Dituduh Lalai sebagai Ketum Satupena, Begini Tanggapan Nasir Tamara
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Dituduh Lalai sebagai Ketum Satupena, Begini Tanggapan Nasir Tamara

...
RILIS.ID
Jakarta
5 Agustus 2021 - 21:02 WIB
Peristiwa | RILISID
...
Ketum Satupena Nasir Tamara. Foto: Istimewa

RILISID, Jakarta — Pasca-RLBA, para penulis yang tergabung dalam Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) bersiap mengikuti Rapat Luar Biasa Anggota (RLBA) pada Minggu (8/8/2021) dengan agenda utama memilih badan pengurus yang telah ditetapkan berbentuk kolektif kolegial.

Bentuk kepengurusan kolektif kolegial menurut mereka telah sesuai dengan amanat Anggaran Dasar (AD) perubahan yang telah disepakati dalam RLBA pada Minggu (1/8/2021).

Tim caretaker yang memegang mandat dari anggota, dalam rapat Selasa (3/8/2021) malam secara daring lewat Zoom, menyimpulkan RLBA yang digelar para anggota merupakan langkah-langkah korektif untuk membenahi jalan organisasi.

Dalam keterangan pers yang diterima rilis.id Rabu (5/8/2021), selama empat tahun terakhir, Satupena di bawah kepemimpinan Ketua Umum Nasir Tamara dinilai lalai menjalankan amanat Kongres Solo, 25-27 April 2017.

Kelalaian itu antara lain, badan pengurus melalui ketua umum, tidak pernah menyelenggarakan Rapat Anggota (RA), yang semestinya dilakukan setiap tahun.

Selain itu, telah terjadi “penyelewengan” terhadap amanat Kongres Solo, di mana Ketua Umum telah mengubah pasal-pasal dalam AD yang kemudian “disahkan” melalui Akta Notaris Ny Henny Hendarti Sasongko.

”Penyelewengan” itu terutama pada ketidakjelasan mengenai masa jabatan badan pengurus, termasuk ketua umum.

Ketiadaan batas waktu masa jabatan itu, telah digunakan oleh ketua umum untuk mengulur-ulur pelaksanaan RA, yang seharusnya sudah dilakukan pada Maret tahun 2021, sesuai dengan amanat Pasal 13 ayat 1 AD (Notaris).

Bahkan sampai pelaksanaan RLBA, Minggu (1/8/2021), Nasir tidak hadir untuk mempertanggungjawabkan kinerja organisasi, terutama soal-soal yang menyangkut keuangan.

Padahal, menurut tim caretaker, RLBA telah mengundang dan memberikan waktu kepada ketua umum untuk melaporkan kinerja organisasi selama empat tahun terakhir.

Tetapi, kesempatan itu tidak digunakan oleh ketua Umum. Oleh sebab seluruh anggota secara aklamasi menolak “pertanggungjawaban” ketua umum.

Tim caretaker yang memimpin rapat, kemudian menyatakan badan pengurus di bawah Ketua Umum Nasir Tamara telah demisioner. Seluruh roda organisasi diambil alih oleh tim caretaker Satupena.

Menurut anggota tim caretaker Hikmat Darmawan, dasar-dasar itulah yang dijadikan argumentasi untuk meminta pelaksanaan RLBA sesuai amanat dalam Pasal 14 AD (notaris).

Sebagai informasi, tim caretaker terdiri atas: Danny Yatim, Hikmat Darmawan, Imelda Akmal, Mardiyah Chamim, Neni Muhidin, Ngadiyo, S. Margana, dan Sekar Chamdi.

Jawaban Ketum Satupena
Kepada wartawan rilis.idNasir menanggapi semua tudingan tersebut lewat Ketua Bidang Humas dan Media Satupena Fakhrunnas MA Jabbar yang disampaikan Kamis (5/8/2021). Berikut isinya:

1. Aktivitas Satupena dan Rapat Anggota
Setelah dipilih sebagai Ketum Satupena, Dr. Nasir Tamara (NT) di awal kepemimpinan lebih fokus pada sosialisasi organisasi yang baru lahir, menata aturan organisasi, konsolidasi Satupena, penyusunan program, dan sebagainya.

Dalam rentang waktu sejak 2017, awal berdiri Satupena, sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan antara lain sosialisasi ke mitra baik pemerintahan maupun non-pemerintah, berjuang untuk mengurangi pajak penulis menjadi 0,5 persen, dan berjuang melawan pembajakan dan pencurian hak cipta penulis.

Lalu, melawan plagiasi, menjajaki berbagai kerjasama, membuat akte pendirian Satupena, AD/ ART, registrasi keanggotaan, penerbitan kartu anggota yang juga berfungsi sebagai kartu debit, dan lain-lain.

Salah satu yang monumental adalah diakuinya profesi 'Penulis' sebagai pekerjaan profesional oleh pemerintah melalui BPS dengan memasukkan profesi penulis di dalam Buku Klasifikasi Penulis Indonesia sehingga dalam KTP sudah bisa dicantumkan pilihan pekerjaan: Penulis.

Rapat-rapat pengurus terus dilakukan secara berkala untuk menemukan solusi dan pemikiran demi kemajuan organisasi.

Kepemimpinan organisasi Satupena bersifat kolektif kolegial yang dimotori oleh ketum, sekum, serta bendum.

Oleh sebab itu, dorongan untuk mengadakan Rapat Anggota Tahunan bisa saja datang dari unsur-unsur pengurus harian dengan mengingatkan ketum. Apalagi penyiapan agenda rapat sangat tergantung pada kegiatan pengurus harian terkait.

Mengingat masa tugas ini berjalan menjelang empat tahun, maka ketum membentuk panitia Rapat Umum Anggota (RUA) dengan Ketua Mikke Susanto (yang juga sekum). Panitia diberi tugas untuk mempersiapkan segala sesuatu yang terkait RUS termasuk laporan tugas dan keuangan serta hal-hal lain terkait.

Panitia yang semestinya menyelenggarakan RA tanggal 15-16 Agustus, tetapi malah menggiring melakukan RLBA. Jadi nyata sekali ada upaya tak terpuji untuk melengserkan Ketum NT.

2. AD/ART
Proses penetapan AD/ ART dilakukan secara bersama-sama pengurus harian. Apa yang dicantumkan dalam AD/ ART tersebut merupakan pemikiran dan kesepakatan bersama. 

3. RLBA
Kegiatan RLBA yang diinisiasi sekelompok orang secara konstitusional tidak memenuhi syarat karena tidak ada alasan yang menguatkan. Memang ada permohonan kepada ketum untuk mengadakan RLBA yang sudah dijawab oleh ketum dan sekum dalam waktu enam hari berupa penolakan.

Belum sampai masa 30 hari sejak diajukan sebagaimana diatur dalam AD/ ART, tiba-tiba RLBA diadakan tanggal 1 Agustus 2021.

Ketum tidak mungkin menghadiri RLBA yang ilegal tersebut.

Keberadaan jabatan ketum Satupena di bawah kepemimpinan Dr Nasir Tamara tetap legal dan Badan Pengurus Satupena tidak demisioner. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya

Dituduh Lalai sebagai Ketum Satupena, Begini Tanggapan Nasir Tamara

...
RILIS.ID
Jakarta
5 Agustus 2021 - 21:02 WIB
Peristiwa | RILISID
...
Ketum Satupena Nasir Tamara. Foto: Istimewa

RILISID, Jakarta — Pasca-RLBA, para penulis yang tergabung dalam Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) bersiap mengikuti Rapat Luar Biasa Anggota (RLBA) pada Minggu (8/8/2021) dengan agenda utama memilih badan pengurus yang telah ditetapkan berbentuk kolektif kolegial.

Bentuk kepengurusan kolektif kolegial menurut mereka telah sesuai dengan amanat Anggaran Dasar (AD) perubahan yang telah disepakati dalam RLBA pada Minggu (1/8/2021).

Tim caretaker yang memegang mandat dari anggota, dalam rapat Selasa (3/8/2021) malam secara daring lewat Zoom, menyimpulkan RLBA yang digelar para anggota merupakan langkah-langkah korektif untuk membenahi jalan organisasi.

Dalam keterangan pers yang diterima rilis.id Rabu (5/8/2021), selama empat tahun terakhir, Satupena di bawah kepemimpinan Ketua Umum Nasir Tamara dinilai lalai menjalankan amanat Kongres Solo, 25-27 April 2017.

Kelalaian itu antara lain, badan pengurus melalui ketua umum, tidak pernah menyelenggarakan Rapat Anggota (RA), yang semestinya dilakukan setiap tahun.

Selain itu, telah terjadi “penyelewengan” terhadap amanat Kongres Solo, di mana Ketua Umum telah mengubah pasal-pasal dalam AD yang kemudian “disahkan” melalui Akta Notaris Ny Henny Hendarti Sasongko.

”Penyelewengan” itu terutama pada ketidakjelasan mengenai masa jabatan badan pengurus, termasuk ketua umum.

Ketiadaan batas waktu masa jabatan itu, telah digunakan oleh ketua umum untuk mengulur-ulur pelaksanaan RA, yang seharusnya sudah dilakukan pada Maret tahun 2021, sesuai dengan amanat Pasal 13 ayat 1 AD (Notaris).

Bahkan sampai pelaksanaan RLBA, Minggu (1/8/2021), Nasir tidak hadir untuk mempertanggungjawabkan kinerja organisasi, terutama soal-soal yang menyangkut keuangan.

Padahal, menurut tim caretaker, RLBA telah mengundang dan memberikan waktu kepada ketua umum untuk melaporkan kinerja organisasi selama empat tahun terakhir.

Tetapi, kesempatan itu tidak digunakan oleh ketua Umum. Oleh sebab seluruh anggota secara aklamasi menolak “pertanggungjawaban” ketua umum.

Tim caretaker yang memimpin rapat, kemudian menyatakan badan pengurus di bawah Ketua Umum Nasir Tamara telah demisioner. Seluruh roda organisasi diambil alih oleh tim caretaker Satupena.

Menurut anggota tim caretaker Hikmat Darmawan, dasar-dasar itulah yang dijadikan argumentasi untuk meminta pelaksanaan RLBA sesuai amanat dalam Pasal 14 AD (notaris).

Sebagai informasi, tim caretaker terdiri atas: Danny Yatim, Hikmat Darmawan, Imelda Akmal, Mardiyah Chamim, Neni Muhidin, Ngadiyo, S. Margana, dan Sekar Chamdi.

Jawaban Ketum Satupena
Kepada wartawan rilis.idNasir menanggapi semua tudingan tersebut lewat Ketua Bidang Humas dan Media Satupena Fakhrunnas MA Jabbar yang disampaikan Kamis (5/8/2021). Berikut isinya:

1. Aktivitas Satupena dan Rapat Anggota
Setelah dipilih sebagai Ketum Satupena, Dr. Nasir Tamara (NT) di awal kepemimpinan lebih fokus pada sosialisasi organisasi yang baru lahir, menata aturan organisasi, konsolidasi Satupena, penyusunan program, dan sebagainya.

Dalam rentang waktu sejak 2017, awal berdiri Satupena, sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan antara lain sosialisasi ke mitra baik pemerintahan maupun non-pemerintah, berjuang untuk mengurangi pajak penulis menjadi 0,5 persen, dan berjuang melawan pembajakan dan pencurian hak cipta penulis.

Lalu, melawan plagiasi, menjajaki berbagai kerjasama, membuat akte pendirian Satupena, AD/ ART, registrasi keanggotaan, penerbitan kartu anggota yang juga berfungsi sebagai kartu debit, dan lain-lain.

Salah satu yang monumental adalah diakuinya profesi 'Penulis' sebagai pekerjaan profesional oleh pemerintah melalui BPS dengan memasukkan profesi penulis di dalam Buku Klasifikasi Penulis Indonesia sehingga dalam KTP sudah bisa dicantumkan pilihan pekerjaan: Penulis.

Rapat-rapat pengurus terus dilakukan secara berkala untuk menemukan solusi dan pemikiran demi kemajuan organisasi.

Kepemimpinan organisasi Satupena bersifat kolektif kolegial yang dimotori oleh ketum, sekum, serta bendum.

Oleh sebab itu, dorongan untuk mengadakan Rapat Anggota Tahunan bisa saja datang dari unsur-unsur pengurus harian dengan mengingatkan ketum. Apalagi penyiapan agenda rapat sangat tergantung pada kegiatan pengurus harian terkait.

Mengingat masa tugas ini berjalan menjelang empat tahun, maka ketum membentuk panitia Rapat Umum Anggota (RUA) dengan Ketua Mikke Susanto (yang juga sekum). Panitia diberi tugas untuk mempersiapkan segala sesuatu yang terkait RUS termasuk laporan tugas dan keuangan serta hal-hal lain terkait.

Panitia yang semestinya menyelenggarakan RA tanggal 15-16 Agustus, tetapi malah menggiring melakukan RLBA. Jadi nyata sekali ada upaya tak terpuji untuk melengserkan Ketum NT.

2. AD/ART
Proses penetapan AD/ ART dilakukan secara bersama-sama pengurus harian. Apa yang dicantumkan dalam AD/ ART tersebut merupakan pemikiran dan kesepakatan bersama. 

3. RLBA
Kegiatan RLBA yang diinisiasi sekelompok orang secara konstitusional tidak memenuhi syarat karena tidak ada alasan yang menguatkan. Memang ada permohonan kepada ketum untuk mengadakan RLBA yang sudah dijawab oleh ketum dan sekum dalam waktu enam hari berupa penolakan.

Belum sampai masa 30 hari sejak diajukan sebagaimana diatur dalam AD/ ART, tiba-tiba RLBA diadakan tanggal 1 Agustus 2021.

Ketum tidak mungkin menghadiri RLBA yang ilegal tersebut.

Keberadaan jabatan ketum Satupena di bawah kepemimpinan Dr Nasir Tamara tetap legal dan Badan Pengurus Satupena tidak demisioner. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya