Jokowi soal Kapan Corona Berakhir: Saya Ngomong Apa Adanya, Bukan Menakut-nakuti
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Jokowi soal Kapan Corona Berakhir: Saya Ngomong Apa Adanya, Bukan Menakut-nakuti

...
RILIS.ID
Jakarta
30 Juli 2021 - 13:53 WIB
Nasional | RILISID
...
Presiden Jokowi saat menyerahkan banpres produktif usaha mikro 2021 di Istana Merdeka, Jumat (30/7/2021). Foto: Tangkapan layar

RILISID, Jakarta — Sudah hampir 20 bulan pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) masuk Indonesia. Namun, kasus positif corona tak kunjung hilang dari Tanah Air hingga totalnya per kemarin mencapai 3.331.206 kasus.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun menyinggung kapan berakhirnya pandemi Covid-19 di Indonesia. Hal itu disampaikan Jokowi saat menyerahkan Bantuan Presiden (Banpres) produktif usaha mikro 2021 di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (30/7/2021).

Di hadapan penerima bantuan yang hadir di Istana Merdeka maupun secara daring, Jokowi mengaku tidak bisa memprediksi kapan berakhirnya pandemi Covid-19.

"Keadaan ini kita, saya ngomong apa adanya, bukan menakut-nakuti, tapi kasus virus corona ini akan selesai kapan WHO pun juga belum bisa memprediksi," ujarnya sebagaimana dilihat di YouTube Sekretariat Kabinet RI, Jumat (30/7).

Karena tidak bisa diprediksi, Jokowi mengaku tetap mengutamakan penanganan kesehatan dengan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 atau sebelumnya dikenal dengan nama PPKM Darurat.

"Sehingga, sekali lagi kita ini, selalu yang kita jalankan adalah sisi kesehatannya bisa kita tangani tapi sisi ekonominya juga pelan-pelan harus dijalankan," katanya.

Jokowi memahami bahwa semua sendi kehidupan masyarakat tengah terdampak Covid-19. Ia juga mengakui kondisi saat ini tidak mudah untuk dihadapi para pelaku usaha kecil, sedang, menengah, dan besar.

"Semuanya pada kondisi yang sangat-sangat tidak mudah, sangat sulit. Dan itu juga tidak hanya dirasakan oleh pengusaha-pengusaha di Indonesia saja, tetapi di seluruh dunia semuanya kondisinya sama," paparnya.

Pada kurun Januari hingga Mei, menurut Jokowi, kasus Covid-19 di Indonesia dan dunia sudah mulai mengalami penurunan. Ekonomi pun perlahan menanjak.

Namun, kemunculan varian baru Covid-19 yakni varian Delta asal India telah membuat seluruh negara kembali terdampak. Ekonomi global juga mulai menurun.

"Kita juga sama, begitu virus (varian) Delta ini muncul juga langsung kasus positif menjadi naik secara drastis," tutur Jokowi.

Untuk mengatasi keganasan varian Delta yang sudah menyebar di sebagian besar wilayah Jawa-Bali, pemerintah akhirnya memutuskan PPKM Darurat di Jawa-Bali pada 3 Juli 2021 lalu.

Menurut Jokowi, PPKM Darurat tersebut merupakan pilihan terbaik karena tidak ada jalan lain. Ini mengingat lonjakan kasus Covid-19 di Pulau Jawa dan Bali semakin tak terkendali.

"Tidak ada jalan lain saat itu, karena di Pulau Jawa dan Bali kita lihat semua titik-titik semuanya merah, tidak ada yang kuning sehingga keputusan yang sangat berat kita lakukan, yaitu dengan PPKM Darurat," ungkap mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

"Dan alhamdulillah, sekarang paling tidak bisa kita rem. Meskipun turunnya pelan-pelan tapi bisa kita rem," sambung Jokowi.

PPKM Darurat, kata Jokowi, adalah semi lockdown atau penutupan akses secara total. Ia mengaku sengaja tidak memilih lockdown seperti dilakukan Australia, Singapura dan beberapa negara lainnya.

"Kemarin yang namanya PPKM Darurat itu kan namanya semi lockdown. Itu masih semi saja saya sudah, saya masuk ke kampung, saya masuk ke daerah, semuanya menjerit minta untuk dibuka," katanya.

"Saya kira Bapak-ibu juga sama, mengalami hal yang sama. Lha kalau lockdown kita bisa bayangkan, dan itu belum juga bisa menjamin dengan lockdown itu permasalahan menjadi selesai," Jokowi menambahkan.

Oleh sebab itu, Jokowi mengajak semua pelaku usaha untuk bekerja lebih keras lagi dalam menghadapi situasi seperti ini. Bertahan dengan sekuat tenaga, meski omset turun hingga 75 persen atau separuh lebih.

"Karena kita masih berproses menuju pada vaksinasi 70 persen yang kita harapkan nanti akhir tahun ini bisa kita selesaikan, insyaallah. Kalau sudah 70 persen itu, paling tidak daya tular dari virus ini menjadi agak terhambat kalau sudah tercapai yang namanya kekebalan komunal atau herd immunity," pungkasnya. (*)

Lihat video:

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Jokowi soal Kapan Corona Berakhir: Saya Ngomong Apa Adanya, Bukan Menakut-nakuti

...
RILIS.ID
Jakarta
30 Juli 2021 - 13:53 WIB
Nasional | RILISID
...
Presiden Jokowi saat menyerahkan banpres produktif usaha mikro 2021 di Istana Merdeka, Jumat (30/7/2021). Foto: Tangkapan layar

RILISID, Jakarta — Sudah hampir 20 bulan pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) masuk Indonesia. Namun, kasus positif corona tak kunjung hilang dari Tanah Air hingga totalnya per kemarin mencapai 3.331.206 kasus.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun menyinggung kapan berakhirnya pandemi Covid-19 di Indonesia. Hal itu disampaikan Jokowi saat menyerahkan Bantuan Presiden (Banpres) produktif usaha mikro 2021 di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (30/7/2021).

Di hadapan penerima bantuan yang hadir di Istana Merdeka maupun secara daring, Jokowi mengaku tidak bisa memprediksi kapan berakhirnya pandemi Covid-19.

"Keadaan ini kita, saya ngomong apa adanya, bukan menakut-nakuti, tapi kasus virus corona ini akan selesai kapan WHO pun juga belum bisa memprediksi," ujarnya sebagaimana dilihat di YouTube Sekretariat Kabinet RI, Jumat (30/7).

Karena tidak bisa diprediksi, Jokowi mengaku tetap mengutamakan penanganan kesehatan dengan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 atau sebelumnya dikenal dengan nama PPKM Darurat.

"Sehingga, sekali lagi kita ini, selalu yang kita jalankan adalah sisi kesehatannya bisa kita tangani tapi sisi ekonominya juga pelan-pelan harus dijalankan," katanya.

Jokowi memahami bahwa semua sendi kehidupan masyarakat tengah terdampak Covid-19. Ia juga mengakui kondisi saat ini tidak mudah untuk dihadapi para pelaku usaha kecil, sedang, menengah, dan besar.

"Semuanya pada kondisi yang sangat-sangat tidak mudah, sangat sulit. Dan itu juga tidak hanya dirasakan oleh pengusaha-pengusaha di Indonesia saja, tetapi di seluruh dunia semuanya kondisinya sama," paparnya.

Pada kurun Januari hingga Mei, menurut Jokowi, kasus Covid-19 di Indonesia dan dunia sudah mulai mengalami penurunan. Ekonomi pun perlahan menanjak.

Namun, kemunculan varian baru Covid-19 yakni varian Delta asal India telah membuat seluruh negara kembali terdampak. Ekonomi global juga mulai menurun.

"Kita juga sama, begitu virus (varian) Delta ini muncul juga langsung kasus positif menjadi naik secara drastis," tutur Jokowi.

Untuk mengatasi keganasan varian Delta yang sudah menyebar di sebagian besar wilayah Jawa-Bali, pemerintah akhirnya memutuskan PPKM Darurat di Jawa-Bali pada 3 Juli 2021 lalu.

Menurut Jokowi, PPKM Darurat tersebut merupakan pilihan terbaik karena tidak ada jalan lain. Ini mengingat lonjakan kasus Covid-19 di Pulau Jawa dan Bali semakin tak terkendali.

"Tidak ada jalan lain saat itu, karena di Pulau Jawa dan Bali kita lihat semua titik-titik semuanya merah, tidak ada yang kuning sehingga keputusan yang sangat berat kita lakukan, yaitu dengan PPKM Darurat," ungkap mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

"Dan alhamdulillah, sekarang paling tidak bisa kita rem. Meskipun turunnya pelan-pelan tapi bisa kita rem," sambung Jokowi.

PPKM Darurat, kata Jokowi, adalah semi lockdown atau penutupan akses secara total. Ia mengaku sengaja tidak memilih lockdown seperti dilakukan Australia, Singapura dan beberapa negara lainnya.

"Kemarin yang namanya PPKM Darurat itu kan namanya semi lockdown. Itu masih semi saja saya sudah, saya masuk ke kampung, saya masuk ke daerah, semuanya menjerit minta untuk dibuka," katanya.

"Saya kira Bapak-ibu juga sama, mengalami hal yang sama. Lha kalau lockdown kita bisa bayangkan, dan itu belum juga bisa menjamin dengan lockdown itu permasalahan menjadi selesai," Jokowi menambahkan.

Oleh sebab itu, Jokowi mengajak semua pelaku usaha untuk bekerja lebih keras lagi dalam menghadapi situasi seperti ini. Bertahan dengan sekuat tenaga, meski omset turun hingga 75 persen atau separuh lebih.

"Karena kita masih berproses menuju pada vaksinasi 70 persen yang kita harapkan nanti akhir tahun ini bisa kita selesaikan, insyaallah. Kalau sudah 70 persen itu, paling tidak daya tular dari virus ini menjadi agak terhambat kalau sudah tercapai yang namanya kekebalan komunal atau herd immunity," pungkasnya. (*)

Lihat video:

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya