Kecewa Penanganan Corona di Lampung, Legislator PKB: Jangan Sampai Korban Terus Bergeletakan!
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Kecewa Penanganan Corona di Lampung, Legislator PKB: Jangan Sampai Korban Terus Bergeletakan!

...
RILIS.ID
Bandarlampung
19 Agustus 2021 - 12:46 WIB
Peristiwa | RILISID
...
Ilustrasi: Rilisid/Kalbi

RILISID, Bandarlampung — Anggota Komisi V DPRD Lampung Maulidah Zauroh buka suara terkait kemarahannya dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Dinas Kesehatan Lampung hingga videonya beredar luas di media sosial.

Maulidah membenarkan video yang beredar tersebut. Menurutnya, Komisi V memang sedang RDP dengan Dinas Kesehatan Lampung pada Senin (16/8/2021).

Saat itu, legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini sempat emosi hingga menggebrak meja dan menangis karena kecewa penanganan Covid-19 di Lampung.

Dia mengatakan, pada prinsipnya mendorong Pemerintah Provinsi Lampung untuk lebih proaktif mengatasi pencegahan dan penanganan Covid-19 di Lampung.

“Karena memang kondisinya bukan sederhana lagi, tetapi sudah urgent,” ujar Maulidah sebagaimana dikutip dari Rilisid Lampung, Kamis (19/8/2021).

Maulidah menyebut, fakta di lapangan bahwa masyarakat ketika bergejala tidak ada yang tahu apakah dirinya positif Covid-19 atau tidak. Masyarakat menganggap sebagai flu biasa dan tetap pergi ke mana-mana.

“Kemudian mereka berobat misalnya ke bidan bayar Rp50 ribu, tetapi disuruh antigen Rp250 ribu, mana ada yang mau,” kata dia.

Oleh sebab itu, dia berharap Pemprov Lampung maupun Diskes Lampung  lebih serius menangani pandemi ini. Selanjutnya, membuat program-program yang dapat menyentuh masyarakat hingga pelosok Lampung.

“Kalau dirasa perlu antigen gratis ya sediakan, kalau memang obat-obatan habis bagaimana caranya tersedia meski misalnya bukan ranahnya Diskes,” tegasnya.

Kemudian soal ketersedian vaksin, dia mengatakan Pemprov Lampung harus lebih progresif mengejar ke pemerintah pusat.

“Kita harus saling bahu membahu, jika vaksin waiting list jangan hanya menunggu, tetapi kejar terus ke pusat. Jangan sampai korban terus bergeletakan," sentilnya.

Sebelumnya, Maulidah Zauroh meluapkan emosi hingga menangis di hadapan Kepala Dinas Kesehatan Lampung Reihana dan koleganya sesama Komisi V. 

Awalnya, dia mengungkapkan kekecewaan mulai ketersediaan obat-obatan di apotek di Lampung, mahalnya PCR dan rapid test, hingga dugaan kebohongan data Covid-19.

Hal ini ia rasakan sendiri saat dirinya terpapar Covid-19 dan ingin mencari obat di apotek. 

“Saya bersyukur bisa mengakses DPRD untuk mendapatkan obat, tetapi tidak dengan masyarakat,” ujarnya.

Dalam video yang berdurasi sekitar 4 menit tersebut, Maulidah sempat menggebrak meja karena kesal.

Dia merasa pembahasan dan jawaban yang diberikan Diskes tidak konkret dan tak sesuai dengan kondisi di lapangan. Terutama soal data dan penanganan Covid-19 di Lampung.

Menurutnya, ada dugaan data palsu soal korban Covid-19 di daerah. Kemudian ia menyebut dugaan kebohongan ini sebagai bentuk perbuatan dosa yang tidak bisa ditolerir.

 “Datanya ada tiga yang meninggal tetapi ketika saya telepon RSUD ternyata full semua, saya sebut fenomena ini buah semangka, ‘Hijau di luar merah di dalam',” pungkasnya. (*)

Laporan: Dwi Des, Bandarlampung

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Kecewa Penanganan Corona di Lampung, Legislator PKB: Jangan Sampai Korban Terus Bergeletakan!

...
RILIS.ID
Bandarlampung
19 Agustus 2021 - 12:46 WIB
Peristiwa | RILISID
...
Ilustrasi: Rilisid/Kalbi

RILISID, Bandarlampung — Anggota Komisi V DPRD Lampung Maulidah Zauroh buka suara terkait kemarahannya dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Dinas Kesehatan Lampung hingga videonya beredar luas di media sosial.

Maulidah membenarkan video yang beredar tersebut. Menurutnya, Komisi V memang sedang RDP dengan Dinas Kesehatan Lampung pada Senin (16/8/2021).

Saat itu, legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini sempat emosi hingga menggebrak meja dan menangis karena kecewa penanganan Covid-19 di Lampung.

Dia mengatakan, pada prinsipnya mendorong Pemerintah Provinsi Lampung untuk lebih proaktif mengatasi pencegahan dan penanganan Covid-19 di Lampung.

“Karena memang kondisinya bukan sederhana lagi, tetapi sudah urgent,” ujar Maulidah sebagaimana dikutip dari Rilisid Lampung, Kamis (19/8/2021).

Maulidah menyebut, fakta di lapangan bahwa masyarakat ketika bergejala tidak ada yang tahu apakah dirinya positif Covid-19 atau tidak. Masyarakat menganggap sebagai flu biasa dan tetap pergi ke mana-mana.

“Kemudian mereka berobat misalnya ke bidan bayar Rp50 ribu, tetapi disuruh antigen Rp250 ribu, mana ada yang mau,” kata dia.

Oleh sebab itu, dia berharap Pemprov Lampung maupun Diskes Lampung  lebih serius menangani pandemi ini. Selanjutnya, membuat program-program yang dapat menyentuh masyarakat hingga pelosok Lampung.

“Kalau dirasa perlu antigen gratis ya sediakan, kalau memang obat-obatan habis bagaimana caranya tersedia meski misalnya bukan ranahnya Diskes,” tegasnya.

Kemudian soal ketersedian vaksin, dia mengatakan Pemprov Lampung harus lebih progresif mengejar ke pemerintah pusat.

“Kita harus saling bahu membahu, jika vaksin waiting list jangan hanya menunggu, tetapi kejar terus ke pusat. Jangan sampai korban terus bergeletakan," sentilnya.

Sebelumnya, Maulidah Zauroh meluapkan emosi hingga menangis di hadapan Kepala Dinas Kesehatan Lampung Reihana dan koleganya sesama Komisi V. 

Awalnya, dia mengungkapkan kekecewaan mulai ketersediaan obat-obatan di apotek di Lampung, mahalnya PCR dan rapid test, hingga dugaan kebohongan data Covid-19.

Hal ini ia rasakan sendiri saat dirinya terpapar Covid-19 dan ingin mencari obat di apotek. 

“Saya bersyukur bisa mengakses DPRD untuk mendapatkan obat, tetapi tidak dengan masyarakat,” ujarnya.

Dalam video yang berdurasi sekitar 4 menit tersebut, Maulidah sempat menggebrak meja karena kesal.

Dia merasa pembahasan dan jawaban yang diberikan Diskes tidak konkret dan tak sesuai dengan kondisi di lapangan. Terutama soal data dan penanganan Covid-19 di Lampung.

Menurutnya, ada dugaan data palsu soal korban Covid-19 di daerah. Kemudian ia menyebut dugaan kebohongan ini sebagai bentuk perbuatan dosa yang tidak bisa ditolerir.

 “Datanya ada tiga yang meninggal tetapi ketika saya telepon RSUD ternyata full semua, saya sebut fenomena ini buah semangka, ‘Hijau di luar merah di dalam',” pungkasnya. (*)

Laporan: Dwi Des, Bandarlampung

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya