Luhut Mengaku Tak Ambil Keuntungan Pribadi dari Bisnis PCR PT GSI
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Luhut Mengaku Tak Ambil Keuntungan Pribadi dari Bisnis PCR PT GSI

...
RILIS.ID
Jakarta
4 November 2021 - 8:30 WIB
Nasional | RILISID
...
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan. Ilustrasi: Rilisid/Kalbi Rikardo

RILISID, Jakarta — Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan buka suara terkait dugaan keterlibatannya dalam bisnis polymerase chain reaction (PCR).

Luhut mengakui tidak pernah mengambil keuntungan pribadi dari bisnis PCR yang dijalankan PT Genomik Solidaritas Indonesia (PT GSI).

"Saya ingin menegaskan beberapa hal lewat tulisan ini. Pertama, saya tidak pernah sedikit pun mengambil keuntungan pribadi dari bisnis yang dijalankan PT GSI," kata Luhut melalui Instagram stories akun resminya @luhut.pandjaitan, Kamis (4/11/2021).


Ia mengatakan para pemegang saham mendirikan PT GSI bukan untuk mencari keuntungan (profit).

"Sesuai namanya, Genomik Solidaritas Indonesia, memang ini adalah kewirausahaan sosial sehingga tidak sepenuhnya bisa diberikan secara gratis," lanjutnya.

Luhut mengungkapkan partisipasi Toba Bumi Energi merupakan wujud bantuan yang diinisiasi Grup Indika, Adaro, Northstar dan lainnya.

Perusahaan di atas, masih kata Luhut, bersepakat membantu penyediaan fasilitas tes Covid-19 dengan kapasitas yang besar.

"Bantuan melalui perusahaan tersebut merupakan upaya keterbukaan yang dilakukan sejak awal," klaimnya.

"Kenapa saya tidak menggunakan nama yayasan? Karena memang bantuan yang tersedia berada dari perusahaan. Dan memang tidak ada yang saya sembunyikan di situ," sambung Luhut.

Ia menegaskan bahwa sampai saat ini tidak ada pembagian keuntungan. Baik dalam bentuk deviden maupun dalam bentuk lain kepada pemegang saham.

"Keuntungan GSI justru banyak digunakan untuk memberikan tes swab gratis kepada masyarakat yang kurang mampu dan tenaga kesehatan di garda terdepan, termasuk di RSDC Wisma Atlet," tuturnya.

Luhut juga mengaku acapkali mendorong agar harga tes PCR bisa diturunkan sehingga dapat terus menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

"Pemberlakuan aturan PCR yang kemarin, karena saya melihat adanya peningkatan risiko penularan akibat peningkatan mobilitas di Jawa-Bali dan penurunan disiplin protokol kesehatan," ucapnya.

Lebih lanjut, Luhut berujar bahwa dirinya tidak terbiasa untuk melaporkan atau menunjukkan segala bentuk perbuatan yang bersifat donasi.

"Karena bagi saya jika tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu. Namun, saya berkesimpulan harus menjelaskan dengan detail sesuai fakta yang ada dikarenakan ada disinformasi yang efeknya tidak hanya menimbulkan kegaduhan tetapi juga memunculkan ketakutan bagi mereka yang punya niat tulus dan semangat solidaritas tinggi untuk melihat negeri ini bangkit lalu pulih dari pandemi," tambahnya.

Terakhir, Luhut berharap agar semangat solidaritas yang digalang beberapa pihak untuk menanggulangi pandemi bisa bermanfaat bagi pulihnya NKRI.

"Dan bukankah itu semua harapan kita bersama selama ini," tutupnya.

Sebelumnya, nama Luhut dan Menteri BUMN Erick Thohir diduga ikut terlibat dalam bisnis PCR seperti dilaporkan Majalah Tempo edisi 1-7 November 2021 dengan cover berjudul "Para Penikmat Cuan PCR". (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Luhut Mengaku Tak Ambil Keuntungan Pribadi dari Bisnis PCR PT GSI

...
RILIS.ID
Jakarta
4 November 2021 - 8:30 WIB
Nasional | RILISID
...
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan. Ilustrasi: Rilisid/Kalbi Rikardo

RILISID, Jakarta — Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan buka suara terkait dugaan keterlibatannya dalam bisnis polymerase chain reaction (PCR).

Luhut mengakui tidak pernah mengambil keuntungan pribadi dari bisnis PCR yang dijalankan PT Genomik Solidaritas Indonesia (PT GSI).

"Saya ingin menegaskan beberapa hal lewat tulisan ini. Pertama, saya tidak pernah sedikit pun mengambil keuntungan pribadi dari bisnis yang dijalankan PT GSI," kata Luhut melalui Instagram stories akun resminya @luhut.pandjaitan, Kamis (4/11/2021).


Ia mengatakan para pemegang saham mendirikan PT GSI bukan untuk mencari keuntungan (profit).

"Sesuai namanya, Genomik Solidaritas Indonesia, memang ini adalah kewirausahaan sosial sehingga tidak sepenuhnya bisa diberikan secara gratis," lanjutnya.

Luhut mengungkapkan partisipasi Toba Bumi Energi merupakan wujud bantuan yang diinisiasi Grup Indika, Adaro, Northstar dan lainnya.

Perusahaan di atas, masih kata Luhut, bersepakat membantu penyediaan fasilitas tes Covid-19 dengan kapasitas yang besar.

"Bantuan melalui perusahaan tersebut merupakan upaya keterbukaan yang dilakukan sejak awal," klaimnya.

"Kenapa saya tidak menggunakan nama yayasan? Karena memang bantuan yang tersedia berada dari perusahaan. Dan memang tidak ada yang saya sembunyikan di situ," sambung Luhut.

Ia menegaskan bahwa sampai saat ini tidak ada pembagian keuntungan. Baik dalam bentuk deviden maupun dalam bentuk lain kepada pemegang saham.

"Keuntungan GSI justru banyak digunakan untuk memberikan tes swab gratis kepada masyarakat yang kurang mampu dan tenaga kesehatan di garda terdepan, termasuk di RSDC Wisma Atlet," tuturnya.

Luhut juga mengaku acapkali mendorong agar harga tes PCR bisa diturunkan sehingga dapat terus menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

"Pemberlakuan aturan PCR yang kemarin, karena saya melihat adanya peningkatan risiko penularan akibat peningkatan mobilitas di Jawa-Bali dan penurunan disiplin protokol kesehatan," ucapnya.

Lebih lanjut, Luhut berujar bahwa dirinya tidak terbiasa untuk melaporkan atau menunjukkan segala bentuk perbuatan yang bersifat donasi.

"Karena bagi saya jika tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu. Namun, saya berkesimpulan harus menjelaskan dengan detail sesuai fakta yang ada dikarenakan ada disinformasi yang efeknya tidak hanya menimbulkan kegaduhan tetapi juga memunculkan ketakutan bagi mereka yang punya niat tulus dan semangat solidaritas tinggi untuk melihat negeri ini bangkit lalu pulih dari pandemi," tambahnya.

Terakhir, Luhut berharap agar semangat solidaritas yang digalang beberapa pihak untuk menanggulangi pandemi bisa bermanfaat bagi pulihnya NKRI.

"Dan bukankah itu semua harapan kita bersama selama ini," tutupnya.

Sebelumnya, nama Luhut dan Menteri BUMN Erick Thohir diduga ikut terlibat dalam bisnis PCR seperti dilaporkan Majalah Tempo edisi 1-7 November 2021 dengan cover berjudul "Para Penikmat Cuan PCR". (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya