Ditolak Negara Sendiri, Vaksin Nusantara Mulai Dilirik Luar Negeri, Turki Pesan 5,2 Juta Dosis
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Ditolak Negara Sendiri, Vaksin Nusantara Mulai Dilirik Luar Negeri, Turki Pesan 5,2 Juta Dosis

...
RILIS.ID
Jakarta
27 Agustus 2021 - 23:30 WIB
Nasional | RILISID
...
Ilustrasi: Rilisid/Kalbi

RILISID, Jakarta — Meski tidak mendapat dukungan dari pemerintah Indonesia, vaksin Nusantara gagasan dokter Terawan Agus Putranto mulai dilirik sejumlah negara sahabat. Salah satunya adalah Turki.

Guru Besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekular Universitas Airlangga (Unair) Profesor Chairul Anwar Nidom membenarkan hal itu.

Menurut Nidom, pemerintah Turki rencananya membeli vaksin Nusantara yang digagas mantan Menteri Kesehatan RI itu dengan total pesanan 5,2 juta dosis.

"Yang jelas, memang luar negeri sudah ada yang minat. Saya dapat informasi dari dokter Terawan Agus Putranto (penggagas vaksin Nusantara) bahwa ada keinginan dari Turki membeli vaksin Nusantara," katanya dikutip dari Antara, Jumat (27/8/2021).

Bahkan, lanjut Nidom, pemerintah Turki menawarkan uji klinik fase 3 vaksin Nusantara dilakukan di negara mereka.

"Untuk Turki, vaksin Nusantara ini justru menguntungkan, karena terus terang bahwa vaksin Nusantara ini dari aspek risiko toksisitas (keracunan), faktor sosial agama itu kan enggak ada masalah," terangnya.

"Jadi kalau dia bisa menangkap itu, paling tidak negara Islam akan dikaver sama Turki," sambung Nidom.

Lebih lanjut, Nidom mengklaim vaksin Nusantara merupakan potensi bagi Indonesia dari aspek ekonomi, berkat terobosan baru dalam teknologi kesehatan dari sebuah vaksin yang sudah berumur 300 tahun itu.

Berdasarkan pengamatan aspek sains, Nidom juga mengklaim, pada saat uji klinik fase 1 dan 2 pada relawan tidak ditemukan adanya masalah. Bahkan, para relawan merasa lebih nyaman usai disuntik vaksin yang berbasis sel dendritik itu.

"Perbedaannya, vaksin Nusantara karena sel dendritik itu tidak terjadi inflamasi, sementara vaksin yang konvensional ini akan terjadi inflamasi," kata Nidom.

Inflamasi yang dimaksud adalah kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI) yang kerap dialami peserta vaksinasi Covid-19 seperti reaksi demam, kepala pusing, bengkak, bercak kemerahan, dan sebagainya, usai seseorang menerima vaksin konvensional. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Ditolak Negara Sendiri, Vaksin Nusantara Mulai Dilirik Luar Negeri, Turki Pesan 5,2 Juta Dosis

...
RILIS.ID
Jakarta
27 Agustus 2021 - 23:30 WIB
Nasional | RILISID
...
Ilustrasi: Rilisid/Kalbi

RILISID, Jakarta — Meski tidak mendapat dukungan dari pemerintah Indonesia, vaksin Nusantara gagasan dokter Terawan Agus Putranto mulai dilirik sejumlah negara sahabat. Salah satunya adalah Turki.

Guru Besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekular Universitas Airlangga (Unair) Profesor Chairul Anwar Nidom membenarkan hal itu.

Menurut Nidom, pemerintah Turki rencananya membeli vaksin Nusantara yang digagas mantan Menteri Kesehatan RI itu dengan total pesanan 5,2 juta dosis.

"Yang jelas, memang luar negeri sudah ada yang minat. Saya dapat informasi dari dokter Terawan Agus Putranto (penggagas vaksin Nusantara) bahwa ada keinginan dari Turki membeli vaksin Nusantara," katanya dikutip dari Antara, Jumat (27/8/2021).

Bahkan, lanjut Nidom, pemerintah Turki menawarkan uji klinik fase 3 vaksin Nusantara dilakukan di negara mereka.

"Untuk Turki, vaksin Nusantara ini justru menguntungkan, karena terus terang bahwa vaksin Nusantara ini dari aspek risiko toksisitas (keracunan), faktor sosial agama itu kan enggak ada masalah," terangnya.

"Jadi kalau dia bisa menangkap itu, paling tidak negara Islam akan dikaver sama Turki," sambung Nidom.

Lebih lanjut, Nidom mengklaim vaksin Nusantara merupakan potensi bagi Indonesia dari aspek ekonomi, berkat terobosan baru dalam teknologi kesehatan dari sebuah vaksin yang sudah berumur 300 tahun itu.

Berdasarkan pengamatan aspek sains, Nidom juga mengklaim, pada saat uji klinik fase 1 dan 2 pada relawan tidak ditemukan adanya masalah. Bahkan, para relawan merasa lebih nyaman usai disuntik vaksin yang berbasis sel dendritik itu.

"Perbedaannya, vaksin Nusantara karena sel dendritik itu tidak terjadi inflamasi, sementara vaksin yang konvensional ini akan terjadi inflamasi," kata Nidom.

Inflamasi yang dimaksud adalah kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI) yang kerap dialami peserta vaksinasi Covid-19 seperti reaksi demam, kepala pusing, bengkak, bercak kemerahan, dan sebagainya, usai seseorang menerima vaksin konvensional. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya