Turun Drastis! Zona Merah Covid-19 Kini Hanya 15 Daerah, Paling Banyak di Bali
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Turun Drastis! Zona Merah Covid-19 Kini Hanya 15 Daerah, Paling Banyak di Bali

...
RILIS.ID
Jakarta
1 September 2021 - 13:35 WIB
Nasional | RILISID
...
Ilustrasi: Rilisid/Kalbi

RILISID, Jakarta — Kabar baik datang dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Republik Indonesia (RI). Jumlah daerah yang masuk zona merah Covid-19 mengalami penurunan drastis.

Berdasarkan update zona merah Covid-19 di Indonesia pada pekan ini tercatat 15 kabupaten dan kota masuk wilayah risiko tinggi penyebaran virus corona.

Pada pekan sebelumnya atau periode 22 Agustus 2021, terdapat 53 kabupaten dan kota masuk dalam daftar zona merah Covid-19.

Dikutip dari laman covid19.go.id yang diperbaharui pada Rabu (1/9/2021), terdapat 15 zona merah, 294 zona oranye, 204 zona kuning, dan satu zona hijau. Penetapan zonasi ini per 29 Agustus 2021.

Zona merah pekan ini paling banyak berada di Bali dengan total enam kabupaten dan kota. Juga di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.


Adapun ke-15 zona merah Covid-19 di Indonesia sebagai berikut:

1. Sumatera Barat

- Pasaman Barat

2. Sulawesi Selatan

-Soppeng

3. Kepulauan Bangka Belitung

- Belitung Timur

4. Kalimantan Utar

- Bulungan

5. Daerah Istimewa Yogyakarta

- Kulonprogo

6. Bali

- Badung

- Kota Denpasar

- Klungkung

- Karangasem

- Tabanan

- Buleleng

7. Aceh

- Aceh Tamiang

- Kota Lhokseumawe

- Aceh Selatan

- Kota Langsa

Penilaian Zonasi

Satgas menggunakan sepuluh indikator epidemiologi untuk menentukan zonasi risiko.

Antara lain penurunan jumlah kasus positif dan probable pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; jumlah kasus aktif pada pekan terakhir kecil atau tidak ada; penurunan jumlah meninggal kasus positif pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; penurunan jumlah meninggal kasus suspek pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak.

Kemudian penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; penurunan jumlah kasus suspek yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; persentase kumulatif kasus sembuh dari seluruh kasus positif.

Selanjutnya, insiden kumulatif kasus positif per 100.000 penduduk; kecepatan laju insidensi (perubahan insiden kumulatif) per 100.000 penduduk; mortality rate (angka kematian) kasus positif per 100.000 penduduk.

Selain indikator epidemiologi, Satgas juga menggunakan indikator surveilans kesehatan masyarakat dan indikator pelayanan kesehatan.

Indikator surveilans kesehatan masyarakat meliputi jumlah pemeriksaan sampel diagnosis mengikuti standar WHO yakni satu orang diperiksa per 1.000 penduduk per minggu pada level provinsi dan positivity rate rendah (target ≤5 persen sampel diagnosis positif dari seluruh kasus yang diperiksa). Hal itu merujuk pada angka provinsi.

Sementara, indikator pelayanan kesehatan meliputi rata-rata angka keterpakaian tempat tidur isolasi (% BOR TT Isolasi) dalam satu minggu terakhir pada RS rujukan Covid-19 cukup untuk menampung pasien di wilayah tersebut; rata-rata angka keterpakaian TT intensif (% BOR TT intensif) dalam satu minggu terakhir pada RS rujukan Covid-19 cukup untuk menampung pasien di wilayah tersebut.

Setiap indikator diberikan skoring dan pembobotan, lalu dijumlahkan. Hasil perhitungan dikategorisasi menjadi empat zona risiko, yaitu zona risiko tinggi 0-1.80; zona risiko sedang 1.81-2.40; zona risiko rendah 2.41-3.0; zona tidak terdampak atau tidak tercatat kasus positif; dan zona tidak ada kasus atau pernah terdapat kasus di wilayah tersebut namun tidak ada penambahan kasus baru dalam empat minggu terakhir serta angka kesembuhan mencapai lebih dari 95 persen. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Turun Drastis! Zona Merah Covid-19 Kini Hanya 15 Daerah, Paling Banyak di Bali

...
RILIS.ID
Jakarta
1 September 2021 - 13:35 WIB
Nasional | RILISID
...
Ilustrasi: Rilisid/Kalbi

RILISID, Jakarta — Kabar baik datang dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Republik Indonesia (RI). Jumlah daerah yang masuk zona merah Covid-19 mengalami penurunan drastis.

Berdasarkan update zona merah Covid-19 di Indonesia pada pekan ini tercatat 15 kabupaten dan kota masuk wilayah risiko tinggi penyebaran virus corona.

Pada pekan sebelumnya atau periode 22 Agustus 2021, terdapat 53 kabupaten dan kota masuk dalam daftar zona merah Covid-19.

Dikutip dari laman covid19.go.id yang diperbaharui pada Rabu (1/9/2021), terdapat 15 zona merah, 294 zona oranye, 204 zona kuning, dan satu zona hijau. Penetapan zonasi ini per 29 Agustus 2021.

Zona merah pekan ini paling banyak berada di Bali dengan total enam kabupaten dan kota. Juga di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.


Adapun ke-15 zona merah Covid-19 di Indonesia sebagai berikut:

1. Sumatera Barat

- Pasaman Barat

2. Sulawesi Selatan

-Soppeng

3. Kepulauan Bangka Belitung

- Belitung Timur

4. Kalimantan Utar

- Bulungan

5. Daerah Istimewa Yogyakarta

- Kulonprogo

6. Bali

- Badung

- Kota Denpasar

- Klungkung

- Karangasem

- Tabanan

- Buleleng

7. Aceh

- Aceh Tamiang

- Kota Lhokseumawe

- Aceh Selatan

- Kota Langsa

Penilaian Zonasi

Satgas menggunakan sepuluh indikator epidemiologi untuk menentukan zonasi risiko.

Antara lain penurunan jumlah kasus positif dan probable pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; jumlah kasus aktif pada pekan terakhir kecil atau tidak ada; penurunan jumlah meninggal kasus positif pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; penurunan jumlah meninggal kasus suspek pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak.

Kemudian penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; penurunan jumlah kasus suspek yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; persentase kumulatif kasus sembuh dari seluruh kasus positif.

Selanjutnya, insiden kumulatif kasus positif per 100.000 penduduk; kecepatan laju insidensi (perubahan insiden kumulatif) per 100.000 penduduk; mortality rate (angka kematian) kasus positif per 100.000 penduduk.

Selain indikator epidemiologi, Satgas juga menggunakan indikator surveilans kesehatan masyarakat dan indikator pelayanan kesehatan.

Indikator surveilans kesehatan masyarakat meliputi jumlah pemeriksaan sampel diagnosis mengikuti standar WHO yakni satu orang diperiksa per 1.000 penduduk per minggu pada level provinsi dan positivity rate rendah (target ≤5 persen sampel diagnosis positif dari seluruh kasus yang diperiksa). Hal itu merujuk pada angka provinsi.

Sementara, indikator pelayanan kesehatan meliputi rata-rata angka keterpakaian tempat tidur isolasi (% BOR TT Isolasi) dalam satu minggu terakhir pada RS rujukan Covid-19 cukup untuk menampung pasien di wilayah tersebut; rata-rata angka keterpakaian TT intensif (% BOR TT intensif) dalam satu minggu terakhir pada RS rujukan Covid-19 cukup untuk menampung pasien di wilayah tersebut.

Setiap indikator diberikan skoring dan pembobotan, lalu dijumlahkan. Hasil perhitungan dikategorisasi menjadi empat zona risiko, yaitu zona risiko tinggi 0-1.80; zona risiko sedang 1.81-2.40; zona risiko rendah 2.41-3.0; zona tidak terdampak atau tidak tercatat kasus positif; dan zona tidak ada kasus atau pernah terdapat kasus di wilayah tersebut namun tidak ada penambahan kasus baru dalam empat minggu terakhir serta angka kesembuhan mencapai lebih dari 95 persen. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya