Serangan Pendukung Ganjar ke Puan Dinilai Blunder dan Peruncing Polemik
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Serangan Pendukung Ganjar ke Puan Dinilai Blunder dan Peruncing Polemik

...
Segan Simanjuntak
Jakarta
24 Mei 2021 - 21:20 WIB
Elektoral | RILISID
...
Puan Maharani. ILUSTRASI: RILIS.ID

RILISID, Jakarta — Perseteruan Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Puan Maharani dan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo terus berlanjut.

Bahkan pendukung Ganjar ramai-ramai menyerang Ketua DPR itu melalui akun Instagram pribadinya @puanmaharani.

"WALAUPUN PAK GANJAR TAK DIUNDANG...KAMI TETEP PILIH PAK GANJAR SEBAGAI PRESIDEN THN 2024,KALO ANDA SAYA DUKUNG JADI PRESIDEN KE 2024...," tulis salah seorang netizen di kolom komentar unggahan Puan pada Minggu (24/5/2021).

"Tetap Pak GANJAR PRANOWO," ujar netizen lainnya.

"presiden saya pilih pk.ganjar," timpal netizen yang lain.

Menanggapi hal itu, pengamat politik dari Institute for Digital Demoracy (IDD) Yogyakarta Bambang Arianto menilai serangan pendukung Ganjar itu tidak perlu terjadi karena memperuncing polemik.

"Serangan pendukung Ganjar ke Puan dengan beberapa komentar yang sebenarnya tidak perlu justru semakin membuat blunder dan bisa memperuncing polemik,” kata Bambang dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/5/2021).

Akan lebih baik, lanjutnya, akun-akun pendukung Ganjar memperbanyak mempromosikan atau mengunggah konten berisi kinerja yang telah ditorehkan sang gubernur.

"Sebab konten-konten ini justru akan membuat publik semakin mengenal rekam jejak dari Ganjar Pranowo,” ujarnya.

Menurut dia, pernyataan Puan dengan menyebutkan bahwa pemimpin harus di lapangan dan bukan di media sosial seolah tengah mengkritik sosok Ganjar sebagai Gubernur Jateng.

Apalagi, kata Bambang, pernyataan tersebut diutarakan dalam hajatan pengarahan Pilpres 2024 yang digelar oleh PDI Perjuangan di Jawa Tengah beberapa hari lalu.

Pada saat bersamaan, Ganjar sebagai orang nomor satu di Jawa Tengah justru tidak hadir karena tak diundang.

"Pernyataan tersebut merupakan suatu kritik terhadap sosok Ganjar yang tengah jadi bahan evaluasi PDI Perjuangan pastinya. Apalagi selama ini dia dirumorkan akan menjadi kandidat terkuat calon presiden di Pilpres 2024,” ungkapnya.

Lebih lanjut Bambang menyatakan kritik yang diutarakan Puan merupakan pertanda baik bagi kelembagaan partai politik.

Sebab menurutnya, tidak banyak elite partai  berani memberikan kritik terhadap kadernya secara langsung di hadapan publik. Hal itu tentu akan memantik kegaduhan, terutama di media sosial.

"Yang dampaknya bisa ikut mendongkrak elektabilitas figur atau justru sebaliknya. Selain itu tidak baik juga bila pernyataan Puan Marahani, kemudian ditafsirkan sebagai bagian dari kontestasi capres di Pilpres 2024," tuturnya.

Apalagi PDI Perjuangan bukan partai baru yang terburu-buru dalam menentukan capres. Bahkan karakter partai berlambang banteng bermoncong putih itu justru selalu identik menggunakan last minute dalam memutuskan calon yang diusungnya.

"Oleh sebab itu, pernyataan tersebut harus dimaknai sebagai saluran 'evaluasi' kepada sosok Ganjar. Dengan kata lain bila nanti Ganjar tidak memenuhi arahan partai politik, maka bisa jadi pada Pilpres 2024, PDI Perjuangan akan mencalonkan figur lain,” ujarnya.

Bambang menambahkan pernyataan Puan akan lebih bijak dimaknai sebagai sentilan untuk sosok Ganjar.

"Sebelum dipinang menjadi calon presiden dari PDI Perjuangan," pungkasnya. (*)

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Serangan Pendukung Ganjar ke Puan Dinilai Blunder dan Peruncing Polemik

...
Segan Simanjuntak
Jakarta
24 Mei 2021 - 21:20 WIB
Elektoral | RILISID
...
Puan Maharani. ILUSTRASI: RILIS.ID

RILISID, Jakarta — Perseteruan Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Puan Maharani dan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo terus berlanjut.

Bahkan pendukung Ganjar ramai-ramai menyerang Ketua DPR itu melalui akun Instagram pribadinya @puanmaharani.

"WALAUPUN PAK GANJAR TAK DIUNDANG...KAMI TETEP PILIH PAK GANJAR SEBAGAI PRESIDEN THN 2024,KALO ANDA SAYA DUKUNG JADI PRESIDEN KE 2024...," tulis salah seorang netizen di kolom komentar unggahan Puan pada Minggu (24/5/2021).

"Tetap Pak GANJAR PRANOWO," ujar netizen lainnya.

"presiden saya pilih pk.ganjar," timpal netizen yang lain.

Menanggapi hal itu, pengamat politik dari Institute for Digital Demoracy (IDD) Yogyakarta Bambang Arianto menilai serangan pendukung Ganjar itu tidak perlu terjadi karena memperuncing polemik.

"Serangan pendukung Ganjar ke Puan dengan beberapa komentar yang sebenarnya tidak perlu justru semakin membuat blunder dan bisa memperuncing polemik,” kata Bambang dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/5/2021).

Akan lebih baik, lanjutnya, akun-akun pendukung Ganjar memperbanyak mempromosikan atau mengunggah konten berisi kinerja yang telah ditorehkan sang gubernur.

"Sebab konten-konten ini justru akan membuat publik semakin mengenal rekam jejak dari Ganjar Pranowo,” ujarnya.

Menurut dia, pernyataan Puan dengan menyebutkan bahwa pemimpin harus di lapangan dan bukan di media sosial seolah tengah mengkritik sosok Ganjar sebagai Gubernur Jateng.

Apalagi, kata Bambang, pernyataan tersebut diutarakan dalam hajatan pengarahan Pilpres 2024 yang digelar oleh PDI Perjuangan di Jawa Tengah beberapa hari lalu.

Pada saat bersamaan, Ganjar sebagai orang nomor satu di Jawa Tengah justru tidak hadir karena tak diundang.

"Pernyataan tersebut merupakan suatu kritik terhadap sosok Ganjar yang tengah jadi bahan evaluasi PDI Perjuangan pastinya. Apalagi selama ini dia dirumorkan akan menjadi kandidat terkuat calon presiden di Pilpres 2024,” ungkapnya.

Lebih lanjut Bambang menyatakan kritik yang diutarakan Puan merupakan pertanda baik bagi kelembagaan partai politik.

Sebab menurutnya, tidak banyak elite partai  berani memberikan kritik terhadap kadernya secara langsung di hadapan publik. Hal itu tentu akan memantik kegaduhan, terutama di media sosial.

"Yang dampaknya bisa ikut mendongkrak elektabilitas figur atau justru sebaliknya. Selain itu tidak baik juga bila pernyataan Puan Marahani, kemudian ditafsirkan sebagai bagian dari kontestasi capres di Pilpres 2024," tuturnya.

Apalagi PDI Perjuangan bukan partai baru yang terburu-buru dalam menentukan capres. Bahkan karakter partai berlambang banteng bermoncong putih itu justru selalu identik menggunakan last minute dalam memutuskan calon yang diusungnya.

"Oleh sebab itu, pernyataan tersebut harus dimaknai sebagai saluran 'evaluasi' kepada sosok Ganjar. Dengan kata lain bila nanti Ganjar tidak memenuhi arahan partai politik, maka bisa jadi pada Pilpres 2024, PDI Perjuangan akan mencalonkan figur lain,” ujarnya.

Bambang menambahkan pernyataan Puan akan lebih bijak dimaknai sebagai sentilan untuk sosok Ganjar.

"Sebelum dipinang menjadi calon presiden dari PDI Perjuangan," pungkasnya. (*)

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya