Denny Siregar Bandingkan Terduga Teroris Masa Kini dengan Dokter Azhari-Imam Samudra
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Denny Siregar Bandingkan Terduga Teroris Masa Kini dengan Dokter Azhari-Imam Samudra

...
Segan Simanjuntak
Jakarta
31 Maret 2021 - 23:27 WIB
Peristiwa | RILISID
...
Denny Siregar. FOTO: ISTIMEWA

RILISID, Jakarta — Pegiat media sosial Denny Siregar menyebut terduga teroris panik sehingga melakukan serangan membabi buta, termasuk menyerang Mabes Polri pada Rabu (31/3/2021) pukul 16.30 WIB.

Denny pun teringat peristiwa bom dan penembakan di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat pada 2016 lalu.

"Ketika ngobrol dengan seorang anggota Densus 88, dia bercerita, 'Peristiwa di Thamrin itu sebenarnya adalah peristiwa teroris yang panik," kata Denny, dikutip dari akun Facebook pribadinya, Rabu malam.

Ia mengaku baru menemukan dan mendengar istilah teroris panik. Menurutnya, kepanikan itu karena semua jalur mereka untuk membuat bom sudah ditutup oleh aparat. Termasuk lokasi mereka juga sudah diketahui aparat.

"Jadi, mereka enggak punya waktu lagi dan harus sesegera mungkin bertindak sebelum ditangkap aparat. Jadilah mereka dengan kemampuan seadanya melakukan pengerusakan di Jalan Thamrin. Dan lihat hasilnya, nol besar," ungkap Denny.

"Mereka tanpa persiapan, tanpa kemampuan, sehingga apa yang mereka lakukan jadi sia-sia. Tidak ada korban. Mereka sendirilah yang setor nyawa," ia menambahkan.

Peristiwa bom Makassar dan penembakan di Mabes Polri, kata Denny, mengingatkan dirinya pada pembicaraan dengan seorang anggota Densus lima tahun lalu.

Denny kemudian membandingkan para teroris saat ini dengan Dokter Azhari dan Imam Samudra. Menurut dia, keduanya benar-benar terorganisir dengan rapi dan kemampuan merangkai bom yang dahsyat.

"Teroris sekarang ini membuat bom dari bahan-bahan yang bisa mereka temukan seadanya. Dan kalau enggak dapat bahan bom karena jalur pembelian sudah dikuasai aparat ya, mereka nekad bawa pistol seperti di Mabes Polri tadi sore," ujarnya.

Denny bilang, munculnya teroris di Mabes Polri adalah usaha terakhir mereka. Dengan kemampuan menembak yang minus atau di bawah rata-rata, mereka menyerbu sarangnya para penembak jitu.

"Trus kenapa Mabes Polri kok kebobolan? Apa itu bukan berarti mereka berhasil menyusup ke inti sarang? Bukan begitu. Yang harus dipahami, Mabes Polri itu adalah tempat publik, tempat orang mengurus segala macam keperluan mereka sehingga banyak orang umum lalu lalang di sana," tambahnya.

Menurut dia, adalah hal yang wajar pengawasan di pintu masuk tidak seketat waktu masuk ke BIN misalnya. Karena BIN adalah tempat khusus.

"Tapi pasti sesudah ini, Mabes (Polri) akan memberlakukan pengawasan yang lebih ketat dari sebelumnya. Juga di tempat-tempat publik lain," ucapnya.

Pada akhirnya, Denny juga mengucapkan selamat kepada jajaran Kepolisian RI, utamanya Densus 88 Antiteror 88 Polri.

Ia menilai kerja keras Densus menutup jalur sumber bahan dan sumber dana para teroris membuat 'ular-ular kecil' itu akhirnya keluar dari sarangnya.

"Seperti sarang ular, Densus sudah mengasapi liangnya. Dan akhirnya para teroris keluar dengan senjata seadanya. Tinggal getok satu persatu kepalanya. Jangan pernah takut. Kita support terus aparat yang bertugas supaya menemukan sarang-sarang lainnya. Indonesia ini luas. Teroris itu bisa membuat sarang di mana saja," tandasnya. (*)

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Denny Siregar Bandingkan Terduga Teroris Masa Kini dengan Dokter Azhari-Imam Samudra

...
Segan Simanjuntak
Jakarta
31 Maret 2021 - 23:27 WIB
Peristiwa | RILISID
...
Denny Siregar. FOTO: ISTIMEWA

RILISID, Jakarta — Pegiat media sosial Denny Siregar menyebut terduga teroris panik sehingga melakukan serangan membabi buta, termasuk menyerang Mabes Polri pada Rabu (31/3/2021) pukul 16.30 WIB.

Denny pun teringat peristiwa bom dan penembakan di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat pada 2016 lalu.

"Ketika ngobrol dengan seorang anggota Densus 88, dia bercerita, 'Peristiwa di Thamrin itu sebenarnya adalah peristiwa teroris yang panik," kata Denny, dikutip dari akun Facebook pribadinya, Rabu malam.

Ia mengaku baru menemukan dan mendengar istilah teroris panik. Menurutnya, kepanikan itu karena semua jalur mereka untuk membuat bom sudah ditutup oleh aparat. Termasuk lokasi mereka juga sudah diketahui aparat.

"Jadi, mereka enggak punya waktu lagi dan harus sesegera mungkin bertindak sebelum ditangkap aparat. Jadilah mereka dengan kemampuan seadanya melakukan pengerusakan di Jalan Thamrin. Dan lihat hasilnya, nol besar," ungkap Denny.

"Mereka tanpa persiapan, tanpa kemampuan, sehingga apa yang mereka lakukan jadi sia-sia. Tidak ada korban. Mereka sendirilah yang setor nyawa," ia menambahkan.

Peristiwa bom Makassar dan penembakan di Mabes Polri, kata Denny, mengingatkan dirinya pada pembicaraan dengan seorang anggota Densus lima tahun lalu.

Denny kemudian membandingkan para teroris saat ini dengan Dokter Azhari dan Imam Samudra. Menurut dia, keduanya benar-benar terorganisir dengan rapi dan kemampuan merangkai bom yang dahsyat.

"Teroris sekarang ini membuat bom dari bahan-bahan yang bisa mereka temukan seadanya. Dan kalau enggak dapat bahan bom karena jalur pembelian sudah dikuasai aparat ya, mereka nekad bawa pistol seperti di Mabes Polri tadi sore," ujarnya.

Denny bilang, munculnya teroris di Mabes Polri adalah usaha terakhir mereka. Dengan kemampuan menembak yang minus atau di bawah rata-rata, mereka menyerbu sarangnya para penembak jitu.

"Trus kenapa Mabes Polri kok kebobolan? Apa itu bukan berarti mereka berhasil menyusup ke inti sarang? Bukan begitu. Yang harus dipahami, Mabes Polri itu adalah tempat publik, tempat orang mengurus segala macam keperluan mereka sehingga banyak orang umum lalu lalang di sana," tambahnya.

Menurut dia, adalah hal yang wajar pengawasan di pintu masuk tidak seketat waktu masuk ke BIN misalnya. Karena BIN adalah tempat khusus.

"Tapi pasti sesudah ini, Mabes (Polri) akan memberlakukan pengawasan yang lebih ketat dari sebelumnya. Juga di tempat-tempat publik lain," ucapnya.

Pada akhirnya, Denny juga mengucapkan selamat kepada jajaran Kepolisian RI, utamanya Densus 88 Antiteror 88 Polri.

Ia menilai kerja keras Densus menutup jalur sumber bahan dan sumber dana para teroris membuat 'ular-ular kecil' itu akhirnya keluar dari sarangnya.

"Seperti sarang ular, Densus sudah mengasapi liangnya. Dan akhirnya para teroris keluar dengan senjata seadanya. Tinggal getok satu persatu kepalanya. Jangan pernah takut. Kita support terus aparat yang bertugas supaya menemukan sarang-sarang lainnya. Indonesia ini luas. Teroris itu bisa membuat sarang di mana saja," tandasnya. (*)

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya