam kelompok-kelompok Islam.

"Mereka pengecut, mereka tidak peduli dengan supermasi hukum. Mereka tidak memiliki akal sehat," pungkas Ade.

Sebelummya, Polri menyatakan bahwa pihaknya bakal menggelar gelar perkara untuk menentukan tersangka penganiaya tahanan kasus dugaan UU ITE dan penodaan agama Muhamad Kosman alias Muhammad Kece.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono menjelaskan gelar perkara itu akan dilakukan setelah penyidik rampung mengumpulkan barang bukti terkait dengan peristiwa itu.

“Dari alat bukti itu akan dilakukan gelar perkara dan akan menentukan tersangka dalam kasus ini. Yang pasti adalah kasus ini telah ditangani oleh kepolisian dan tentunya akan dituntaskan sesuai aturan perundangan yang berlaku,” katanya, Jumat (17/9/2021).

Rusdi menyebut bahwa tersangka kasus dugaan UU ITE dan penodaan agama itu, dianiaya oleh sesama tahanan di Rumah Tahan (Rutan) Bareskrim Polri.

“Ya betul. Dia salah satu tahanan di Bareskrim Polri, dan yang melakukan penganiayaan diduga sesama penghuni atau tahanan dari Bareskrim Polri juga,” ujarnya.

Dalam hal ini, Kece telah melakukan pelaporan terhadap seseorang yang diduga pelaku penganiayaan tersebut, dengan Nomor 0510/VIII/2021/Bareskrim pada 26 Agustus 2021.

Muhammad Kece ditangkap pada Selasa 24 Agustus, malam sekira pukul 19.30 WITA di Banjar Untal-Untal, Kuta Utara, Bali. Lokasi itu, kata polisi, merupakan tempat persembunyiannya Muhammad Kace.

Muhammad Kece dijerat dengan pasal sangkaan berlapis terkait dengan pernyataannya yang dinilai telah melukai hati umat beragana. Dalam hal ini, ia terancam hukuman penjara hingga enam tahun.

Penyidik menjerat pasal dugaan persangkaan ujaran kebencian berdasarkan SARA menurut Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) hingga penistaan agama.

Dalam hal ini, Muhammad Kece dipersangkakan Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45a ayat (2) UU ITE atau Pasal 156a KUHP. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Soal Dukungan Napoleon, Ade Armando: Bolehkah Habib Rizieq Dipukuli dan Wajahnya Dilumuri Kotoran?

...
RILIS.ID
Jakarta
26 September 2021 - 13:37 WIB
Potret | RILISID
...
Ade Armando. Foto: Tangkapan layar YouTube CokroTV

RILISID, Jakarta — Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI) Ade Armando ramai diperbincangkan di media sosial Twitter pada Minggu (26/9/2021).

Perbincangan itu terjadi setelah Ade Armando menyinggung nama Habib Rizieq Shihab dalam videonya berjudul "KELOMPOK-KELOMPOK ITU MENGIDOLAKAN NAPOLEON BONAPARTE" yang diunggah di kanal YouTube Cokro TV.

Awalnya, Ade membahas dukungan sejumlah tokoh terhadap aksi mantan Kadiv Hubinter Polri Irjen Napoleon Bonaparte yang menganiaya tersangka kasus penistaan agama Muhammad Kece.

Di dalam videonya, Ade menyebut beberapa nama tokoh yang ikut mendukung perbuatan Napoleon Bonaparte.

Ade menilai dukungan berbagai pihak dengan sebuah narasi sangat memprihatinkan. Menurutnya, tidak ada pembenaran terhadap apa yang dilakukan Napoleon.

"Sekarang saya balik, kalau Kece (Muhammad Kece) dipukuli oleh Napoleon, bolehkah Rizieq dipukuli dan wajahnya dilumuri kotoran karena ia sangat menghina agama lain, sementara penodaan agama adalah kejahatan luar biasa," kata Ade sebagaimana dikutip Rilisid di kanal YouTube CokroTV, Minggu (26/9/2021).

Ade pun menjawab bahwa perbuatan memukuli dan melumuri wajah Rizieq dengan kotoran tidak boleh dilakukan.

"Jawabannya tentu saja tidak boleh. Dan itulah yang seharusnya diterapkan dalam kasus Kece," ujarnya.

"Bagaimana mungkin para tokoh masyarakat itu sedemikian sempit cara berpikirnya sehingga mengelu-elukan Napoleon?," lanjut Ade.

Menurutnya, kasus Napoleon ini telah membuka mata publik terhadap sisi hitam kelompok-kelompok Islam.

"Mereka pengecut, mereka tidak peduli dengan supermasi hukum. Mereka tidak memiliki akal sehat," pungkas Ade.

Sebelummya, Polri menyatakan bahwa pihaknya bakal menggelar gelar perkara untuk menentukan tersangka penganiaya tahanan kasus dugaan UU ITE dan penodaan agama Muhamad Kosman alias Muhammad Kece.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono menjelaskan gelar perkara itu akan dilakukan setelah penyidik rampung mengumpulkan barang bukti terkait dengan peristiwa itu.

“Dari alat bukti itu akan dilakukan gelar perkara dan akan menentukan tersangka dalam kasus ini. Yang pasti adalah kasus ini telah ditangani oleh kepolisian dan tentunya akan dituntaskan sesuai aturan perundangan yang berlaku,” katanya, Jumat (17/9/2021).

Rusdi menyebut bahwa tersangka kasus dugaan UU ITE dan penodaan agama itu, dianiaya oleh sesama tahanan di Rumah Tahan (Rutan) Bareskrim Polri.

“Ya betul. Dia salah satu tahanan di Bareskrim Polri, dan yang melakukan penganiayaan diduga sesama penghuni atau tahanan dari Bareskrim Polri juga,” ujarnya.

Dalam hal ini, Kece telah melakukan pelaporan terhadap seseorang yang diduga pelaku penganiayaan tersebut, dengan Nomor 0510/VIII/2021/Bareskrim pada 26 Agustus 2021.

Muhammad Kece ditangkap pada Selasa 24 Agustus, malam sekira pukul 19.30 WITA di Banjar Untal-Untal, Kuta Utara, Bali. Lokasi itu, kata polisi, merupakan tempat persembunyiannya Muhammad Kace.

Muhammad Kece dijerat dengan pasal sangkaan berlapis terkait dengan pernyataannya yang dinilai telah melukai hati umat beragana. Dalam hal ini, ia terancam hukuman penjara hingga enam tahun.

Penyidik menjerat pasal dugaan persangkaan ujaran kebencian berdasarkan SARA menurut Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) hingga penistaan agama.

Dalam hal ini, Muhammad Kece dipersangkakan Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45a ayat (2) UU ITE atau Pasal 156a KUHP. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya