Instruksi PPKM Mikro Tahap X Terbit, Wilayah Zona Merah WFH 75 Persen
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Instruksi PPKM Mikro Tahap X Terbit, Wilayah Zona Merah WFH 75 Persen

...
RILIS.ID
JAKARTA
15 Juni 2021 - 20:39 WIB
Nasional | RILISID
...
Mendagri Tito Karnavian.FOTO DOK RILIS.ID

RILISID, JAKARTA — Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berbasis Skala Mikro (PPKM Mikro) diputuskan diperpanjang. Sejak hari ini (15/6/2021) hingga 28 Juni 2021.

Pemberlakuan pelaksanaan PPKM Mikro tahap X ini didasarkan kepada Instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Nomor 13 Tahun 2021 tentang PPKM Berbasis Mikro dan mengoptimalkan posko penanganan Covid-19 di tingkat desa dan kelurahan untuk pengendalian penyebaran Covid-19.

Beberapa ketentuan yang tertuang dalam aturan tersebut di antaranya mengatur kegiatan di tempat kerja atau perkantoran. Yakni, menerapkan work from home (WFH) 75 persen dan work from office (WFO) 25 persen untuk kabupaten/kota dengan status zona merah.

Kemudian menerapkan WFH 50 persen dan WFO 50 persen untuk kabupaten/kota zona oranye dan kuning. Serta pelaksanaan WFH dan WFO tersebut dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara lebih ketat; pengaturan waktu kerja secara bergantian; dan pada saat WFH tidak melakukan mobilisasi ke daerah lain.

Sedangkan ketentuan untuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) diputuskan untuk kabupaten/kota yang berada dalam zona kuning dan zona oranye melaksanakan KBM sesuai dengan pengaturan teknis dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dengan penerapan prokes secara lebih ketat.

Kemudian untuk kabupaten/kota yang berada dalam zona merah melaksanakan KBM secara daring (online); dan pengaturan lebih lanjutnya ditetapkan dengan peraturan daerah (perda) atau peraturan kepala daerah (perkada).

Sementara ketentuan untuk sektor esensial (usaha yang bergerak di bidang kesehatan, bahan pangan, makanan, minuman, energi, komunikasi dan teknologi informasi, keuangan, perbankan, sistem pembayaran, pasar modal, logistik, perhotelan, konstruksi, industri strategis, pelayanan dasar, utilitas publik, dan industri objek vital nasional/ tertentu, dan kebutuhan pokok masyarakat), tetap dapat beroperasi 100 persen dengan pengaturan jam operasional, kapasitas, dan penerapan prokes secara lebih ketat.

Pada instruksi mendagri yang dikutip dari laman setkab.go.id itu juga mengatur pemberlakuan pembatasan pada kegiatan restoran (makan/minum di tempat) sebesar 50 persen dan untuk layanan makanan pesan-antar/dibawa pulang tetap diizinkan sesuai jam operasional restoran dengan penerapan prokes lebih ketat.

Selanjutnya, pembatasan jam operasional untuk pusat perbelanjaan/mal sampai dengan pukul 21.00 dengan penerapan prokes lebih ketat, disertai pembatasan kapasitas pengunjung sebesar 50 persen.

Sedangkan kegiatan konstruksi dapat beroperasi 100 persen dengan penerapan prokes lebih ketat.

Lalu, ketentuan untuk tempat ibadah yakni untuk kabupaten/kota selain pada zona merah diizinkan untuk dilaksanakan dengan pembatasan kapasitas sebesar 50 persen dengan penerapan prokes lebih ketat; dan pada zona merah dibatasi secara ketat dan lebih mengoptimalkan pelaksanaan ibadah di rumah.

Kemudian, kegiatan fasilitas umum diizinkan dibuka, dengan pembatasan kapasitas maksimal 50 persen yang pengaturannya ditetapkan dengan peraturan daerah (perda) atau perkada.

Selain itu, kegiatan seni, sosial, dan budaya yang dapat menimbulkan kerumunan, diizinkan dibuka maksimal 25 persen dengan penerapan prokes secara lebih ketat. Dan dilakukan pengaturan kapasitas dan jam operasional transportasi umum oleh pemerintah daerah (pemda) masing-masing.

Pelaksanaan PPKM Mikro yang dilakukan bersamaan dengan PPKM kabupaten/kota itu dapat disesuaikan dengan zonasi risiko wilayah.

Cakupan pengaturan pemberlakuan pembatasan meliputi provinsi dan kabupaten/kota yang memenuhi unsur tingkat kematian di atas rata-rata tingkat kematian nasional; tingkat kesembuhan di bawah rata-rata tingkat kesembuhan nasional; tingkat kasus aktif di atas rata-rata tingkat kasus aktif nasional; tingkat BOR untuk ICU dan ruang isolasi di atas 70 persen; dan positivity rate di atas 5 persen.

Untuk mencegah terjadinya peningkatan penularan Covid-19 pada hari libur Tahun 2021, maka gubernur dan bupati/wali kota harus mensosialisasikan PPKM Mikro kepada warga yang berada di wilayahnya dan apabila terdapat pelanggaran maka diberikan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kemudian, agar lebih mengintensifkan penegakan prokes 5M yaitu menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas; serta melakukan penguatan terhadap 3T yakni testingtracing, dan treatment dengan menyiapkan dan memantau ketersediaan tempat isolasi dan karantina. Juga harus mengoptimalkan puskesmas dalam penanganan Covid-19, khususnya dalam menjalankan 3T.

Kepala daerah juga diperintahkan harus mengantisipasi potensi kerumunan yang mungkin terjadi selama PPKM di daerah masing-masing, baik yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi, pasar, pusat perbelanjaan (mal), serta kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan yang dapat melanggar protokol kesehatan Covid-19 untuk selanjutnya dilakukan upaya pencegahan serta apabila diperlukan dilakukan penegakan hukum sesuai peraturan perundang-undangan.

Selain itu, kepala daerah harus membatasi dan mengetatkan kegiatan masyarakat di fasilitas umum/ tempat wisata/taman dengan menerapkan kewajiban penerapan screening test antigen/genose untuk fasilitas berbayar/lokasi wisata indoor; menerapkan protokol kesehatan secara ketat pada fasilitas umum/lokasi wisata outdoor; dan untuk daerah pada zona oranye dan zona merah, kegiatan masyarakat di fasilitas umum/tempat wisata/taman dilarang, dan pengaturan lebih lanjut diserahkan kepada pemda berkoordinasi dengan Satgas Penanganan Covid-19 daerah.

Dalam instruksi mendagri itu juga, kepala daerah bersama Panglima Kodam selaku penanggung jawab diminta mengawasi masuknya Pekerja Migran Indonesia (PMI) melalui Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Utara dengan berkoordinasi dengan kementerian/lembaga terkait yakni Bea Cukai dan Imigrasi.(*)

Editor : Wirahadikusumah

TAG:

Berita Lainnya

Instruksi PPKM Mikro Tahap X Terbit, Wilayah Zona Merah WFH 75 Persen

...
RILIS.ID
JAKARTA
15 Juni 2021 - 20:39 WIB
Nasional | RILISID
...
Mendagri Tito Karnavian.FOTO DOK RILIS.ID

RILISID, JAKARTA — Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berbasis Skala Mikro (PPKM Mikro) diputuskan diperpanjang. Sejak hari ini (15/6/2021) hingga 28 Juni 2021.

Pemberlakuan pelaksanaan PPKM Mikro tahap X ini didasarkan kepada Instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Nomor 13 Tahun 2021 tentang PPKM Berbasis Mikro dan mengoptimalkan posko penanganan Covid-19 di tingkat desa dan kelurahan untuk pengendalian penyebaran Covid-19.

Beberapa ketentuan yang tertuang dalam aturan tersebut di antaranya mengatur kegiatan di tempat kerja atau perkantoran. Yakni, menerapkan work from home (WFH) 75 persen dan work from office (WFO) 25 persen untuk kabupaten/kota dengan status zona merah.

Kemudian menerapkan WFH 50 persen dan WFO 50 persen untuk kabupaten/kota zona oranye dan kuning. Serta pelaksanaan WFH dan WFO tersebut dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara lebih ketat; pengaturan waktu kerja secara bergantian; dan pada saat WFH tidak melakukan mobilisasi ke daerah lain.

Sedangkan ketentuan untuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) diputuskan untuk kabupaten/kota yang berada dalam zona kuning dan zona oranye melaksanakan KBM sesuai dengan pengaturan teknis dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dengan penerapan prokes secara lebih ketat.

Kemudian untuk kabupaten/kota yang berada dalam zona merah melaksanakan KBM secara daring (online); dan pengaturan lebih lanjutnya ditetapkan dengan peraturan daerah (perda) atau peraturan kepala daerah (perkada).

Sementara ketentuan untuk sektor esensial (usaha yang bergerak di bidang kesehatan, bahan pangan, makanan, minuman, energi, komunikasi dan teknologi informasi, keuangan, perbankan, sistem pembayaran, pasar modal, logistik, perhotelan, konstruksi, industri strategis, pelayanan dasar, utilitas publik, dan industri objek vital nasional/ tertentu, dan kebutuhan pokok masyarakat), tetap dapat beroperasi 100 persen dengan pengaturan jam operasional, kapasitas, dan penerapan prokes secara lebih ketat.

Pada instruksi mendagri yang dikutip dari laman setkab.go.id itu juga mengatur pemberlakuan pembatasan pada kegiatan restoran (makan/minum di tempat) sebesar 50 persen dan untuk layanan makanan pesan-antar/dibawa pulang tetap diizinkan sesuai jam operasional restoran dengan penerapan prokes lebih ketat.

Selanjutnya, pembatasan jam operasional untuk pusat perbelanjaan/mal sampai dengan pukul 21.00 dengan penerapan prokes lebih ketat, disertai pembatasan kapasitas pengunjung sebesar 50 persen.

Sedangkan kegiatan konstruksi dapat beroperasi 100 persen dengan penerapan prokes lebih ketat.

Lalu, ketentuan untuk tempat ibadah yakni untuk kabupaten/kota selain pada zona merah diizinkan untuk dilaksanakan dengan pembatasan kapasitas sebesar 50 persen dengan penerapan prokes lebih ketat; dan pada zona merah dibatasi secara ketat dan lebih mengoptimalkan pelaksanaan ibadah di rumah.

Kemudian, kegiatan fasilitas umum diizinkan dibuka, dengan pembatasan kapasitas maksimal 50 persen yang pengaturannya ditetapkan dengan peraturan daerah (perda) atau perkada.

Selain itu, kegiatan seni, sosial, dan budaya yang dapat menimbulkan kerumunan, diizinkan dibuka maksimal 25 persen dengan penerapan prokes secara lebih ketat. Dan dilakukan pengaturan kapasitas dan jam operasional transportasi umum oleh pemerintah daerah (pemda) masing-masing.

Pelaksanaan PPKM Mikro yang dilakukan bersamaan dengan PPKM kabupaten/kota itu dapat disesuaikan dengan zonasi risiko wilayah.

Cakupan pengaturan pemberlakuan pembatasan meliputi provinsi dan kabupaten/kota yang memenuhi unsur tingkat kematian di atas rata-rata tingkat kematian nasional; tingkat kesembuhan di bawah rata-rata tingkat kesembuhan nasional; tingkat kasus aktif di atas rata-rata tingkat kasus aktif nasional; tingkat BOR untuk ICU dan ruang isolasi di atas 70 persen; dan positivity rate di atas 5 persen.

Untuk mencegah terjadinya peningkatan penularan Covid-19 pada hari libur Tahun 2021, maka gubernur dan bupati/wali kota harus mensosialisasikan PPKM Mikro kepada warga yang berada di wilayahnya dan apabila terdapat pelanggaran maka diberikan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kemudian, agar lebih mengintensifkan penegakan prokes 5M yaitu menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas; serta melakukan penguatan terhadap 3T yakni testingtracing, dan treatment dengan menyiapkan dan memantau ketersediaan tempat isolasi dan karantina. Juga harus mengoptimalkan puskesmas dalam penanganan Covid-19, khususnya dalam menjalankan 3T.

Kepala daerah juga diperintahkan harus mengantisipasi potensi kerumunan yang mungkin terjadi selama PPKM di daerah masing-masing, baik yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi, pasar, pusat perbelanjaan (mal), serta kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan yang dapat melanggar protokol kesehatan Covid-19 untuk selanjutnya dilakukan upaya pencegahan serta apabila diperlukan dilakukan penegakan hukum sesuai peraturan perundang-undangan.

Selain itu, kepala daerah harus membatasi dan mengetatkan kegiatan masyarakat di fasilitas umum/ tempat wisata/taman dengan menerapkan kewajiban penerapan screening test antigen/genose untuk fasilitas berbayar/lokasi wisata indoor; menerapkan protokol kesehatan secara ketat pada fasilitas umum/lokasi wisata outdoor; dan untuk daerah pada zona oranye dan zona merah, kegiatan masyarakat di fasilitas umum/tempat wisata/taman dilarang, dan pengaturan lebih lanjut diserahkan kepada pemda berkoordinasi dengan Satgas Penanganan Covid-19 daerah.

Dalam instruksi mendagri itu juga, kepala daerah bersama Panglima Kodam selaku penanggung jawab diminta mengawasi masuknya Pekerja Migran Indonesia (PMI) melalui Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Utara dengan berkoordinasi dengan kementerian/lembaga terkait yakni Bea Cukai dan Imigrasi.(*)

Editor : Wirahadikusumah

TAG:

Berita Lainnya