Tetap Waspada, Ada 53 Zona Merah Covid-19 di Indonesia, Berikut Daftarnya
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Tetap Waspada, Ada 53 Zona Merah Covid-19 di Indonesia, Berikut Daftarnya

...
RILIS.ID
Jakarta
25 Agustus 2021 - 15:43 WIB
Nasional | RILISID
...
Ilustrasi: Rilis.id/Kalbi Rikardo

RILISID, Jakarta — Meski mengalami penurunan dari sisi kuantitas, namun jumlah kabupaten dan kota yang masuk zona merah Covid-19 di Indonesia masih tergolong banyak.

Berdasarkan data yang diakses di laman covid19.go.id pada Rabu (25/8/2021), sebanyak 53 daerah masuk zona merah atau risiko tinggi penularan dan penyebaran virus corona per 22 Agustus 2021.

Ke-53 daerah yang ditetapkan sebagai zona merah Covid-19 itu antara lain Kabupaten Toba, Simalungun, Kota Medan, Bolaang Mongondow Timur, Buol, Banggai, Poso, Tolitoli, Parigi Moutong, Banggai Kepulauan, Luwu Utara.

Kemudian Wajo, Enrekang, Kota Pekanbaru, Jayawijaya, Pangkalpinang, Bulungan, Paser, Bontang, Tanah Laut, Banjarbaru, Banjar, Banjarmasin, Landak, Melawi, Kota Batu, Ponorogo, Nganjuk, Blitar, Brebes, Banyumas.

Selanjutnya, Purworejo, Cilacap, Klaten, Cianjur, Tanjung Jabung Timur, Pahuwato, Kulonprogo, Bantul, Badung, Jembrana, Klungkung, Karangasem, Kota Denpasar, Tabanan, Buleleng, Aceh Tamiang, Kota Sabang, Langsa, Pidie, Lhokseumawe, Banda Aceh, dan Aceh Besar.

Sementara jumlah kabupaten dan kota yang masuk zona oranye mencapai 343 daerah atau 66,73 persen. Sebanyak 117 daerah masuk zona kuning atau risiko rendah, dan satu zona hijau alias tidak ada kasus.

Dalam penilaiannya, Satgas menggunakan sepuluh indikator epidemiologi untuk menentukan zonasi risiko. Yakni penurunan jumlah kasus positif dan probable pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; jumlah kasus aktif pada pekan terakhir kecil atau tidak ada.

Penurunan jumlah meninggal kasus positif pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; penurunan jumlah meninggal kasus suspek pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak.

Kemudian penurunan jumlah kasus suspek yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; persentase kumulatif kasus sembuh dari seluruh kasus positif; insiden kumulatif kasus positif per 100.000 penduduk; kecepatan laju insidensi (perubahan insiden kumulatif) per 100.000 penduduk; mortality rate (angka kematian) kasus positif per 100.000 penduduk.

Selain indikator epidemiologi, Satgas juga menggunakan indikator surveilans kesehatan masyarakat dan indikator pelayanan kesehatan.

Indikator surveilans kesehatan masyarakat meliputi jumlah pemeriksaan sampel diagnosis mengikuti standar WHO yakni satu orang diperiksa per 1.000 penduduk per minggu pada level provinsi dan positivity rate rendah (target ≤5 persen sampel diagnosis positif dari seluruh kasus yang diperiksa). Hal itu merujuk pada angka provinsi.

Sementara, indikator pelayanan kesehatan meliputi rata-rata angka keterpakaian tempat tidur isolasi (% BOR TT Isolasi) dalam satu minggu terakhir pada RS rujukan Covid-19 cukup untuk menampung pasien di wilayah tersebut; rata-rata angka keterpakaian TT intensif (% BOR TT intensif) dalam satu minggu terakhir pada RS rujukan Covid-19 cukup untuk menampung pasien di wilayah tersebut.

Setiap indikator diberikan skoring dan pembobotan, lalu dijumlahkan. Hasil perhitungan dikategorisasi menjadi empat zona risiko, yaitu zona risiko tinggi 0-1.80; zona risiko sedang 1.81-2.40; zona risiko rendah 2.41-3.0; zona tidak terdampak atau tidak tercatat kasus positif; dan zona tidak ada kasus atau pernah terdapat kasus di wilayah tersebut namun tidak ada penambahan kasus baru dalam empat minggu terakhir serta angka kesembuhan mencapai lebih dari 95 persen. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Tetap Waspada, Ada 53 Zona Merah Covid-19 di Indonesia, Berikut Daftarnya

...
RILIS.ID
Jakarta
25 Agustus 2021 - 15:43 WIB
Nasional | RILISID
...
Ilustrasi: Rilis.id/Kalbi Rikardo

RILISID, Jakarta — Meski mengalami penurunan dari sisi kuantitas, namun jumlah kabupaten dan kota yang masuk zona merah Covid-19 di Indonesia masih tergolong banyak.

Berdasarkan data yang diakses di laman covid19.go.id pada Rabu (25/8/2021), sebanyak 53 daerah masuk zona merah atau risiko tinggi penularan dan penyebaran virus corona per 22 Agustus 2021.

Ke-53 daerah yang ditetapkan sebagai zona merah Covid-19 itu antara lain Kabupaten Toba, Simalungun, Kota Medan, Bolaang Mongondow Timur, Buol, Banggai, Poso, Tolitoli, Parigi Moutong, Banggai Kepulauan, Luwu Utara.

Kemudian Wajo, Enrekang, Kota Pekanbaru, Jayawijaya, Pangkalpinang, Bulungan, Paser, Bontang, Tanah Laut, Banjarbaru, Banjar, Banjarmasin, Landak, Melawi, Kota Batu, Ponorogo, Nganjuk, Blitar, Brebes, Banyumas.

Selanjutnya, Purworejo, Cilacap, Klaten, Cianjur, Tanjung Jabung Timur, Pahuwato, Kulonprogo, Bantul, Badung, Jembrana, Klungkung, Karangasem, Kota Denpasar, Tabanan, Buleleng, Aceh Tamiang, Kota Sabang, Langsa, Pidie, Lhokseumawe, Banda Aceh, dan Aceh Besar.

Sementara jumlah kabupaten dan kota yang masuk zona oranye mencapai 343 daerah atau 66,73 persen. Sebanyak 117 daerah masuk zona kuning atau risiko rendah, dan satu zona hijau alias tidak ada kasus.

Dalam penilaiannya, Satgas menggunakan sepuluh indikator epidemiologi untuk menentukan zonasi risiko. Yakni penurunan jumlah kasus positif dan probable pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; jumlah kasus aktif pada pekan terakhir kecil atau tidak ada.

Penurunan jumlah meninggal kasus positif pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; penurunan jumlah meninggal kasus suspek pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak.

Kemudian penurunan jumlah kasus suspek yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; persentase kumulatif kasus sembuh dari seluruh kasus positif; insiden kumulatif kasus positif per 100.000 penduduk; kecepatan laju insidensi (perubahan insiden kumulatif) per 100.000 penduduk; mortality rate (angka kematian) kasus positif per 100.000 penduduk.

Selain indikator epidemiologi, Satgas juga menggunakan indikator surveilans kesehatan masyarakat dan indikator pelayanan kesehatan.

Indikator surveilans kesehatan masyarakat meliputi jumlah pemeriksaan sampel diagnosis mengikuti standar WHO yakni satu orang diperiksa per 1.000 penduduk per minggu pada level provinsi dan positivity rate rendah (target ≤5 persen sampel diagnosis positif dari seluruh kasus yang diperiksa). Hal itu merujuk pada angka provinsi.

Sementara, indikator pelayanan kesehatan meliputi rata-rata angka keterpakaian tempat tidur isolasi (% BOR TT Isolasi) dalam satu minggu terakhir pada RS rujukan Covid-19 cukup untuk menampung pasien di wilayah tersebut; rata-rata angka keterpakaian TT intensif (% BOR TT intensif) dalam satu minggu terakhir pada RS rujukan Covid-19 cukup untuk menampung pasien di wilayah tersebut.

Setiap indikator diberikan skoring dan pembobotan, lalu dijumlahkan. Hasil perhitungan dikategorisasi menjadi empat zona risiko, yaitu zona risiko tinggi 0-1.80; zona risiko sedang 1.81-2.40; zona risiko rendah 2.41-3.0; zona tidak terdampak atau tidak tercatat kasus positif; dan zona tidak ada kasus atau pernah terdapat kasus di wilayah tersebut namun tidak ada penambahan kasus baru dalam empat minggu terakhir serta angka kesembuhan mencapai lebih dari 95 persen. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya