Quraish Shihab soal Pria Tendang Sesajen di Semeru: Itu Kepercayaannya, Kenapa Diganggu?
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Quraish Shihab soal Pria Tendang Sesajen di Semeru: Itu Kepercayaannya, Kenapa Diganggu?

...
RILIS.ID
Jakarta
15 Januari 2022 - 20:47 WIB
Potret | RILISID
...
Foto: Tangkapan layar YouTube Najwa Shihab

RILISID, Jakarta — Pendiri Pusat Studi Al-Qur'an M. Quraish Shihab menanggapi aksi seorang pria yang menendang sesajen di lokasi erupsi Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur.

Aksi pria yang menyingkirkan sejumlah sesajen sambil berteriak takbir itu viral di media sosial beberapa waktu lalu.

"Menghormati itu bukan berarti setuju. Itu adatnya, itu kebiasaannya, itu kepercayaannya. Kenapa diganggu,” kata Quraish seperti dilihat Rilisid di kanal YouTube Najwa Shihab, Sabtu (15/1/2022).

Ia menjelaskan bahwa menghormati tradisi orang berlainan keyakinan adalah untuk menjaga kerukunan lintas agama.

Menurutnya, jika umat Islam tidak bisa menghormati keyakinan umat lain, maka kerukunan antarumat bakal sulit tercipta.

Quraish kemudian mengutip Al-Qur’an surat al-An’am ayat 108; "Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah. Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan".

“Memaki saja tidak boleh, apalagi menendang,” ia menambahkan.

Lebih lanjut, Quraish mengungkapkan bahwa sesajen dinilai sebagai bentuk perbuatan sirik dan konsekuensinya mendapat siksa dari Allah.

Namun, kata dia, hal itu menjadi hak prerogatif Allah kelak di hari pambalasan. Ia menyatakan turun atau tidaknya murka bagi pelaku juga atas izin Allah. Manusia tidak memiliki hak untuk mengadili.

"Tidak apa-apa, nanti Tuhan yang akan menentukan di hari kemudian, apa pandangan Tuhan, keputusan Tuan terhadap mereka. Jadi mestinya, itu jangan ditendang,” terangnya.

Quraish juga menerangkan bahwa adat dalam pandangan Islam dibagi menjadi tiga. Pertama, adat yang sesuai ajaran Islam dan biasa disebut dengan istilah ma’ruf.

Untuk jenis ini, masih menurutnya, umat Muslim dianjurkan untuk menegakkannya.

“Manusia diperintahkan untuk menegakkan yang ma’ruf. Apa yang kamu anggap baik di dalam masyarakatmu dan itu sejalan dengan tuntutan agama atau tidak bertentangan, tegakkan itu,” imbuhnya.

Kedua, adat yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Sikap umat Muslim pada jenis kedua ini adalah tetap menghormatinya, sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur’an surat Al-Kafirun ayat 6 yang artinya, 'Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.'

Ketiga, adat yang bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi masih bisa ‘diislamkan’. Untuk  jenis adat yang ini, sikap umat Muslim adalah tetap mengakomodasinya sembari menghilangkan nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam sebagaimana sudah banyak dilakukan oleh para Wali Songo.

Quraish mencontohkan adat Siraman, yaitu salah satu prosesi dari rangkaian pernikahan dalam adat Jawa dengan memandikan calon pengantin yang biasa dilakukan satu hari sebelum prosesi.

Praktik mandinya tidak apa-apa karena Islam sangat menganjurkan kebersihan. Akan tetapi, jika terdapat nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam, tinggal diluruskan.

“Jadi, jangan terlalu kaku. Di setiap daerah ada adatnya, ada kebiasaannya. Dan kembali lagi, setiap amal itu tergantung dengan niatnya,” pungkas Quraish. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Populer

Tag Populer

Pilihan

Baca Juga

Quraish Shihab soal Pria Tendang Sesajen di Semeru: Itu Kepercayaannya, Kenapa Diganggu?

...
RILIS.ID
Jakarta
15 Januari 2022 - 20:47 WIB
Potret | RILISID
...
Foto: Tangkapan layar YouTube Najwa Shihab

RILISID, Jakarta — Pendiri Pusat Studi Al-Qur'an M. Quraish Shihab menanggapi aksi seorang pria yang menendang sesajen di lokasi erupsi Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur.

Aksi pria yang menyingkirkan sejumlah sesajen sambil berteriak takbir itu viral di media sosial beberapa waktu lalu.

"Menghormati itu bukan berarti setuju. Itu adatnya, itu kebiasaannya, itu kepercayaannya. Kenapa diganggu,” kata Quraish seperti dilihat Rilisid di kanal YouTube Najwa Shihab, Sabtu (15/1/2022).

Ia menjelaskan bahwa menghormati tradisi orang berlainan keyakinan adalah untuk menjaga kerukunan lintas agama.

Menurutnya, jika umat Islam tidak bisa menghormati keyakinan umat lain, maka kerukunan antarumat bakal sulit tercipta.

Quraish kemudian mengutip Al-Qur’an surat al-An’am ayat 108; "Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah. Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan".

“Memaki saja tidak boleh, apalagi menendang,” ia menambahkan.

Lebih lanjut, Quraish mengungkapkan bahwa sesajen dinilai sebagai bentuk perbuatan sirik dan konsekuensinya mendapat siksa dari Allah.

Namun, kata dia, hal itu menjadi hak prerogatif Allah kelak di hari pambalasan. Ia menyatakan turun atau tidaknya murka bagi pelaku juga atas izin Allah. Manusia tidak memiliki hak untuk mengadili.

"Tidak apa-apa, nanti Tuhan yang akan menentukan di hari kemudian, apa pandangan Tuhan, keputusan Tuan terhadap mereka. Jadi mestinya, itu jangan ditendang,” terangnya.

Quraish juga menerangkan bahwa adat dalam pandangan Islam dibagi menjadi tiga. Pertama, adat yang sesuai ajaran Islam dan biasa disebut dengan istilah ma’ruf.

Untuk jenis ini, masih menurutnya, umat Muslim dianjurkan untuk menegakkannya.

“Manusia diperintahkan untuk menegakkan yang ma’ruf. Apa yang kamu anggap baik di dalam masyarakatmu dan itu sejalan dengan tuntutan agama atau tidak bertentangan, tegakkan itu,” imbuhnya.

Kedua, adat yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Sikap umat Muslim pada jenis kedua ini adalah tetap menghormatinya, sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur’an surat Al-Kafirun ayat 6 yang artinya, 'Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.'

Ketiga, adat yang bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi masih bisa ‘diislamkan’. Untuk  jenis adat yang ini, sikap umat Muslim adalah tetap mengakomodasinya sembari menghilangkan nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam sebagaimana sudah banyak dilakukan oleh para Wali Songo.

Quraish mencontohkan adat Siraman, yaitu salah satu prosesi dari rangkaian pernikahan dalam adat Jawa dengan memandikan calon pengantin yang biasa dilakukan satu hari sebelum prosesi.

Praktik mandinya tidak apa-apa karena Islam sangat menganjurkan kebersihan. Akan tetapi, jika terdapat nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam, tinggal diluruskan.

“Jadi, jangan terlalu kaku. Di setiap daerah ada adatnya, ada kebiasaannya. Dan kembali lagi, setiap amal itu tergantung dengan niatnya,” pungkas Quraish. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya