Varian Baru Corona Delta Plus Masuk Jambi-Sulbar, Pemerintah Diminta Perkuat WGS
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Varian Baru Corona Delta Plus Masuk Jambi-Sulbar, Pemerintah Diminta Perkuat WGS

...
RILIS.ID
Jakarta
29 Juli 2021 - 22:46 WIB
Nasional | RILISID
...
Ilustrasi: Rilis.id

RILISID, Jakarta — Varian baru virus corona (Covid-19) terus menghantui Indonesia. Setelah Delta, kini hadir varian baru bernama Delta Plus (B.1.617.2.1 atau AY.1).

Kabar terdeteksinya varian Delta Plus di Indonesia dikonfirmasi oleh Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio.

Prof Amin Subandrio menyebut kasus varian Delta Plus sudah ditemukan di Jambi dan Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar).

Pemerintah pun diminta memperkuat upaya untuk mengetahui penyebaran mutasi Sars-Cov-2 atau Whole Genome Sequencing (WGS) dengan cepat.

”WGS atau upaya mengetahui penyebaran mutasi Sars-Cov-2 di Indonesia harus diperkuat, sehingga kita memiliki basis dalam pengambilan kebijakan kesehatan,” kata anggota Komisi IX DPR Intan Fauzi sebagaimana dikutip dari situs dpr.go.id, Kamis (29/7/2021).

”Manfaat WGS sebagai data keseluruhan sangat penting utk penanganan Pandemi, apalagi dengan penambahan kasus positif per hari dan angka kematian yang tinggi, juga pengadaan jenis vaksin yang digunakan,” lanjutnya.

Menurut Intan, kecepatan uji WGS di Indonesia masih banyak kendala, hal ini dikarenakan belum kuatnya dukungan dari pemerintah salah satunya adalah anggaran penelitian.

Padahal, katanya, para peneliti di lembaga penelitian Indonesia kemampuannya tidak kalah dari peneliti di luar negeri dalam melakukan WGS juga membuat vaksin.

Namun keunggulan SDM Indonesia itu perlu dukungan anggaran dan sarana prasarana. Saat ini, menurutnya, lembaga penelitian terutama yang berada di berbagai universitas harus melakukan swadana baik untuk peralatan dan beban biaya operasional para peneliti.

"Mahasiswa Indonesia di Oxford University seperti Indra Rudiansyah dapat ikut berperan di balik peluncuran vaksin AstraZeneca,” ujar politikus PAN ini.

Lebih lanjut, Intan berharap pemerintah mendukung sarana prasarana dan anggaran seperti di luar negeri sehingga para peneliti Indonesia terus berkontribusi dalam memerangi pandemi.

”Dengan hasil WGS termasuk percepatan vaksin Merah Putih,” tutur lulusan Nottingham University Inggris ini.

Di Indonesia, kini ada 17 laboratorium yang bisa melaksanakan WGS. Antara lain Litbangkes-Kemenkes, Eijkman, LIPI, FKUI, ITB-Labkesda Jabar-UNPAD, ITD Unair, UGM, UNS, FK Andalas, BPPT, FK UIN, FK UNTAN, FK USU, Univ. UPN veteran, Clinical Microbiology Lab RSPTN Universitas Hasanuddin dan MRIN UPH.

Intan mengakui biaya untuk melakukan uji WGS di Indonesia sangat mahal karena tingginya harga mesin dan alat reagan WGS yang masih impor. Juga produsen dan distributor sangat terbatas, sehingga memperlambat penelitian.

Karenanya, ia mengimbau perlu ada kebijakan relaksasi pajak dan kemudahan pengadaan peralatan penelitian di masa pandemi.

”Indonesia patut waspada, sebab kini sudah ditemukan 197 kasus di 11 negara. Hal ini wajib menjadi alarm bagi Indonesia sehingga perlu dilakukan pemantauan dan mitigasi wabah secara dini di seluruh wilayah Indonesia,” pungkasnya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Varian Baru Corona Delta Plus Masuk Jambi-Sulbar, Pemerintah Diminta Perkuat WGS

...
RILIS.ID
Jakarta
29 Juli 2021 - 22:46 WIB
Nasional | RILISID
...
Ilustrasi: Rilis.id

RILISID, Jakarta — Varian baru virus corona (Covid-19) terus menghantui Indonesia. Setelah Delta, kini hadir varian baru bernama Delta Plus (B.1.617.2.1 atau AY.1).

Kabar terdeteksinya varian Delta Plus di Indonesia dikonfirmasi oleh Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio.

Prof Amin Subandrio menyebut kasus varian Delta Plus sudah ditemukan di Jambi dan Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar).

Pemerintah pun diminta memperkuat upaya untuk mengetahui penyebaran mutasi Sars-Cov-2 atau Whole Genome Sequencing (WGS) dengan cepat.

”WGS atau upaya mengetahui penyebaran mutasi Sars-Cov-2 di Indonesia harus diperkuat, sehingga kita memiliki basis dalam pengambilan kebijakan kesehatan,” kata anggota Komisi IX DPR Intan Fauzi sebagaimana dikutip dari situs dpr.go.id, Kamis (29/7/2021).

”Manfaat WGS sebagai data keseluruhan sangat penting utk penanganan Pandemi, apalagi dengan penambahan kasus positif per hari dan angka kematian yang tinggi, juga pengadaan jenis vaksin yang digunakan,” lanjutnya.

Menurut Intan, kecepatan uji WGS di Indonesia masih banyak kendala, hal ini dikarenakan belum kuatnya dukungan dari pemerintah salah satunya adalah anggaran penelitian.

Padahal, katanya, para peneliti di lembaga penelitian Indonesia kemampuannya tidak kalah dari peneliti di luar negeri dalam melakukan WGS juga membuat vaksin.

Namun keunggulan SDM Indonesia itu perlu dukungan anggaran dan sarana prasarana. Saat ini, menurutnya, lembaga penelitian terutama yang berada di berbagai universitas harus melakukan swadana baik untuk peralatan dan beban biaya operasional para peneliti.

"Mahasiswa Indonesia di Oxford University seperti Indra Rudiansyah dapat ikut berperan di balik peluncuran vaksin AstraZeneca,” ujar politikus PAN ini.

Lebih lanjut, Intan berharap pemerintah mendukung sarana prasarana dan anggaran seperti di luar negeri sehingga para peneliti Indonesia terus berkontribusi dalam memerangi pandemi.

”Dengan hasil WGS termasuk percepatan vaksin Merah Putih,” tutur lulusan Nottingham University Inggris ini.

Di Indonesia, kini ada 17 laboratorium yang bisa melaksanakan WGS. Antara lain Litbangkes-Kemenkes, Eijkman, LIPI, FKUI, ITB-Labkesda Jabar-UNPAD, ITD Unair, UGM, UNS, FK Andalas, BPPT, FK UIN, FK UNTAN, FK USU, Univ. UPN veteran, Clinical Microbiology Lab RSPTN Universitas Hasanuddin dan MRIN UPH.

Intan mengakui biaya untuk melakukan uji WGS di Indonesia sangat mahal karena tingginya harga mesin dan alat reagan WGS yang masih impor. Juga produsen dan distributor sangat terbatas, sehingga memperlambat penelitian.

Karenanya, ia mengimbau perlu ada kebijakan relaksasi pajak dan kemudahan pengadaan peralatan penelitian di masa pandemi.

”Indonesia patut waspada, sebab kini sudah ditemukan 197 kasus di 11 negara. Hal ini wajib menjadi alarm bagi Indonesia sehingga perlu dilakukan pemantauan dan mitigasi wabah secara dini di seluruh wilayah Indonesia,” pungkasnya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya