Hari Santri, Ketua DPD Minta Pemerintah Tingkatkan Kepedulian Terhadap Pesantren
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Hari Santri, Ketua DPD Minta Pemerintah Tingkatkan Kepedulian Terhadap Pesantren

...
RILIS.ID
Jakarta
22 Oktober 2021 - 18:48 WIB
Nasional | RILISID
...
Ketua DPD AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. Foto: Istimewa

RILISID, Jakarta — Peringatan Hari Santri Nasional, Jumat (22/10/2021), dimaknai begitu mendalam oleh Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti.

LaNyalla meminta pemerintah meningkatkan kepedulian terhadap pondok pesantren.

Sebab, kata LaNyalla, banyak pondok pesantren yang memerlukan perhatian dari segi fasilitas.

"Saya mengucapkan selamat Hari Santri Nasional kepada seluruh santri di penjuru negeri. Saya meminta agar pemerintah meningkatkan kolaborasi dengan terus memberikan perhatian kepada kalangan santri dan lembaga-lembaga pondok yang belum dapat berkembang secara maksimal," ujarnya.

Senator asal Jawa Timur itu melanjutkan, Hari Santri Nasional tahun ini diperingati dengan jargon 'Santri Siaga Jiwa dan Raga'.

Menurutnya, jargon ini merupakan identitas nasionalisme yang dimiliki para santri di seluruh Indonesia.

"Para santri harus selalu siap siaga untuk menyerahkan jiwa dan raga guna membela Tanah Air, mempertahankan persatuan Indonesia, dan mewujudkan perdamaian dunia," ujarnya.

Sikap santri yang tertuang di dalam jargon tersebut bukan tanpa alasan. Menurut LaNyalla, sikap ini dimiliki santri sejak zaman sebelum bangsa Indonesia merdeka.

"Sikap ini yang mengantarkan kalangan santri dan ulama berjuang mengusir penjajah. Komitmen yang membanggakan ini harus selalu menjadi kekuatan para santri di dalam eksistensinya membangun peradaban bangsa," tegasnya.

Hanya saja, kehidupan santri di pondok-pondok pesantren banyak yang hidup dalam kondisi yang minim fasilitas. Banyak pondok-pondok pesantren yang butuh perhatian pemerintah dari segi fasilitas.

"Utamanya hal-hal yang bersifat teknis, seperti masih minimnya fasilitas kesehatan dan akomodasi yang layak," ujar LaNyalla.

Dikatakannya, masih banyak pondok pesantren tradisional yang memberikan pengajaran terhadap para santri dengan berbagai keterbatasan.

Selain minimnya fasilitas pendidikan berupa ketersediaan kitab-kitab, fasilitas pondokan serta sanitasi lingkungan juga jauh dari kata cukup.

"Saya mendorong pemerintah untuk memberikan bantuan kitab-kitab klasik, dukungan terhadap bantuan fisik untuk kelayakan pondokan serta fasilitas kesehatan," kata dia.

LaNyalla melanjutkan, penyakit yang umum diderita para santri di dalam pondok tradisional adalah gatal-gatal atau penyakit Scabies.

"Penyakit ini banyak dialami oleh santri di seluruh Indonesia," tutur dia.

Menurutnya, penyakit ini kemungkinan disebabkan oleh minimnya fasilitas pondok.

"Pemerintah sudah selayaknya memikirkan dan mendukung pendidikan pondok untuk meningkatkan kualitas hidup para santri," pungkasnya. (*)

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Hari Santri, Ketua DPD Minta Pemerintah Tingkatkan Kepedulian Terhadap Pesantren

...
RILIS.ID
Jakarta
22 Oktober 2021 - 18:48 WIB
Nasional | RILISID
...
Ketua DPD AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. Foto: Istimewa

RILISID, Jakarta — Peringatan Hari Santri Nasional, Jumat (22/10/2021), dimaknai begitu mendalam oleh Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti.

LaNyalla meminta pemerintah meningkatkan kepedulian terhadap pondok pesantren.

Sebab, kata LaNyalla, banyak pondok pesantren yang memerlukan perhatian dari segi fasilitas.

"Saya mengucapkan selamat Hari Santri Nasional kepada seluruh santri di penjuru negeri. Saya meminta agar pemerintah meningkatkan kolaborasi dengan terus memberikan perhatian kepada kalangan santri dan lembaga-lembaga pondok yang belum dapat berkembang secara maksimal," ujarnya.

Senator asal Jawa Timur itu melanjutkan, Hari Santri Nasional tahun ini diperingati dengan jargon 'Santri Siaga Jiwa dan Raga'.

Menurutnya, jargon ini merupakan identitas nasionalisme yang dimiliki para santri di seluruh Indonesia.

"Para santri harus selalu siap siaga untuk menyerahkan jiwa dan raga guna membela Tanah Air, mempertahankan persatuan Indonesia, dan mewujudkan perdamaian dunia," ujarnya.

Sikap santri yang tertuang di dalam jargon tersebut bukan tanpa alasan. Menurut LaNyalla, sikap ini dimiliki santri sejak zaman sebelum bangsa Indonesia merdeka.

"Sikap ini yang mengantarkan kalangan santri dan ulama berjuang mengusir penjajah. Komitmen yang membanggakan ini harus selalu menjadi kekuatan para santri di dalam eksistensinya membangun peradaban bangsa," tegasnya.

Hanya saja, kehidupan santri di pondok-pondok pesantren banyak yang hidup dalam kondisi yang minim fasilitas. Banyak pondok-pondok pesantren yang butuh perhatian pemerintah dari segi fasilitas.

"Utamanya hal-hal yang bersifat teknis, seperti masih minimnya fasilitas kesehatan dan akomodasi yang layak," ujar LaNyalla.

Dikatakannya, masih banyak pondok pesantren tradisional yang memberikan pengajaran terhadap para santri dengan berbagai keterbatasan.

Selain minimnya fasilitas pendidikan berupa ketersediaan kitab-kitab, fasilitas pondokan serta sanitasi lingkungan juga jauh dari kata cukup.

"Saya mendorong pemerintah untuk memberikan bantuan kitab-kitab klasik, dukungan terhadap bantuan fisik untuk kelayakan pondokan serta fasilitas kesehatan," kata dia.

LaNyalla melanjutkan, penyakit yang umum diderita para santri di dalam pondok tradisional adalah gatal-gatal atau penyakit Scabies.

"Penyakit ini banyak dialami oleh santri di seluruh Indonesia," tutur dia.

Menurutnya, penyakit ini kemungkinan disebabkan oleh minimnya fasilitas pondok.

"Pemerintah sudah selayaknya memikirkan dan mendukung pendidikan pondok untuk meningkatkan kualitas hidup para santri," pungkasnya. (*)

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya