Promosikan Peace Village Initiative, Wahid Foundation dan PUSPA UIN Sunan Ampel Gelar Webinar
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Promosikan Peace Village Initiative, Wahid Foundation dan PUSPA UIN Sunan Ampel Gelar Webinar

...
RILIS.ID
Surabaya
19 Agustus 2021 - 11:33 WIB
Peristiwa | RILISID
...
Suasana webinar yang digelar Wahid Foundation bersama PUSPA UIN Sunan Ampel.Foto: Istimewa.

RILISID, Surabaya — Upaya penyebarluasan dan promosi Peace Village Initiative di universitas-universitas dilakukan Wahid Foundation bersama Pusat Studi Pancasila dan Agama/PUSPA Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya.

Upaya tesebut dilakukan dengan menginisiasi webinar bertemakan ”Desa dan Universitas; Bagaimana Promosi Toleransi Desa Damai bisa Bersinergi dengan Universitas?”.

Tujuan webinar tersebut agar komunitas pemuda dapat dengan mudah mempelajari model-model perdamaian dan menginspirasi mereka untuk membangun gerakan perdamaian.

Sebagai pembicara pertama dalam webinar tersebut adalah Visna Vulovik dari Koordinator Program Desa Damai Wahid Foundation. Ia menceritakan pengalamannya dalam mengelola program Desa Damai Wahid Foundation.

Visna menjelaskan, Desa Damai yang digagas sejak 2017 dilatarbelakangi fakta bahwa sampai saat ini, Indonesia masih menghadapi peningkatan radikalisme/terorisme atas nama agama.

Menurutnya, Wahid Foundation sejak 2017 menginisiasi program Desa/Kelurahan Damai di sejumlah wilayah di Indonesia. Desa Kelurahan Damai merupakan bagian dari gagasan besar yang berkontribusi pada pencegahan atas isu ekstrimisme kekerasan (preventing violent extremism), sekaligus membangun ketahanan masyarakat (building resilient society).

”Upaya Wahid Foundation tersebut sejalan di tengah fakta bahwa hingga saat ini, Indonesia masih menghadapi peningkatan radikalisme/terorisme atas nama agama,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Rilis.id, Rabu (18/8/2021).

Visna mengungkapkan, Wahid Foundation telah melibatkan banyak stakeholder untuk mendukung implementasi desa damai, seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, dan kelompok masyarakat. Meski demikian, masih minimnya dukungan universitas dalam inisiasi perdamaian di akar rumput mendorong Wahid Foundation melakukan kerjasama dengan dunia kampus.

”Padahal, salah satu bagian dari tri dharma perguruan tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat dan itu menyiratkan adanya koneksi antara kedua entitas tersebut,” ucapnya.

Karena itu, terus dia, Wahid Foundation bekerjasama dengan berbagai pihak, salah satunya Pusat Studi Pancasila dan Agama UIN Sunan Ampel Surabaya menginisiasi kegiatan Desa dan Universitas. Tujuannya jelas untuk mempromosikan Peace Village Initiative di kampus-kampus.

Sementara, pembicara kedua Dr. Nabila Laily yang merupakan Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya berbicara tentang perempuan dan perdamaian.

Dia menjelaskan, perempuan memiliki potensi menjadi ibu, karena itu seringkali seorang perempuan akan menjadi ”sekolah pertama” bagi pendidikan anak-anaknya. Oleh karena itu, perempuan memiliki keunikan dalam potensi dan peran dalam upaya-upaya perdamaian di akar rumput. 

”Kenapa perempuan memiliki keunikan potensi dan peran untuk perdamaian? Bisa jadi karena faktor Nurture Habit/budaya,” terangnya.

Kemudian, keterlibatan intensif di tengah kegiatan masyarakat seperti pengajian yang rutin, PKK, Posyandu, dan sebagainya lebih didominasi perempuan. Bahkan perempuan juga pendidik/sekolah awal bagi anak-anak.

Terkait hal tersebut, Laily mengatakan, perempuan dengan segala potensi dan fakta multi perannya justru bisa menjadi front-lead atau aktor utama membangun perdamaian.

Selain itu, terkait hubungan kampus dan masyarakat, Laily menilai kolaborasi dan berjejaring adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari saat ini untuk meningkatkan efektivitas.

Juga merupakan salah satu kunci penting demi penguatan ke depan. Penguatan jejaring dan kolaborasi pada dasarnya meningkatkan efektifitas karena orang, keahlian, pengetahuan, waktu, potensi dan aset semakin beragam dan berlimpah.

Di sisi lain, Laily juga menekankan kolaborasi antara kampus-masyarakat harus dikuatkan dengan menekankan aspek teoritis melalui riset yang umumnya dilakukan oleh kampus dan aspek praksis dengan terjun langsung terjun ke masyarakat. Dua hal ini tidak boleh dan perlu dikotomikan atau dipisahkan untuk berjalan sendiri-sendiri.

Kemudian, pembicara terakhir dari Peneliti Pusat Studi Pancasila dan Agama UIN Sunan Ampel Surabaya M. Ilyas Rolis menyampaikan pembahasan tentang potensi bertahan dan berkembangnya desa damai di tengah-tengah masyarakat.

Ilyas menjelaskan, banyak orang hari ini telah menggeser paradigma mereka ke paradigma lokal. Ia mengatakan, desa damai bukan saja berbicara soal konflik atau soal perdamaian, namun lebih jauh berbicara soal keadilan.

”Desa damai itu harus berbicara soal keadilan yang merupakan esensi dari perdamaian,” ujarnya.

Ilyas menilai, perlu adanya pendefinisian ulang soal desa. Desa harus direbut kembali sebagai ruang sosial kultural masyarakat, bukan semata ruang unit terkecil dari pertumbuhan ekonomi masyarakat sebagaimana amanat Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Selain itu, desa perlu dibangun kembali sebagai ruang kesejahteraan berbasis kekerabatan dan pertanian atau kekeluargaan.

Acara yang dimoderatori M. Helmi Umam, yang merupakan peneliti Pusat Studi Pancasila dan Agama UIN Sunan Ampel Surabaya itu dibuka oleh Mujtaba Hamdi selaku Direktur Eksekutif Wahid Foundation dan dihadiri 50 peserta.

Kegiatan itu juga dihadiri perwakilan Desa Damai Sidomulyo, Batu dan perwakilan Desa Damai Sumenep, Madura sebagai penanggap.(*)

Editor : Wirahadikusumah

TAG:

Berita Lainnya

Promosikan Peace Village Initiative, Wahid Foundation dan PUSPA UIN Sunan Ampel Gelar Webinar

...
RILIS.ID
Surabaya
19 Agustus 2021 - 11:33 WIB
Peristiwa | RILISID
...
Suasana webinar yang digelar Wahid Foundation bersama PUSPA UIN Sunan Ampel.Foto: Istimewa.

RILISID, Surabaya — Upaya penyebarluasan dan promosi Peace Village Initiative di universitas-universitas dilakukan Wahid Foundation bersama Pusat Studi Pancasila dan Agama/PUSPA Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya.

Upaya tesebut dilakukan dengan menginisiasi webinar bertemakan ”Desa dan Universitas; Bagaimana Promosi Toleransi Desa Damai bisa Bersinergi dengan Universitas?”.

Tujuan webinar tersebut agar komunitas pemuda dapat dengan mudah mempelajari model-model perdamaian dan menginspirasi mereka untuk membangun gerakan perdamaian.

Sebagai pembicara pertama dalam webinar tersebut adalah Visna Vulovik dari Koordinator Program Desa Damai Wahid Foundation. Ia menceritakan pengalamannya dalam mengelola program Desa Damai Wahid Foundation.

Visna menjelaskan, Desa Damai yang digagas sejak 2017 dilatarbelakangi fakta bahwa sampai saat ini, Indonesia masih menghadapi peningkatan radikalisme/terorisme atas nama agama.

Menurutnya, Wahid Foundation sejak 2017 menginisiasi program Desa/Kelurahan Damai di sejumlah wilayah di Indonesia. Desa Kelurahan Damai merupakan bagian dari gagasan besar yang berkontribusi pada pencegahan atas isu ekstrimisme kekerasan (preventing violent extremism), sekaligus membangun ketahanan masyarakat (building resilient society).

”Upaya Wahid Foundation tersebut sejalan di tengah fakta bahwa hingga saat ini, Indonesia masih menghadapi peningkatan radikalisme/terorisme atas nama agama,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Rilis.id, Rabu (18/8/2021).

Visna mengungkapkan, Wahid Foundation telah melibatkan banyak stakeholder untuk mendukung implementasi desa damai, seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, dan kelompok masyarakat. Meski demikian, masih minimnya dukungan universitas dalam inisiasi perdamaian di akar rumput mendorong Wahid Foundation melakukan kerjasama dengan dunia kampus.

”Padahal, salah satu bagian dari tri dharma perguruan tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat dan itu menyiratkan adanya koneksi antara kedua entitas tersebut,” ucapnya.

Karena itu, terus dia, Wahid Foundation bekerjasama dengan berbagai pihak, salah satunya Pusat Studi Pancasila dan Agama UIN Sunan Ampel Surabaya menginisiasi kegiatan Desa dan Universitas. Tujuannya jelas untuk mempromosikan Peace Village Initiative di kampus-kampus.

Sementara, pembicara kedua Dr. Nabila Laily yang merupakan Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya berbicara tentang perempuan dan perdamaian.

Dia menjelaskan, perempuan memiliki potensi menjadi ibu, karena itu seringkali seorang perempuan akan menjadi ”sekolah pertama” bagi pendidikan anak-anaknya. Oleh karena itu, perempuan memiliki keunikan dalam potensi dan peran dalam upaya-upaya perdamaian di akar rumput. 

”Kenapa perempuan memiliki keunikan potensi dan peran untuk perdamaian? Bisa jadi karena faktor Nurture Habit/budaya,” terangnya.

Kemudian, keterlibatan intensif di tengah kegiatan masyarakat seperti pengajian yang rutin, PKK, Posyandu, dan sebagainya lebih didominasi perempuan. Bahkan perempuan juga pendidik/sekolah awal bagi anak-anak.

Terkait hal tersebut, Laily mengatakan, perempuan dengan segala potensi dan fakta multi perannya justru bisa menjadi front-lead atau aktor utama membangun perdamaian.

Selain itu, terkait hubungan kampus dan masyarakat, Laily menilai kolaborasi dan berjejaring adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari saat ini untuk meningkatkan efektivitas.

Juga merupakan salah satu kunci penting demi penguatan ke depan. Penguatan jejaring dan kolaborasi pada dasarnya meningkatkan efektifitas karena orang, keahlian, pengetahuan, waktu, potensi dan aset semakin beragam dan berlimpah.

Di sisi lain, Laily juga menekankan kolaborasi antara kampus-masyarakat harus dikuatkan dengan menekankan aspek teoritis melalui riset yang umumnya dilakukan oleh kampus dan aspek praksis dengan terjun langsung terjun ke masyarakat. Dua hal ini tidak boleh dan perlu dikotomikan atau dipisahkan untuk berjalan sendiri-sendiri.

Kemudian, pembicara terakhir dari Peneliti Pusat Studi Pancasila dan Agama UIN Sunan Ampel Surabaya M. Ilyas Rolis menyampaikan pembahasan tentang potensi bertahan dan berkembangnya desa damai di tengah-tengah masyarakat.

Ilyas menjelaskan, banyak orang hari ini telah menggeser paradigma mereka ke paradigma lokal. Ia mengatakan, desa damai bukan saja berbicara soal konflik atau soal perdamaian, namun lebih jauh berbicara soal keadilan.

”Desa damai itu harus berbicara soal keadilan yang merupakan esensi dari perdamaian,” ujarnya.

Ilyas menilai, perlu adanya pendefinisian ulang soal desa. Desa harus direbut kembali sebagai ruang sosial kultural masyarakat, bukan semata ruang unit terkecil dari pertumbuhan ekonomi masyarakat sebagaimana amanat Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Selain itu, desa perlu dibangun kembali sebagai ruang kesejahteraan berbasis kekerabatan dan pertanian atau kekeluargaan.

Acara yang dimoderatori M. Helmi Umam, yang merupakan peneliti Pusat Studi Pancasila dan Agama UIN Sunan Ampel Surabaya itu dibuka oleh Mujtaba Hamdi selaku Direktur Eksekutif Wahid Foundation dan dihadiri 50 peserta.

Kegiatan itu juga dihadiri perwakilan Desa Damai Sidomulyo, Batu dan perwakilan Desa Damai Sumenep, Madura sebagai penanggap.(*)

Editor : Wirahadikusumah

TAG:

Berita Lainnya