Soal Pengecatan Pesawat Kepresidenan, Pengamat: Pemerintah Tidak Miliki Sense of Crisis
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Soal Pengecatan Pesawat Kepresidenan, Pengamat: Pemerintah Tidak Miliki Sense of Crisis

...
RILIS.ID
Jakarta
5 Agustus 2021 - 19:51 WIB
Nasional | RILISID
...
Pengamat Institute for Digital Democracy Bambang Arianto/FOTO ISTIMEWA

RILISID, Jakarta — Rencana pemerintah mengecat ulang Pesawat Kepresidenan RI A-0001 Boeing 737-8U3 (BBJ 2) terus menuai kritikan.

Setelah kritikan datang dari anggota DPR RI asal Fraksi PKS Johan Rosihan, kali ini pendapat senada juga disampaikan pengamat dari Institute for Digital Democracy Bambang Arianto.

Baca: Legislator PKS Ini Kritik Rencana Alokasi Anggaran Rp2 M untuk Pengecatan Pesawat Kepresidenan

Melalui siaran persnya yang dikirimkan ke Rilis.id, Bambang mengatakan, rencana tersebut telah menuai kontroversi dan kegaduhan terutama di media sosial. Bahkan, hingga saat ini terjadi polarasi publik, antara pihak yang mendukung dan menolak pengecatan pesawat kepresidenan tersebut.

Keterbelahan itu menurutnya lebih dikarenakan proses pengecatan pesawat akan membutuhkan biaya yang mahal. Padahal, saat ini Indonesia tengah menghadapi krisis kesehatan yaitu pandemi Covid-19.

Bambang berharap, pemerintah sejatinya harus lebih sensitif terhadap kondisi saat ini, terutama ketika sedang menghadapi krisis kesehatan global.

Ia mengatakan, meskipun rencana pengecatan ulang itu sudah dianggarkan sejak 2019, tetapi memaksakan pengecatan dengan dalih tersebut tidak elok di saat krisis kesehatan yang terjadi saat ini.

Terlebih, pengecatan ulang pesawat itu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit, yakni sekitar Rp2,1 miliar.

”Melihat fakta ini kian membuktikan, sebenarnya pemerintah tidak sensitif dan tidak memiliki sense of crisis. Dengan kata lain, pemerintah tidak peka terhadap apa yang tengah dihadapi masyarakat saat ini,” sesalnya.

Ia menambahkan, meskipun ada yang mengatakan pengecatan dilakukan bertepatan dengan pesawat tengah diservis, tapi tetap saja alasan tersebut di tengah krisis saat ini, tidak masuk akal.

”Dengan kata lain, ini bukan persoalan warna pesawat maupun sudah dianggarkan sejak 2019. Tapi, persoalan ini lebih kepada menurunnya empati pemerintah terhadap krisis kesehatan yang tengah kita hadapi,” pungkasnya.(*)

Editor : Wirahadikusumah

TAG:

Berita Lainnya

Soal Pengecatan Pesawat Kepresidenan, Pengamat: Pemerintah Tidak Miliki Sense of Crisis

...
RILIS.ID
Jakarta
5 Agustus 2021 - 19:51 WIB
Nasional | RILISID
...
Pengamat Institute for Digital Democracy Bambang Arianto/FOTO ISTIMEWA

RILISID, Jakarta — Rencana pemerintah mengecat ulang Pesawat Kepresidenan RI A-0001 Boeing 737-8U3 (BBJ 2) terus menuai kritikan.

Setelah kritikan datang dari anggota DPR RI asal Fraksi PKS Johan Rosihan, kali ini pendapat senada juga disampaikan pengamat dari Institute for Digital Democracy Bambang Arianto.

Baca: Legislator PKS Ini Kritik Rencana Alokasi Anggaran Rp2 M untuk Pengecatan Pesawat Kepresidenan

Melalui siaran persnya yang dikirimkan ke Rilis.id, Bambang mengatakan, rencana tersebut telah menuai kontroversi dan kegaduhan terutama di media sosial. Bahkan, hingga saat ini terjadi polarasi publik, antara pihak yang mendukung dan menolak pengecatan pesawat kepresidenan tersebut.

Keterbelahan itu menurutnya lebih dikarenakan proses pengecatan pesawat akan membutuhkan biaya yang mahal. Padahal, saat ini Indonesia tengah menghadapi krisis kesehatan yaitu pandemi Covid-19.

Bambang berharap, pemerintah sejatinya harus lebih sensitif terhadap kondisi saat ini, terutama ketika sedang menghadapi krisis kesehatan global.

Ia mengatakan, meskipun rencana pengecatan ulang itu sudah dianggarkan sejak 2019, tetapi memaksakan pengecatan dengan dalih tersebut tidak elok di saat krisis kesehatan yang terjadi saat ini.

Terlebih, pengecatan ulang pesawat itu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit, yakni sekitar Rp2,1 miliar.

”Melihat fakta ini kian membuktikan, sebenarnya pemerintah tidak sensitif dan tidak memiliki sense of crisis. Dengan kata lain, pemerintah tidak peka terhadap apa yang tengah dihadapi masyarakat saat ini,” sesalnya.

Ia menambahkan, meskipun ada yang mengatakan pengecatan dilakukan bertepatan dengan pesawat tengah diservis, tapi tetap saja alasan tersebut di tengah krisis saat ini, tidak masuk akal.

”Dengan kata lain, ini bukan persoalan warna pesawat maupun sudah dianggarkan sejak 2019. Tapi, persoalan ini lebih kepada menurunnya empati pemerintah terhadap krisis kesehatan yang tengah kita hadapi,” pungkasnya.(*)

Editor : Wirahadikusumah

TAG:

Berita Lainnya