Rilis Survei Indikator Politik Indonesia: 67,5 Persen Masyarakat Belum Divaksin
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Rilis Survei Indikator Politik Indonesia: 67,5 Persen Masyarakat Belum Divaksin

...
RILIS.ID
Jakarta
25 Agustus 2021 - 23:35 WIB
Nasional | RILISID
...
Tangkapan layar Rilis Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia, Rabu (25/8/2021). FOTO: Sulaiman/Rilisid Lampung.

RILISID, Jakarta — Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei perihal evaluasi publik terhadap kinerja penanganan pandemi, vaksinasi, dan peta elektoral terkini, Rabu (26/8/2021) melalui virtual.

Salah satu survei yang dilakukan adalah tentang ketidaktahuan masyarakat terhadap vaksin, seberapa besar keinginan masyarakat untuk divaksin, dan berapa banyak orang yang menolak untuk divaksin.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan, survei itu dilakukan pada 30 Juli hingga 4 Agustus 2021.

Ia menjelaskan, survei yang dilakukan menggunakan metode multistage random sampling. Jumlah sampelnya 1.220 orang, dengan margin of error sekitar 2,9 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

”Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka responden berusia 17 tahun ke atas,” jelasnya.

Burhanuddin mengungkapkan, secara umum, masyarakat yang tahu tentang program vaksinasi sebanyak 97,1 persen. Namun, menurut hasil survei, hanya 11,1 persen yang telah melakukan vaksinasi dosis kedua. Kemudian, dosis pertama 21,4 persen. Lalu, sebanyak 67,5 persen masyarakat Indonesia belum divaksin.

”Setelah saya lihat, data ini hampir sama dengan data Kemenkes. Ini sangat rendah sekali, padahal Presiden Jokowi sudah lama me-launching program vaksinasi,” katanya.

Selain itu, lanjut Burhanuddin, saat ditanya kebersediaan masyarakat untuk divaksin, 13,9 persen menyatakan sangat bersedia. Kemudian yang cukup bersedia 28,6 persen. Kurang bersedia (39,9 persen), dan yang tidak bersedia atau menolak (16,9 persen).

”Namun, dari angka masyarakat yang bersedia, persediaan vaksin dan vaksinator untuk melayani yang bersedia vaksin itu pun belum cukup,” ucapnya.

Ia memaparkan, masyarakat yang menyatakan tidak bersedia divaksin memiliki beragam alasan. Seperti takut karena ada efek samping sebanyak 51,9 persen dan tidak efektif 16,8 persen.

”Bahkan ada yang menyatakan tidak perlu vaksin karena sudah sehat ada sebanyak 12,6 persen. Ada juga yang bilang tidak halal,” pungkasnya.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara vaksin Satgas Covid-19 Pusat dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan, pihaknya memahami mengenai ketersediaan vaksin. Namun, proses vaksinasi akan dilakukan secara terus menerus.

Menurutnya, pada periode pertama dilakukan dengan cara kelompok-kelompok seperti tenaga kesehatan, usia lanjut dan pekerja publik.

”Namun, sejak Juli semua usia di atas 12 tahun,” ujarnya.

Maka, dengan adanya penambahan sasaran yakni anak di atas 12 tahun, yang semula membutuhkan 181 juta dosis vaksin, kini yang diperlukan sebanyak 208 juta dosis.

”Penambahan sasaran menjadi target yang harus kita kejar, dengan target dari presiden, 2 juta per hari,” terangnya.

Siti melanjutkan, apa yang disampaikan dalam hasil survei itu sudah sangat benar. Warga yang sudah mendapatkan dosis kedua kurang lebih 11,9 persen. Saat ini sudah 91 juta dosis yang telah disuntikan dan ada 58 juta dosis pertama.

”Namun dengan begitu, sudah ada 58 juta orang yang menerima dosis pertama atau 15,7 persen. Jadi bila dibandingkan dengan hasil survei sudah betul,” nilainya.

Siti juga menjelaskan, ketersedian vaksin di Indonesia memang tidak datang secara bersamaan. Dari kebutuhan sebanyak 426 juta dosis, baru diterima 168 juta dosis dan 130 juta dosis sudah didistribusikan.

”Animo masyarakat sangat besar, namun vaksinasi harus dilakukan secara bertahap. Ini akan menjadi catatan kami ke depannya,” janji dia.(*)

Laporan Sulaiman/Kontributor Rilisid Lampung

Editor : Wirahadikusumah

TAG:

Berita Lainnya

Rilis Survei Indikator Politik Indonesia: 67,5 Persen Masyarakat Belum Divaksin

...
RILIS.ID
Jakarta
25 Agustus 2021 - 23:35 WIB
Nasional | RILISID
...
Tangkapan layar Rilis Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia, Rabu (25/8/2021). FOTO: Sulaiman/Rilisid Lampung.

RILISID, Jakarta — Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei perihal evaluasi publik terhadap kinerja penanganan pandemi, vaksinasi, dan peta elektoral terkini, Rabu (26/8/2021) melalui virtual.

Salah satu survei yang dilakukan adalah tentang ketidaktahuan masyarakat terhadap vaksin, seberapa besar keinginan masyarakat untuk divaksin, dan berapa banyak orang yang menolak untuk divaksin.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan, survei itu dilakukan pada 30 Juli hingga 4 Agustus 2021.

Ia menjelaskan, survei yang dilakukan menggunakan metode multistage random sampling. Jumlah sampelnya 1.220 orang, dengan margin of error sekitar 2,9 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

”Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka responden berusia 17 tahun ke atas,” jelasnya.

Burhanuddin mengungkapkan, secara umum, masyarakat yang tahu tentang program vaksinasi sebanyak 97,1 persen. Namun, menurut hasil survei, hanya 11,1 persen yang telah melakukan vaksinasi dosis kedua. Kemudian, dosis pertama 21,4 persen. Lalu, sebanyak 67,5 persen masyarakat Indonesia belum divaksin.

”Setelah saya lihat, data ini hampir sama dengan data Kemenkes. Ini sangat rendah sekali, padahal Presiden Jokowi sudah lama me-launching program vaksinasi,” katanya.

Selain itu, lanjut Burhanuddin, saat ditanya kebersediaan masyarakat untuk divaksin, 13,9 persen menyatakan sangat bersedia. Kemudian yang cukup bersedia 28,6 persen. Kurang bersedia (39,9 persen), dan yang tidak bersedia atau menolak (16,9 persen).

”Namun, dari angka masyarakat yang bersedia, persediaan vaksin dan vaksinator untuk melayani yang bersedia vaksin itu pun belum cukup,” ucapnya.

Ia memaparkan, masyarakat yang menyatakan tidak bersedia divaksin memiliki beragam alasan. Seperti takut karena ada efek samping sebanyak 51,9 persen dan tidak efektif 16,8 persen.

”Bahkan ada yang menyatakan tidak perlu vaksin karena sudah sehat ada sebanyak 12,6 persen. Ada juga yang bilang tidak halal,” pungkasnya.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara vaksin Satgas Covid-19 Pusat dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan, pihaknya memahami mengenai ketersediaan vaksin. Namun, proses vaksinasi akan dilakukan secara terus menerus.

Menurutnya, pada periode pertama dilakukan dengan cara kelompok-kelompok seperti tenaga kesehatan, usia lanjut dan pekerja publik.

”Namun, sejak Juli semua usia di atas 12 tahun,” ujarnya.

Maka, dengan adanya penambahan sasaran yakni anak di atas 12 tahun, yang semula membutuhkan 181 juta dosis vaksin, kini yang diperlukan sebanyak 208 juta dosis.

”Penambahan sasaran menjadi target yang harus kita kejar, dengan target dari presiden, 2 juta per hari,” terangnya.

Siti melanjutkan, apa yang disampaikan dalam hasil survei itu sudah sangat benar. Warga yang sudah mendapatkan dosis kedua kurang lebih 11,9 persen. Saat ini sudah 91 juta dosis yang telah disuntikan dan ada 58 juta dosis pertama.

”Namun dengan begitu, sudah ada 58 juta orang yang menerima dosis pertama atau 15,7 persen. Jadi bila dibandingkan dengan hasil survei sudah betul,” nilainya.

Siti juga menjelaskan, ketersedian vaksin di Indonesia memang tidak datang secara bersamaan. Dari kebutuhan sebanyak 426 juta dosis, baru diterima 168 juta dosis dan 130 juta dosis sudah didistribusikan.

”Animo masyarakat sangat besar, namun vaksinasi harus dilakukan secara bertahap. Ini akan menjadi catatan kami ke depannya,” janji dia.(*)

Laporan Sulaiman/Kontributor Rilisid Lampung

Editor : Wirahadikusumah

TAG:

Berita Lainnya