Loncat ke NasDem, Eks Satgas PDIP Dinilai Khianati Megawati dan Tak Elok
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Loncat ke NasDem, Eks Satgas PDIP Dinilai Khianati Megawati dan Tak Elok

...
RILIS.ID
Bandarlampung
14 Oktober 2021 - 21:04 WIB
Politika | RILISID
...
Pengamat politik Universitas Lampung Budi Kurniawan. Ilustrasi: Rilsiid/Kalbi Rikardo

RILISID, Bandarlampung — Mundur dari PDI Perjuangan (PDIP) yang sudah membesarkan namanya, Herman HN kini menahkodai Partai NasDem Lampung.

Kepindahan mantan ketua Satuan Tugas (Satgas) PDIP Cakrabuana Lampung itu terus menuai kontroversi.

Apalagi mengingat istrinya, Eva Dwiana merupakan kader PDIP dan menjabat wakil ketua Bidang Pariwisata DPD PDIP Lampung.

Pengamat politik Universitas Lampung (Unila) Budi Kurniawan menilai dalam politik 'mengkhianati' itu sudah biasa.

Secara etika dan fatsun politik, kata Budi, politisi kutu loncat sangat tidak elok.

Berbagai spekulasi politik pun bermunculan, salah satunya soal nasib sang istri, Eva Dwiana yang saat ini menjabat wali kota Bandarlampung.

Menurut Budi, kepindahan Herman HN dari PDIP ke NasDem pasti berdampak terhadap Eva Dwiana.

Namun, sambungnya, hal ini tidak terlalu berpengaruh. Sebab, target utama Eva menjadi wali kota Bandarlampung melalui PDIP sudah tercapai.

"Bahkan apabila Eva kembali mencalonkan diri sebagai wali kota, dia sudah memiliki kendaraan sendiri. Yakni NasDem," ujar Budi seperti dikutip dari Rilisid Lampung, Kamis (14/10/2021).

Dari sisi Herman HN sendiri, Budi berpendapat tidak akan kehilangan apa-apa. Karena keuntungan maksimal sudah didapat, yakni menjadikan Eva Dwiana sebagai wali kota.

Soal peluang Herman HN apabila maju Pilgub 2024 dengan NasDem, tenaga pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) itu menyebut kansnya tetap terbuka lebar.

Tetapi siapa yang menang tidak hanya ditentukan parpol karena pemilih di Lampung umumnya menyukai 'pesta', tapi lemah diidentifikasi kualitas calon.

Polanya pun selalu sama, yakni siapa yang paling banyak jorjoran uang, peluang menang lebih besar. Maka perlu sponsor.

Hal itu yang menurut Budi, menjadi tugas Herman HN untuk menang, bisakah mendapat sponsor dengan uang banyak?

"Sedih ya tetapi itulah kenyataan. Herman HN juga sudah membuktikan kinerjanya sebagai wali kota dengan prestasi pembangunan infrastruktur," pungkasnya. (*)

Laporan: Sulaiman, Bandarlampung

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Loncat ke NasDem, Eks Satgas PDIP Dinilai Khianati Megawati dan Tak Elok

...
RILIS.ID
Bandarlampung
14 Oktober 2021 - 21:04 WIB
Politika | RILISID
...
Pengamat politik Universitas Lampung Budi Kurniawan. Ilustrasi: Rilsiid/Kalbi Rikardo

RILISID, Bandarlampung — Mundur dari PDI Perjuangan (PDIP) yang sudah membesarkan namanya, Herman HN kini menahkodai Partai NasDem Lampung.

Kepindahan mantan ketua Satuan Tugas (Satgas) PDIP Cakrabuana Lampung itu terus menuai kontroversi.

Apalagi mengingat istrinya, Eva Dwiana merupakan kader PDIP dan menjabat wakil ketua Bidang Pariwisata DPD PDIP Lampung.

Pengamat politik Universitas Lampung (Unila) Budi Kurniawan menilai dalam politik 'mengkhianati' itu sudah biasa.

Secara etika dan fatsun politik, kata Budi, politisi kutu loncat sangat tidak elok.

Berbagai spekulasi politik pun bermunculan, salah satunya soal nasib sang istri, Eva Dwiana yang saat ini menjabat wali kota Bandarlampung.

Menurut Budi, kepindahan Herman HN dari PDIP ke NasDem pasti berdampak terhadap Eva Dwiana.

Namun, sambungnya, hal ini tidak terlalu berpengaruh. Sebab, target utama Eva menjadi wali kota Bandarlampung melalui PDIP sudah tercapai.

"Bahkan apabila Eva kembali mencalonkan diri sebagai wali kota, dia sudah memiliki kendaraan sendiri. Yakni NasDem," ujar Budi seperti dikutip dari Rilisid Lampung, Kamis (14/10/2021).

Dari sisi Herman HN sendiri, Budi berpendapat tidak akan kehilangan apa-apa. Karena keuntungan maksimal sudah didapat, yakni menjadikan Eva Dwiana sebagai wali kota.

Soal peluang Herman HN apabila maju Pilgub 2024 dengan NasDem, tenaga pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) itu menyebut kansnya tetap terbuka lebar.

Tetapi siapa yang menang tidak hanya ditentukan parpol karena pemilih di Lampung umumnya menyukai 'pesta', tapi lemah diidentifikasi kualitas calon.

Polanya pun selalu sama, yakni siapa yang paling banyak jorjoran uang, peluang menang lebih besar. Maka perlu sponsor.

Hal itu yang menurut Budi, menjadi tugas Herman HN untuk menang, bisakah mendapat sponsor dengan uang banyak?

"Sedih ya tetapi itulah kenyataan. Herman HN juga sudah membuktikan kinerjanya sebagai wali kota dengan prestasi pembangunan infrastruktur," pungkasnya. (*)

Laporan: Sulaiman, Bandarlampung

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya