logo rilis
Penumpang Tak Perlu Lagi Tes PCR, DPR: Rapid Test juga Harus Terjangkau
Kontributor
Nailin In Saroh
10 Juni 2020, 19:35 WIB
Penumpang Tak Perlu Lagi Tes PCR, DPR: Rapid Test juga Harus Terjangkau
Satgas Lawan COVID-19 bentukan DPR RI melihat proses tes COVID-19 pada penumpang saat melakukan sidak ke Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, di H-1 Lebaran Idul Fitri 2020, Sabtu (23/5/2020). FOTO: RILIS.ID

RILIS.ID, Jakarta— Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo menanggapi kebijakan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang melonggarkan calon penumpang transportasi umum tidak perlu memiliki hasil tes Polymerase Chain Reaction (PCR), tetapi cukup tes cepat (rapid test). 

Ia mengapresiasi dan mengaku setuju seandainya persyaratan tes PCR bagi calon penumpang transportasi umum tetap diberlakukan. Asal dengan syarat, biaya tes PCR yang dilakukan secara mandiri oleh calon penumpang mesti terjangkau.

“Kebijakan melonggarkan aturan ini mungkin akibat dari banyaknya keluhan dan protes masyarakat, khususnya maskapai penerbangan. Kalau biaya tes PCR lebih mahal dibanding harga tiket pesawat, ya wajar masyarakat keberatan. Bahkan banyak maskapai penerbangan yang terancam bakal gulung tikar. Tapi pertanyaannya, apakah dengan hanya rapid tes, risiko penyebaran COVID-19 bisa dicegah?” ujar Rahmad dalam siaran persnya yang dikutip dari dpr.go.id, Rabu (10/6/2020).

Rahmad prihatin dengan besaran biaya tes PCR dan rapid test yang dipatok pihak rumah sakit selama ini. Pasalnya tes untuk mendeteksi virus corona penyebab COVID-19 itu biayanya cukup mahal. 

“Mahalnya biaya rapid test dan tes PCR itu harus jadi perhatian. Jangan sampai ada pihak yang aji mumpung, mencari kesempatan dalam kesempitan,” kritik anggota Fraksi PDI Perjuangan ini.

Ditekankan Rahmad, meskipun persyaratan telah dilonggarkan, biaya rapid tes serta PCR yang cukup fantastis dan memberatkan masyarakat harus jadi perhatian. Apalagi, katanya, alat tes PCR buatan dalam negeri juga sudah mulai diproduksi. 

Rahmad menilai, Pemerintah hendaknya juga memprioritaskan pengadaan laboratorium PCR di semua RS.

“Kalau biaya rapid tes dan PCR terjangkau, tentu masyarakat mau secara mandiri memeriksa dirinya,” katanya. 

Diketahui, tes PCR menjadi salah satu syarat yang harus dilengkapi calon penumpang yang hendak melakukan perjalanan memakai transportasi umum seperti pesawat, kereta api, bus, maupun kapal. Persyaratan ini dibuat untuk mencegah penularan virus COVID-19. Hanya saja, banyak masyarakat yang merasa keberatan, terutama pihak maskapai penerbangan.

Namun, syarat itu dirasa memberatkan karena rumah sakit yang menyediakan layanan rapid dan PCR/swab tes mematok harga fantastis. Untuk bisa mengakses layanan itu harus merogoh kocek mulai dari Rp 400 ribu hingga Rp 3,2 juta. 

Kemudian, aturan terbang yang mengharuskan syarat tes PCR tersebut akhirnya dilonggarkan. Menteri Perhubungan Budi Karya dalam keterangannya, Selasa (9/6/2020) mengatakan, calon penumpang domestik tidak perlu memiliki hasil tes PCR, cukup dengan rapid test. 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID